Lompat ke isi

Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kemusuk adalah sebuah dusun yang terletak di desa/kelurahan Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Indonesia.

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]

Kemusuk seperti juga sebagian besar wilayah Kecamatan Sedayu sebelum Tahun 1946 merupakan bagian dari Kawedanan Godean (Sekarang menjadi Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman). Oleh karena itu tak mengherankan jika beberapa pihak menulis Soeharto lahir di Kemusuk, Godean, Sleman. Kemusuk dibagi ke dalam dua padukuhan yakni Kemusuk Kidul dan Kemusuk Lor.

Kemusuk juga menjadi saksi atas kekejaman Belanda pada Agresi Militer Belanda II. Belanda memburu Soeharto ke desa Kemusuk, tetapi tidak menemukannya sehingga pasukan Belanda merasa kecewa dan marah. Hingga seorang kepala keamanan kampung yang bernama Joyo Wigeno ditangkap, dan dipaksa menunjukkan lokasi persembunyian keluarga Soeharto. Siang hari persis jam tiga pada 8 Januari 1949 hari Jumat Kliwon, Belanda mengadakan pembersihan di desa Kemusuk. Setiap laki-laki, terutama pemuda yang ditemukan Belanda, ditembak mati. Pada pembersihan tersebut 23 orang pemuda ditembak mati.

Beberapa hari paska Serangan Umum 1 Maret 1949 Belanda kembali datang, dan mengepung Desa Kemusuk. Belanda kembali melakukan pembersihan yang memakan korban 202 orang termasuk termasuk 62 orang anggota Brimob yang sedang berhenti di Desa Kemusuk. Turut juga menjadi korban adalah R. Atmoprawiro, ayah kandung Probosutedjo, dan ayah tiri Soeharto. R. Atmoprawiro ditembak Belanda tepat di kepala saat sedang berlari di pematang sawah menghindari kepungan Belanda. Untuk mengenang tragedi Kemusuk maka dibangunlah monumen Setu Legi dan makam Somenggalan yang diresmikan oleh wakil presiden Soedharmono pada tanggal 1 Maret 1991.

Referensi

[sunting | sunting sumber]