Kalingga (India)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kalingga adalah sebuah wilayah bersejarah di India. Wilayah ini lazimnya didefinisikan sebagai daerah pesisir timur antara Sungai Mahanadi dan Sungai Godavari, meskipun batas-batasnya berubah-ubah mengikuti luas daerah yang dikuasai para penguasanya. Wilayah inti Kalingga kini merupakan bagian terluas dari wilayah Negara Bagian Odisha dan kawasan utara dari Negara Bagian Andhra Pradesh. Keseluruhan wilayah yang pernah dikuasai Kalingga juga meliputi sebagian dari wilayah Negara Bagian Chattisgarh dan Negara Bagian Telangana saat ini.

Orang Kalingga disebut-sebut sebagai salah satu suku besar dalam wiracarita legendaris Mahabharata. Pada abad ke-3 SM, wilayah ini jatuh ke dalam kekuasaan Kemaharajaan Maurya seusai Perang Kalingga. Selanjutnya wilayah ini diperintah oleh beberapa wangsa pribumi yang raja-rajanya bergelar Kalinggadipati ("Adipati Kalingga"); wangsa-wangsa ini mencakup Mahamegawahana, Wasistha, Mathara, Pitrebakta, dan Gangga Timur. Dari masa ke masa, wilayah ini pernah pula menjadi bagian dari kemaharajaan-kemaharajaan yang lebih besar, dan perlahan-lahan kehilangan kekhasan identitas politiknya sesudah masa pemerintahan Wangsa Gangga Timur.

Bentang alam[sunting | sunting sumber]

Kalingga (India) berlokasi di India
Amarakantaka
Amarakantaka
Mouth of Godavari
Mouth of Godavari
Mouth of Mahanadi
Mouth of Mahanadi
Titik-titik terjauh Kalingga di India sekarang ini

Wilayah Kalingga lazimnya didefinisikan sebagai daerah pesisir timur di antara Sungai Mahanadi dan Sungai Godavari. Akan tetapi batas-batas wilayahnya berubah-ubah dari waktu ke waktu sepanjang sejarah.[1]

Dalam sastra India Kuno, wilayah Kalingga dikaitkan dengan Bukit Mahendragiri di Distrik Ganjam, Negara Bagian Odisha, dekat perbatasan dengan Negara Bagian Andhra Pradesh.[2]

Batas selatan Kalingga pernah membentang jauh sampai ke Sungai Krishna. Batas utaranya kadang-kadang membentang ke seberang Sungai Mahanadi sampai ke Sungai Baitarani. Wilayah Kalingga meliputi seluruh wilayah Negara Bagian Odisha sekarang ini: kawasan timur laut Odisha adalah bekas wilayah Kerajaan Utkala, dan kawasan baratnya adalah bekas wilayah Kerajaan Daksina Kosala.[3] Negeri Utkala perlahan-lahan kehilangan identitasnya dan dianggap sebagai bagian dari Kalingga.[4]

Batas Timur Kalingga adalah laut (Teluk Benggala). Batas barat Kalingga sukar untuk ditentukan, karena berubah-ubah mengikuti kekuasaan politik raja-rajanya. Akan tetapi kitab-kitab Purana menyiratkan bahwa wilayah Kalingga membentang sampai ke Perbukitan Amarakantaka di sebelah barat.[5]

Beberapa prasasti kuno menyebut-nyebut istilah "Trikalingga", yang telah ditafsirkan macam-macam. Menurut salah satu tafsiran, Trikalingga mengacu pada wilayah terluas dari Kalingga. Akan tetapi catatan-catatan Wangsa Chalukya Timur menyiratkan bahwa Kalingga dan Trikalingga adalah dua wilayah yang berbeda, karena Trikalingga adalah nama bagi daerah perbukitan di sebelah barat Kalingga.[6]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Nama wilayah ini berasal dari nama suku Kalingga. Menurut wiracarita Mahabharata, leluhur orang Kalingga masih bersaudara dengan leluhur suku-suku tetangganya, yakni orang Angga, orang Wangga, orang Pundra, dan orang Suhma.[7]

Orang Kalingga menduduki daerah luas yang membentang dari Sungai Baitarani di Odisha sampai ke Varahanandi di Distrik Visakhapatnam.[8] Ibu kotanya pada masa lampau adalah Dantakura atau Dantapura (sekarang benteng Dantavaktra dekat Srikakulam di Distrik Ganjam, yang dilalui sungai Langguliya atau Langgulini).[8]

Prasasti Hathigumpha menyiratkan bahwa seorang raja bernama Nandaraja pernah menggali sebuah waduk di tempat itu pada masa lampau. Andaikata Raja Nandaraja berasal dari Wangsa Nanda, maka agaknya wilayah Kalingga pernah dianeksasi oleh wangsa itu.[9] Tampaknya Kalingga kembali merdeka sesudah kejatuhan Nanda. Wilayah ini disebut "Calingae" dalam Indike karya Megasthenes (abad ke-3 SM):

Baik Prinas maupun Cainas (salah satu anak sungai Gangga) merupakan sungai-sungai yang dapat dilayari. Suku-suku yang mendiami tepian Sungai Gangga adalah orang Calingae, yang paling dekat dengan laut, dan lebih ke hulu orang Mandei, juga orang Malli, yang di antaranya ada Gunung Mallus, batas seluruh wilayah Sungai Gangga.

— Megasthenes fragm. XX.B. in Pliny. Hist. Nat. V1. 21.9–22. 1.[10]

Kota Raja orang Calingae disebut Parthalis. Pada raja mereka ada 60.000 prajurit pejalan kaki, 1.000 prajurit berkuda, dan 700 ekor gajah yang senantiasa berjaga-jaga dan melindunginya dari "ancaman perang."

— Megasthenes fragm. LVI. in Plin. Hist. Nat. VI. 21. 8–23. 11.[10]

Kalingga dianeksasi oleh Maharaja Maurya, Ashoka, pada abad ke-3 SM. Pusat provinsi Kalingga dalam wilayah Kemaharajaan Maurya terletak di Tosali. Sesudah Kekaisaran Maurya melemah, wilayah ini dikuasai oleh Wangsa Mahamegawahana. Raja dari wangsa ini, Karawela, menyebut dirinya Maharaja Kalinggadipati (Maharaja Adipati Kalingga).[2]

Kalingga menjadi wilayah suzerenitas Kemaharajaan Gupta pada abad ke-4 M. Sepeninggal Gupta, Kalingga diperintah oleh beberapa wangsa kecil yang raja-rajanya bergelar Kalinggadipati ("Adipati Kalingga". Di antaranya adalah Wasistha, Mathara, dan Pitrebaktas.[11]

Dari abad ke-11 sampai abad ke-15, wilayah ini diperintah oleh Wangsa Gangga Timur, yang juga bergelar Kalinggadipati. Ibu kota wangsa ini mula-mula terletak di Kalingganagara (sekarang Mukhalingam), dan kemudian berpindah ke Kataka (sekarang Cuttack) pada masa pemerintahan Anantawarman Chodagangga di abad ke-12.[12]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]