Kabanti

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kabanti adalah tradisi lisan dan tulisan yang berupa nyanyian atau syair di seluruh wilayah Kesultanan Buton. Pelantunnya disebut 'pekabanti'. Tradisi kabanti ini muncul ketika penyebaran agama Islam di Buton tengah gencar-gencarnya dan termasuk di dalamnya budaya tulis menulis. Oleh sebab itu, kabanti ditulis dengan menggunakan aksara Arab, Arab Melayu, dan Aksara Walio.[1] Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Buton terutama bagian Wakatobi pada saat itu telah menampilkan sisi kreativitas dan tingginya tingkat intelektual masyarakat tersebut dalam membentuk peradaban pada masa itu.[2]

Masyarakat Buton pada umumnya memang menempatkan syariat Islam di atas segalanya. Hal itu terlihat dari falsafah Buton, "Bolimo karo sumanamo lipu, bolimo lipu sumanamo sara, bolimo sara sumanamo agama". Maknanya adalah, "Tidak perlu diri asalkan negara tetap utuh, tidak perlu negara asalkan hukum tetap tegak, tidak perlu hukum tegak asalkan agama dilaksanakan".[3] Isi kabanti itu sendiri banyak mengambil dari syariat Islam yang kemudian digunakan selain sebagai hiburan, juga untuk menyampaikan kearifan lokal sebagai dasar karakter masyarakatnya.[4]

Secara umum, kabhanti dapat dibagi menjadi 5 jenis berdasarkan penggunaannya.

  1. Kabhanti Kantola
  2. Kabhanti Watulea
  3. Kabhanti Gambusu
  4. Kabhanti Modero
  5. Kabhanti Kusapi

Kabhanti merupakan salah satu warisan / aset budaya tanah air. Namun sayangnya kabhanti saat ini telah masuk kedalam ambang kepunahan yang diakibatkan oleh kurangnya generasi muda yang mau untuk mempelajari budaya ini serta akibat dari globalisasi yang membuat budaya ini semakin terdesak oleh perkembangan zaman. Kabhanti saat ini hanya bisa dilantunkan oleh para pelantuntun kabhanti yang telah berusia lanjut / tua yang semakin hari semakin berkurang.

Fungsi Kabanti [sunting | sunting sumber]

Dalam penggunaannya, Kabanti memiliki beberapa fungsi, yaitu:[1]

a. sebagai hiburan atau penyemangat kerja: kabanti dengan irama dan syair yang bersemangat biasa dinyanyikan saat bekerja di kebun bagi para petani, saat mendayung sampan bagi para nelayan, dan saat mendirikan bangunan bagi para buruh bangunan.

b. sebagai wadah untuk menyampaikan nasihat agama: kabanti dalam kegunaannya menyampaikan nasihat agama juga berperan dalam pembentukan karakter masyarakat Wakatobi seutuhnya, sebagai contoh kabanti untuk penghalus rasa dapat dilihat dari teks I bait ke-53 dan 54:

E ara no-sangga-ko te mia

E hoto’imani mpuu kita

Kalau kamu dicemburui orang

Berimanlah sungguh-sungguh

E te imani-’a ngku-imani

E dahani na tumpu balaa

Kalau beriman aku beriman

Tidak tahu kalau dengan datangnya bala[5]


c. sebagai pengingat suatu peristiwa. Sebagai contoh adalah ingatan kolektif mengenai batas wilayah Wanci dan Mandati yang sempat menjadi perselisihan dan tertuang dalam kabanti berikut ini:

E te wanse-mo te mandati-mo

E di Endapo nang kaselapa

Baik (orang) Wanse maupun (orang) Mandati

Di Endapo batas wilayahnya


d. sebagai pengantar tidur: menggunakan kabanti sebagai pengantar tidur anak memiliki banyak kegunaan, seperti sarana pendidikan kesusastraan bagi usia dini dan sebagai penghalus rasa karena pilihan kata-katanya. Contohnya adalah pembuka pengantar tidur di bawah ini:


E bue-bue anedo pei

E anedo te ditemba-temba

Ku ayun-ayun semasih bodoh masih harus ditimang-timang

E ku-bumue-bue nggala-ne

E mina anedo no-bahuli

Aku akan mengayun-ayunnya dulu

Sewaktu ia masih kecil

E ku-bumue-bue nggalane

E mondo-mo ku-sala te laro

Aku akan mengayun-ayunnya dulu

Sudah pernah aku menyalahi perasaanya


e. sebagai sarana transfer budaya dari satu generasi ke generasi lainnya: hal ini diterapkan dengan penggunaan kabanti dalam tradisi ritual (pakande kandea). Atau dalam acara mangania kabuena dan acara mangania nu uwe. Dalam sebuah acara, kabanti digunakan sebagai pengantar tarian adat atau bagian dari tarian. Contohnya: tari pajogi dan tari lariangi.


g. sebagai wadah menyampaikan protes sosial, contohnya pada teks I bait ke-11 hingga ke-13:

E na boha-boha-nto salimbo

E te paira na nsababu-no

Beratnya kita sekampung

Apa yang menjadi penyebabnya?

E sababu te mingku paira

E dimai-no kua iaku

Sikap apa yang menjadi penyebabnya?

Yang datangnya dariku

E no-mingku toumpa namia?

E no-awane na ngkakobea

Bagaimana sikapnya orang?

Mereka mendapatkan kebenaran

Pada lirik kabanti di atas menggambarkan situasi masyarakat yang sudah tidak lagi memperlihatkan persahabatan, melainkan saling mencurigai dan menyalahkan.[5]

Falsafah Kabanti[sunting | sunting sumber]

Jabaran pada bait-bait kabanti mengarah pada falsafah Buton, yaitu bhinci bhinciki kuli atau biasa dikenal dengan istilah sara pataanguna atau 'hukum yang empat'. Falsafah tersebut tertuang pada empat prinsip hidup masyarakat Buton: pertama, sesama manusia harus saling menghormati; Kedua, sesama manusia harus saling peduli; Ketiga, sesama manusia harus saling menyayangi; Dan terakhir, sesama manusia harus saling memuliakan. Keempat falsafah ini yang menjadi tonggak karakter masyarakat khususnya di Wakatobi dan Buton pada umumnya.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b ditindb (2015-12-17). "KABANTI". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diakses tanggal 2019-03-12. 
  2. ^ https://ugm.ac.id/id/newsPdf/9901-teliti.kabanti.raih.doktor.di.fib.ugm
  3. ^ a b "(PDF) Kearifan Lokal Pada Kabanti Masyarakat Buton dan Relevansinya dengan pendidikan Karakter | Academic Article". ResearchGate (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-03-12. 
  4. ^ alt="">, <img src="//lh4 googleusercontent com/-uFoQRxT7-3M/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAVY/WeJZv9hE9q8/s35-c/photo jpg" width="35" height="35" class="photo". "Kabanti Kaluku Panda: Rahasia Seks Orang Buton". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-03-18. Diakses tanggal 2019-03-12. 
  5. ^ a b "Kabanti Sebagai Media Pembelajaran Sastra Pada Usia Dini". Scribd. Diakses tanggal 2019-03-12.