Jeong Mong-ju

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Jeong Mong-ju

Jeong Mong-ju adalah diplomat, sasterawan dan negarawan yang hidup pada periode akhir Dinasti Goryeo. Ia dikenal sebagi tokoh yang memperkenalkan Neo-Konfusianisme kepada pemerintahan Korea. Ia juga dikenal akan kesetiaannya terhadap raja Goryeo yang membuatnya harus mengorbankan nayawanya demi dinasti yang baru.

Jeong lulus ujian kenegaraan pada usia 23 tahun dan menjadi tokoh penyebar paham Neo-Konfusianisme di Akademi Seonggyungwan pada tahun 1367. Pada saat itu, ibukota Korea terletak di Gaeseong. Bersama sama dengan beberapa tokoh sejarawan seperti Yi Saek, Jeong membantu menyebarkan ajaran-ajaran dan pelajaran tentang Neo konfusianisme yang diajarkan oleh Zhu Xi. Tulisan-tulisannya mendapat perhatian yang baik dari istana.

Selain sebagai guru, Jeong dikenal dalam upayanya sebagai diplomat yang terampil membantu Goryeo menyelesaikan berbagai permasalahan dalam negerinya. Masalah yang dihadapi Goryeo pada saat itu antara lain serangan bajak laut Jepang yang seringkali merusak daerah pesisir. Sementara itu pada tahun 1368, bangsa Tionghoa telah mengusir bangsa Mongol dan mendirikan Dinasti Ming. Walau Ming telah menggantikan Yuan sebagai penguasa, orang Mongol masih memiliki kekuatan dan masih cukup kuat untuk melakukan perlawanan balik. Hal ini membuat terjadinya perpecahan di istana Goryeo antara partai pro-Mongol dan Pro-Ming. Pada tahun 1374, Raja Gongmin wafat dan digantikan oleh Raja Shinu. Dinasti Ming belum secara resmi mengetahui tentang raja yang baru, namun orang Mongol dengan cepat mempengaruhi Goryeo untuk menentang Ming. Partai anti Ming lalu mendapat dukungan raja. Tokoh-tokoh partai yang pro-Ming disingkirkan dari kerajaan, termasuk Jeong Mong-ju. Raja Shinu bukanlah raja yang cakap dalam memerintah. Urusan politik ia serahkan kepada orang kepercayaannya, Yi In-im. Kebijakan anti Ming yang diambil Goryeo menyebabkan permasalahan. Salah satu orang utusan Ming terbunuh dalam perjalanan kembali ke Tiongkok. Goryeo mengirimkan delegasi untuk menyelesaikannya namun diusir. Akhirnya Goryeo memanggil Jeong Mong-ju untuk menyelesaikan kasus dengan Ming. Perselisihan itu berhasil diatasi oleh kelihaian diplomasi Jeong Mong-ju. Sementara itu, orang Mongol masih mengharapkan Goryeo untuk bergabung dengan mereka dalam upaya menyerang Ming lewat korea bagian utara. Goryeo tidak berhasil menyerang karena pada saat yang sama negeri itu sedang menghadapi serangan bajak laut Jepang yang telah merebut kota Gongju. Jeong Mong-ju pergi meminta bantuan dari shogun Jepang untuk bernegosiasi dengan para bajak laut. Namun upaya shogun untuk meredam bajak laut tidak begitu berhasil. Upaya pembasmian bajak laut baru berhasil dilakukan oleh dua orang tokoh militer yaitu, Jenderal Choe Yeong dan Yi Seong-gye.

Kaisar Ming tidak begitu memandang Goryeo dan meminta upeti yang terlalu besar. Pada tahun 1385 Jeong Mong-ju mengunjungi Ming dalam misi diplomatik yang meminta diadakannya perjanjian damai dan persahabatan kedua negara. Hubungan baik itu rusak pada tahun 1388 ketika Ming mencoba memperluas teritori dan merebut wilayah Goryeo bagian utara. Raja goryeo memerintahkan perlawanan terhadap Ming, namun Jenderal Yi Seong-gye, yang dikirim untuk memimpin penyerangan, berbalik arah dan menggunakan pasukannya untuk melakukan kudeta terhadap raja Goryeo. Walau Yi tidak serta merta naik ke kursi pemerintahan, Yi menginginkan Jeong untuk bergabung dengannya membangun dinasti baru. Yi menunggu persetujuan dari Jeong Mong-ju yang gigih dan tetap setia pada raja Goryeo.Yi menganggap Jeong Mong-ju merupakan batu sandungan untuk mendirikan kerajaan baru. Yi Seong-gye mengundang Jeong Mong-ju dalam sebuah pesta dan sesudahnya Jeong dieksekusi oleh lima orang suruhan Yi di Jembatan Seonjuk di Gaeseong. Jembatan tersebut kini menjadi monumen historis dengan noda-noda darah yang tidak bisa hilang. Kesetiaannya sampai mati dan jasa-jasa Jeong Mong-ju selanjutnya dihargai oleh para sarjana Konfusianis. Ia diangkat sebagai tokoh suci Konfusianis oleh Dinasti Joseon pada tahun 1517.