Maleo waigeo
| Maleo waigeo
| |
|---|---|
| Aepypodius bruijnii | |
| Status konservasi | |
| Genting | |
| IUCN | 22678559 |
| Taksonomi | |
| Kelas | Aves |
| Ordo | Galliformes |
| Famili | Megapodiidae |
| Genus | Aepypodius |
| Spesies | Aepypodius bruijnii Oustalet, 1880 |
| Distribusi | |
| Endemik | Pulau Waigeo, Papua dan Indonesia |
Maleo Waigeo atau kalkun sikat Bruijn (Aepypodius bruijnii) adalah spesies burung dalam famili Megapodiidae yang berukuran relatif besar. Spesies ini memiliki ciri morfologi khas berupa tubuh hitam kecokelatan dengan kulit wajah telanjang berwarna merah serta jengger merah mencolok. Bagian bawah tubuh berwarna cokelat kastanye dengan pantat merah marun. Kedua jenis kelamin tampak serupa, meskipun betina umumnya memiliki jengger lebih kecil dan tidak memiliki pial.[1]
Maleo Waigeo merupakan burung endemik Indonesia yang mendiami hutan pegunungan di Pulau Waigeo, Papua Barat. Sebagai anggota Megapodiidae, spesies ini memiliki strategi reproduksi unik yang tidak mengandalkan panas tubuh induk. Inkubasi telur memanfaatkan panas lingkungan seperti radiasi matahari atau sumber panas alami lainnya. Strategi ini umum dijumpai pada kelompok megapoda.[2]
Berbeda dengan beberapa kerabatnya yang bersarang di pantai atau area geotermal, Maleo Waigeo diduga sangat bergantung pada kondisi mikroklimatik hutan pegunungan yang stabil. Keberhasilan pengeraman telur sangat dipengaruhi oleh kestabilan suhu dan kelembapan habitat. Perubahan tutupan hutan dapat mengganggu regulasi suhu alami yang diperlukan untuk perkembangan embrio. Ketergantungan ini menjadikan spesies tersebut sensitif terhadap perubahan habitat.[3]
Populasi Maleo Waigeo menghadapi berbagai ancaman serius di alam. Perburuan, termasuk pengambilan telur, serta hilangnya habitat akibat aktivitas manusia merupakan faktor utama penurunan populasi. Selain itu, ukuran populasi yang kecil dan sebaran geografis yang terbatas memperbesar risiko kepunahan. Kondisi ini menyebabkan status konservasinya ditingkatkan menjadi Terancam Punah (Endangered) oleh IUCN sejak 2008.[4]
Fragmentasi habitat dan gangguan pada lokasi sarang juga meningkatkan kerentanan spesies ini. Hilangnya tutupan vegetasi di sekitar area pengeraman dapat memperbesar risiko predasi terhadap telur dan anakan. Struktur vegetasi yang kompleks diketahui penting bagi keberhasilan reproduksi megapoda. Oleh karena itu, pelestarian habitat hutan menjadi komponen kunci dalam upaya konservasi.[5]
Upaya konservasi yang disarankan meliputi perlindungan habitat, pemantauan populasi, serta pendekatan berbasis lokasi (site-based conservation). Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengawasan sarang juga dinilai efektif berdasarkan studi pada kerabat dekatnya. Namun, keterbatasan data biologis masih menjadi tantangan dalam perumusan strategi manajemen yang optimal. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan keberlanjutan populasi Aepypodius bruijnii di alam liar.[6]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Rosalia, Nurma; Hamidun, Marini Susanti; Dunggio, Iswan; Baderan, Dewi Wahyuni K.; Zakaria, Zuliyanto (2025-07-31). "A spatial and temporal assessment of Maleo (Macrocephalon maleo) nesting behavior and habitat preferences through integrated field and modeling approaches". Journal of Earth Kingdom. 3 (1): 18–33. doi:10.61511/jek.v3i1.2025.2031. ISSN 3024-9821.
- ↑ Halimah, Baiq Elok Salsabila; Syaputra, Meiser; Webliana, Kornelia; Wahyuningsih, Endah (2024-12-27). "EKOTIPOLOGI DAN KESESUAIAN HABITAT BERSARANG BURUNG GOSONG KAKI MERAH (Megapodius reinwardt) DI TANJUNG PASIR PULAU MOYO TAMAN NASIONAL MOYO SATONDA". AGROTEKSOS. 34 (3): 853. doi:10.29303/agroteksos.v34i3.1216. ISSN 2685-4368.
- ↑ Karim, Hadijah Azis; Najib, Nardy Noerman; Ayu, Srida Mitra; Fidel, Fidel (2023-02-17). "Characteristics of Maleo bird spawning nests (Macrocephalon maleo) in Lake Towuti, South Sulawesi, Indonesia". Biodiversitas Journal of Biological Diversity. 24 (2). doi:10.13057/biodiv/d240203. ISSN 2085-4722.
- ↑ Kumaji, Syam S; Wantogia, Misnawaty; Mohamad, Nurdin; SM, Farid; Yusuf, Daud; Baderan, Dewi Wahyuni K; Hamidun, Marini Susanti; Rahim, Sukirman; Dunggio, Iswan (2024-05-29). "Spatial Study of Maleo Bird Habitat Area Change in Sulawesi". Jurnal Biologi Tropis. 24 (2): 309–316. doi:10.29303/jbt.v24i2.6754. ISSN 2549-7863.
- ↑ Leimena, Handy Erwin Pier; Sjarmidi, Achmad; Syamsudin, Tati Suryati (2023-08-01). "IDENTIFICATION OF THE MOLUCCAN MEGAPODE (Eulipoa wallacei) NATURAL HABITAT IN HARUKU ISLAND, INDONESIA AND ITS VEGETATION COMPOSITION". BIOTROPIA. 30 (2): 158–170. doi:10.11598/btb.2023.30.2.1778. ISSN 1907-770X.
- ↑ Udin, Jihad. S.; Teguh Prawira, Wahyu; Widyanto, Adi; Ismar Widyasari, Vincentia (2025). "Optimizing site-based conservation approach to secure key species in Wallacea hotspot, Indonesia". BIO Web of Conferences. 175: 03007. doi:10.1051/bioconf/202517503007. ISSN 2117-4458.