Karapan sapi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Karapan sapi di Stadion Giling, Kabupaten Sumenep

Karapan sapi (bahasa Madura: Kerrabhân sapè) merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di eks Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Pada bulan November tahun 2013, penyelenggaraan Piala Presiden berganti nama menjadi Piala Gubernur.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Awal mula kerapan sapi dilatarbelakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan pertanian, sebagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan mata pencahariannya sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani khususnya dalam membajak sawah atau ladang.

Suatu Ketika seorang ulama Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur) yang memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal dengan masyarakat Madura dengan sebutan "nanggala" atau "salaga" yang ditarik dengan dua ekor sapi. Maksud awal diadakannya Karapan Sapi adalah untuk memperoleh sapi-sapi yang kuat untuk membajak sawah. Orang Madura memelihara sapi dan menggarapnya di sawah-sawah mereka sesegera mungkin. Gagasan ini kemudian menimbulkan adanya tradisi karapan sapi. Karapan sapi segera menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya khususnya setelah menjelang musim panen habis. Karapan Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi musik saronen.

Dulu dan Sekarang[sunting | sunting sumber]

Adapun perbedaan yang sangat mencolok karapan sapi tempo dulu dengan saat ini sebagai berikut :

Karapan Sapi tempo dulu[sunting | sunting sumber]

  1. terdapat ubo rampe dan ritual sebelum pelaksanaan unuk memohon keselamatan diiringi musik saronen
  2. menggunakan sapi-sapi dengan badan berukuran besar
  3. Tiap sapi dihias semeriah mungkin, Keleles dengan ukiran kayu yang indah, bendera umbul-umbul, hingga payung
  4. Tiap kelompok karapan sapi dijaga oleh seorang Penjagheh yang bertugas menjaga keselamatan sapi supaya terhindar dari kecurangan dari peserta lain, Biasanya Penjaghe didatangkan dari Ponorogo yang merupakan seorang Warok yang terkenal ahli dalam bertarung. Penjagheh dari Ponorogo kerap berdiri dan menari-nari diatas gawangan kaleles karapan sapi yang menunjukan barang siapa saja yang mengganggu sapi yang dijaganya akan berurusan dengannya. Dipilihnya seorang Penjagheh dari Ponorogo bukan tanpa alasan, selain menekan angka kecurangan juga menghindari terjadinya balas dendam peserta lain apabila penjagheh itu adalah orang Madura sendiri.

Karapan Sapi Sekarang[sunting | sunting sumber]

  1. Tidak ada Ubo rampe maupun ritual, hanya bacaan doa saja
  2. Menggunakan sapi-sapi berukuran kecil
  3. Keleles Kaerapan minimalis, tidak ada hisan yang meriah
  4. Penjaghe oleh oang Madura sendiri

Pelaksanaan Karapan Sapi[sunting | sunting sumber]

Pelaksanaan Karapan Sapi dibagi dalam empat babak, yaitu: babak pertama, seluruh sapi diadu kecepatannya dalam dua pasang untuk memisahkan kelompok menang dan kelompok kalah. Pada babak ini semua sapi yang menang maupun yang kalah dapat bertanding lagi sesuai dengan kelompoknya.

Babak kedua atau babak pemilihan kembali, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali, demikian sama halnya dengan sapi-sapi di kelompok kalah, dan pada babak ini semua pasangan dari kelompok menang dan kalah tidak boleh bertanding kembali kecuali beberapa pasang sapi yang menempati kemenangan urutan teratas di masing-masing kelompok.

Babak ke tiga atau semifinal. Pada babak ini masing-masing sapi yang menang pada masing-masing kelompok diadu kembali untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kelompok kalah. Pada babak keempat atau babak final, diadakan untuk menentukan juara I, II, dan III dari kelompok kalah.

Kritik[sunting | sunting sumber]

Karapan sapi dikritik berbagai pihak seperti Majelis Ulama Indonesia dan pemerintah daerah di Madura karena tradisi kekerasan rekeng yang dilakukan pemilik sapi. MUI Pamekasan sudah memfatwakan haram mengenai tradisi rekeng karena dinilai menyakiti sapi, dan Gubernur Jawa Timur melalui Instruksi Gubernur sudah menyatakan pelarangan tradisi rekeng. Namun tradisi ini masih berlanjut di kalangan pelaku karapan sapi.[2][3]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

  • Pacu jawi — balapan tradisional khas suku Minangkabau di Tanah Datar, Sumatra Barat
  • Mamajir — balapan tradisional khas suku Kangean di pulau Kangean, Kepulauan Kangean
  • Maen jaran — balapan tradisional khas suku Sumbawa di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
  • Pacu itiak — balapan tradisional khas suku Minangkabau di Payakumbuh, Sumatra Barat

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Karapan Sapi Piala Presiden Berubah Jadi Piala Gubernur Jatim". Diakses tanggal 30 Oktober 2013. 
  2. ^ "Dilarang Pakai Kekerasan, Pemilik Sapi Karapan Ancam Boikot". Diakses tanggal 13 September 2013. 
  3. ^ "MUI Haramkan Karapan Sapi Model "Rekeng"". Diakses tanggal 13 September 2013. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • Aneka Ragam Kesenian Sumenep, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep 2004
  • Sejarah Karapan Sapi