Kuil Kamigamo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kuil Kamigamo
上賀茂神社
Kamigamo-1559.jpg
Informasi
Jenis Shikinaisya
Dua Puluh Dua Kuil
Yamashiro no Kuni ichinomiya
Bekas kanpeitaisha
Chokusaisha
Beppyo jinja
Didedikasikan untuk Kamowakeikaduchinomikoto
Didirikan 678
Reisai Aoi Matsuri
(Kamo no Matsuri;15 Mei)
Honden style Sangensya-Nagare-zukuri
Alamat 339 Kamigamomotoyama, Kita-ku, Kyoto, Prefektur Kyoto
Situs web www.kamigamojinja.jp/english/index.html
Shinto torii icon vermillion.svg Daftar istilah Shinto

Kuil Kamigamo (上賀茂神社 Kamigamo Jinja?) adalah sebuah tempat suci Shinto penting di tepi Sungai Kamo di utara Kyoto, dibangun pertama kali pada 678.[1] Nama resminya adalah Kuil Kamo-wakeikazuchi (賀茂別雷神社 Kamo-wakeikazuchi jinja?).[2]

Kuil ini merupakan salah satu kuil Shinto tertua di Jepang dan merupakan salah satu dari tujuh belas Monumen Bersejarah Kyoto Kuno yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Istilah Kamo-jinja dalam bahasa Jepang merupakan suatu referensi umum untuk Kuil Shimogamo dan Kuil Kamigamo, kuil Kamo yang terkait secara tradisional dengan Kyoto.[3] Kamo-jinja menjalankan fungsi melindungi Kyoto dari pengaruh jahat.[4]

Nama jinja menunjukkan keluarga Kamo dari Kami atau para dewa yang dipuja. Nama tersebut juga mengacu pada hutan dekat lingkungan kuil, yang merupakan sisa-sisa hutan primer Tadasu no Mori. Selain itu, nama kuil tersebut mengacu pada penghuni awal daerah tersebut, klan Kamo, yang banyak di antaranya tetap tinggal di dekat kuil yang secara tradisional dilayani oleh leluhur mereka.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kyoto Prefectural Government Tourism Division: Kamigamo; Iwao, Seiichi et al. (2002). Dictionnaire historique du Japon, p. 1712.
  2. ^ Richard, Ponsonby-Fane. (1964) Visiting Famous Shrines in Japan, pp. 119-175.
  3. ^ Terry, Philip. (1914). Terry's Japanese empire, p. 479.
  4. ^ Miyazaki, Makoto. "Lens on Japan: Defending Heiankyo from Demons," Daily Yomiuri. December 20, 2005.
  5. ^ Nelson, John K. (2000). Enduring Identities: The Guise of Shinto in Contemporary Japan, pp. 92-99.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]