Legenda Danau Lipan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Legenda ini Danau Lipan menceritakan tentang asal-muasal Danau Lipan. Danau ini terletak pada daerah Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.[1]

Ringkasan Cerita[sunting | sunting sumber]

Pada zaman dahulu kala, daerah Muara Kaman adalah laut, dengan kerajaan kuno yang berkuasa. Kerajaan tersebut menggunakan laut untuk membangun pelabuhan dan mengirim kapal ke dalam dan luar negeri. Kerajaan tersebut tidak hanya memiliki tempat bagus untuk berdagang, tetapi juga terkenal dengan Putri cantiknya. Namanya Putri Aji Berdarah Putih. Dia diberi nama panggilan "Darah Putih" karena kulitnya yang sangat putih, bahwa jika dia minum air sirih, warna merah dari air tersebut terlihat turun ke tenggorokannya.

Terdengar dengan kecantikan Putri Aji, raja Tiongkok memutuskan untuk melamar sang Putri. Dia mengumpulkan tentaranya dalam kapal - kapal besar dan berangkat ke Muara Kaman, ingin memberi kesan.Ketika Putri Aji mendengar bahwa Raja Tiongkok akan datang ke negaranya, dia bersiap-siap menyelenggarakan sebuah pesta penyambutan. Sang Raja disambut dengan perayaan yang besar, dan juga makanan, minuman, dan tarian.

Seperti yang Putri Aji antisipasikan tentang tujuan Raja Tiongkok untuk berkunjung, sang Putri menyambutnya dengan hangat. Namun, dia terkejut kejijikan ketika melihat perilaku sang Raja. Dia bahkan memakan makanan di piring langsung dari mangkoknya, tanpa menggunakan tangannya. "Huh! Raja Tiongkok berperilaku seperti binatang! Sayang sekali, saya sudah menyapa dia seperti itu", kata Putri Aji.

Setelah makan, Raja Tiongkok melamar kepada Putri Aji. Tetapi, Putri Aji, kejijikan dengan perilaku sang Raja, menolak dan berkata “Saya tidak mau menjadi permaisuri raja yang kotor dan tidak mengetahui sopan santun". Jawaban sang Putri membuat raja marah, dan dia pulang kembali ke Tiongkok.

Tetapi, sang Raja ingin pembalasan atas penghinaannya. Raja Tiongkok mengumpulkan pasukan besar-besaran dan berencana untuk menginvasi kerajaan Putri Aji dan mengambil takhta secara paksa.Putri Aji pun mengerahkan pasukannya dan bersiap untuk berperang. Ketika tentara Tiongkok tiba, pertempuran pun terjadi. Kedua sisi mengalami banyak korban jiwa, tetapi pasukan Putri Aji sisa jauh lebih sedikit dibanding dengan armada Tiongkok. Jika pertempuran berlanjut, pasukan Putri Aji akan dikalahkan, dan tidak ada yang akan dapat menghalangi Raja.

Karena tidak ada pilihan lagi, Putri Aji memutuskan untuk menggunakan kekuatannya untuk mengalahkan Raja. Dia mengambil sirih dari wadah dan mengunyahnya sambil mengucapkan sebuah mantra. "Jika kekuatan yang diwariskan oleh nenek moyang saya ini benar, maka ubahlah pinang saya menjadi lipan ganas yang akan menyerang pasukan Tiongkok", dia katakan. Setelah itu, dia memuntahkan sirih itu ke seluruh daerah. Potong - potongan sirih yang dia semburkan berubah menjadi lipan yang mulai menyerang tentara Tiongkok. Jumlah lipan pun terus meningkat, mencapai jutaan.

Ketakutan, Raja Tiongkok dan tentaranya lari ke kapal mereka dan ber evakuasi. Tetapi, para lipan tidak menghentikan serangan mereka. Mereka lompat ke kapal besar sang Raja dan menenggelamkannya, dan juga semua tentaranya bersamaan. Tempat penenggelaman kapal tersebut berubah menjadi ladang, berlimpah dengan tanaman. Air yang tersisa di daerah tersebut diberi nama "Danau Lipan'', untuk mengenang kejadian tersebut.

Makna Cerita[sunting | sunting sumber]

Jangan bersikap kasar kepada tamu dan jangan membalas dendam. Di Indonesia, sangat tidak sopan jika seseorang memakan sesuatu langsung dari wadahnya. Legenda ini mengajari siapa yang mendengarkan cerita ini untuk berperilaku baik ketika sedang makan. Selain itu, cerita ini menunjukkan bahayanya membalas dendam. Raja Tiongkok mencoba untuk membalas dendam atas egonya yang terluka dengan menyerang negara Putri Aji, tetapi cerita tersebut menunjukkan bahwa upaya tersebut tidak berhasil dan Raja Tiongkok terkalahkan. Legenda ini mengajari pembaca bahwa mereka harus tahu kapan untuk menerima kesalahan mereka dan melanjutkan hidup, bukannya bertahan untuk membalas dendam.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Cerita Rakyat Ringkas dari Kalimantan Timur : Legenda Danau Lipan". Cerita Rakyat Nusantara | Kumpulan Dongeng Anak Anak Sebelum Tidur. 2020-03-12. Diakses tanggal 2021-03-30.