Loi Krathong

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Loi Krathong
Thai people setting their candle-lit krathongs in the Ping river at night during Loy Krathong 2015-10 (22715933524).jpg
Floating krathong in Chiang Mai
Nama resmiLoi Krathong[butuh rujukan] (ลอยกระทง)
Dirayakan olehThailand, Laos (as Boun That Luang), northern Malaysia, Shan in Myanmar and Xishuangbanna in China,
Myanmar (as Tazaungdaing festival), Sri Lanka (as Il Poya), Cambodia (as Bon Om Touk)
JenisAsian
TanggalFull moon of the 12th Thai month
Frekuensiannual
Terkait denganTazaungdaing festival (in Myanmar), Il Poya (in Sri Lanka), Bon Om Touk (in Cambodia)

Loi Krathong adalah sebuah festival Siam ( Thailand ) yang dirayakan setiap tahun di seluruh kerajaan Thailand dan negara - negara terdekatnya ( Laos, Shan, Mon, Tanintharyi, Kelantan, Heran, dan Xishuangbana ). Nama Festival Krathong diartikan dengan " menghanyutkan keranjang", dan itu berasal dari tradisi pembuatan Krathong dan keranjang hias yang mana dialirkan di sungai.

Lai Krathong berlangsung pada malam bulan purnama di bulan ke - 12 dalam kalender tradisional Thailand, hal itu menyebabkan tanggal festival berubah setiap tahun. Dalam kalender barat, biasanya jatuh pada bulan November. Di Kota Chang Mai festival ini berlangsung selama tiga hari pada tahun 2018, berlangsung pada tanggal 21 sampai 23 November.

Di Thailand, festival ini dikenal dengan ' Loi Krathong'. Di luar thailand, festival ini dirayakan dengan nama yang berbeda, seperti di Myanmar di kenal dengan " Tazaungdaing festival", di Sri Lanka " II Full Poya" dan Kamboja " Bon Om Touk".

Menurut Royal Institute Dictionary tahun 1999 Loi berarti " mengalir" sedangkan Krathong memiliki berbagai arti, salah satunya adalah "sebuah wadah kecil yang terbuat dari daun yang dapat mengapung di atas air selama festival Loi Krathong". Krathong secara tradisional adalah wadah daun kecil yang dibuat untuk menampung sebagian kecil barang seperti hidangan tradisional Thailand ( seperti " Hor Mok" ) atau hidangan penutup . Krathong tradisional dibuat dari sepotong batang pohon pisang / tanaman Lily. Krathong modern lebih sering dibuat dari roti atau Styrofoam. Roti Krathong akan hancur setelah beberapa hari dan dapat dimakan oleh ikan.

Krathong dengan batang pisang mampu diuraikan oleh bakteri, sedangkan krathong dengan styrofoam terkadang dilarang digunakan, karena styrofoam mencemari sungai dan butuh waktu bertahun - tahun untuk terurai. Sebuah krathong di dekorasi dengan lipatan daun pisang  serta 3 dupa dan lilin. Terkadang uang logam di sertakan pula sebagai persembahan bagi roh - roh yang menghuni sungai.

Pada malam bulan purnama, orang - orang Thailand menghanyutkan krathong mereka di sungai, kanal atau kolam, sambil memanjatkan permohonan. Festival ini berasal dari ritual perdesaan kuno untuk menghormati roh - roh air. Festival Krathong di perkirakan telah di perkenalkan di Kota Chang Mai pada tahun 1947, dan sejak itu telah dimasukkan dalam budaya lokal.

Kantor-kantor pemerintah, perusahaan dan organisasi lain menghanyutkan krathong hias yang sangat besar. Karena terdapat perlombaan untuk krathong besar terbaik. Kontes keindahan adalah ciri khas dari festival ini sedangkan kembang api menjadi tambahan dalam beberapa tahun terakhir.

Loi Krathong sering di klaim telah dimulai di Kota Sukhotai oleh seorang permaisuri raja bernama Nopphamat. Meskipun begitu, sekarang diketahui bahwa kisah Nopphamat berasal dari sebuah puisi yang di tulis di periode awal Bangkok. Berdasarkan pada Raja Rama IV, tulisan yang ada pada 1863, Festival Krathong adalah festival brahmanis yang di adaptasi oleh umat Budha yang berada di Thailand untuk menghormati Pangeran Siddharta Gautama. Lilin itu untuk memuliakan Budha dengan cahaya, sementara penghanyutan krathong menyimbolkan hilangnya kebencian, kemarahan, dan kekotoran batin. Orang - orang terkadang memotong kuku atau rambut mereka dan menempatkan potongan tersebut dalam krathong sebagai simbol hilangnya dosa di masa lalu dan pikiran negatif. Banyak orang Thailand menggunakan krathong untuk berterimakasih kepada dewi air, dewi sungai gangga, bernama Phra Mae Khongkha.