Lompat ke isi

Jalak bali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Jalak Bali)

Jalak bali
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Famili: Sturnidae
Genus: Leucopsar
Spesies:
L. rothschildi
Nama binomial
Leucopsar rothschildi

Jalak Bali atau Curik Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang dari suku Sturnidae yang endemik Pulau Bali, Indonesia.[2][1] Panjang tubuhnya sekitar 25 cm.[2][3] Burung ini merupakan satu-satunya spesies vertebrata endemik Bali yang masih hidup.[2] Pada tahun 1991, Jalak Bali dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali.[2]

Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910 di pantai utara Bali.[2] Nama ilmiahnya diberikan oleh ornitolog Jerman Erwin Stresemann pada tahun 1912 untuk menghormati Walter Rothschild.[2] Genus Leucopsar bersifat monotipik.[2]

Burung ini berstatus Critically Endangered menurut IUCN dan termasuk Appendix I CITES.[1][4] Populasi liarnya pernah turun hingga hanya 6 ekor pada 2001–2006,[2][5] namun kini meningkat signifikan berkat program penangkaran dan pelepasliaran.[6][5]

Taksonomi

[sunting | sunting sumber]

Jalak Bali ditempatkan dalam genus monotipik Leucopsar (dari bahasa Yunani leukos = putih + psar = jalak).[2] Analisis genetik menunjukkan hubungan terdekat dengan genus Sturnia, khususnya jalak brahminy (Sturnia pagodarum).[2][7]

Nama ilmiah lengkap: Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912. Lokasi tipe: Bubunan, pantai utara Bali.[2]

Morfologi

[sunting | sunting sumber]

Ciri-ciri morfologis jalak bali:[2][3][8]

  • Bulunya 90% berwarna putih bersih, ujung bulu sayap dan ekor berwarna hitam (lebar ±25 mm).
  • Kulit gundul di sekitar mata berwarna biru tua.
  • Paruh runcing, panjang 2–3 cm, ujung kuning kecoklatan, pangkal abu-abu kehitaman.
  • Kaki berwarna abu-abu.
  • Memiliki jambul panjang yang menjuntai (lebih panjang dan tebal pada jantan).
  • Panjang total tubuh ±25 cm, berat badan 70–115 gram (rata-rata 95–108 gram).[2][3]
Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat
Close-up kepala
Tampak samping

Perbedaan Jantan dengan Betina

[sunting | sunting sumber]

Meskipun secara umum monomorfik, terdapat perbedaan subtle:[3]

  • Kepala jantan lebih besar dan memanjang, jambul lebih panjang.
  • Tubuh jantan lebih besar dan gagah; betina lebih ramping.

Kicauan khas berupa campuran siul dengan jeda nada dan lengkingan. Burung ini sangat vokal dan terkadang meniru suara burung lain.[2] Penelitian bioakustik mencatat sekitar 15 tipe suara (10 call dan 5 song).[9]

Kicauan Jalak Bali

Perilaku dan Ekologi

[sunting | sunting sumber]

Jalak Bali bersifat diurnal dan arboreal. Di habitat alami mereka cenderung tidak mencolok dan jarang turun ke tanah kecuali untuk minum atau mencari bahan sarang.[2][10] Radius pergerakan harian 3–10 km. Aktivitas dimulai sekitar pukul 05.00–05.30 WITA dan berhenti sekitar 18.45 WITA.[10]

Mereka menyukai kebersihan: sering mandi dan melakukan preening serta berjemur.[10]

Omnivora. Makanan utama meliputi buah-buahan (Ficus, Lantana camara, Sterculia foetida, Manilkara kauki, dll.), serangga, cacing, dan nektar dari pohon Erythrina.[2][11]

Reproduksi

[sunting | sunting sumber]

Bersifat monogamus.[3] Musim kawin utama September–Mei, puncak Januari–Maret.[2][3] Jumlah telur 2–3 butir, masa inkubasi 12–16 hari, masa di sarang 22–28 hari.[2][3] Kedua induk merawat anak hingga beberapa minggu setelah meninggalkan sarang.[2]

Habitat dan Penyebaran

[sunting | sunting sumber]

Habitat alami: hutan musim dataran rendah, savana, hutan mangrove, dan tepi hutan di bawah 175 m dpl.[2][10] Penyebaran alami hanya di barat laut Bali, terutama di dalam dan sekitar Taman Nasional Bali Barat.[2][10]

Populasi introduksi terdapat di Nusa Penida sejak 2006 dan beberapa desa adat di Tabanan, Badung, serta Payangan.[6][5]

Estimasi historis:[2][10][5]

  • 1910: 300–900 ekor
  • 1984: 125–180 ekor
  • 1988: ±37 ekor
  • 1990: 12–18 ekor
  • 1998: 10–14 ekor
  • 2001–2006: hanya 6 ekor (titik terendah)

Setelah program pelepasliaran intensif:[6][5]

  • 2012: ±15 ekor di TNBB
  • 2021: ±420 ekor di TNBB
  • 2023: sekitar 600 ekor di dan sekitar TNBB

Populasi di Nusa Penida dan lokasi komunitas lain juga meningkat pada 2022–2026.[6][12]

Status Konservasi dan Upaya Pelestarian

[sunting | sunting sumber]

Status IUCN: Critically Endangered (CR) sejak 1994.[1][2] Dilindungi penuh di Indonesia sejak 1970 (PP No. 7 Tahun 1999) dan Appendix I CITES.[4]

Ancaman utama: perburuan liar untuk perdagangan burung kicau, kehilangan habitat, dan predasi.[2][6][10]

Upaya konservasi yang berjalan:[6][5]

  • Program Bali Starling Project sejak 1983
  • Pelepasliaran oleh Taman Nasional Bali Barat, BKSDA, Begawan Foundation, dan FNPF
  • Sistem “breeding loan” (peternak wajib mengembalikan 10% anak ke alam)
  • Perlindungan berbasis awig-awig masyarakat di Nusa Penida dan desa-desa di Bali
  • Penyediaan nest-box buatan

Dalam Budaya

[sunting | sunting sumber]

Jalak Bali adalah lambang fauna Provinsi Bali sejak 1991.[2] Gambarnya muncul pada koin Rupiah Indonesia:

  • Koin Rp25 tahun 1971
  • Koin Rp50 tahun 1993
  • Koin Rp200 tahun 2003–2008[13][14]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 "Leucopsar rothschildi". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2021-3. International Union for Conservation of Nature. 2021. Diakses tanggal 23 Juli 2026. {{cite web}}: ; |ref=harv tidak valid; Kutipan memiliki paramater tidak diketahui : |last-author-amp=
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 "Bali Myna (Leucopsar rothschildi)". BirdLife International Data Zone. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 Mas’ud B. 2010. Teknik Menangkarkan Burung Jalak di Rumah. Bogor: IPB Press.
  4. 1 2 Templat:CITES
  5. 1 2 3 4 5 6 "Dua Dekade, Jalak Bali dari 6 Ekor Jadi 600 Ekor". detikBali. 10 Agustus 2023. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
  6. 1 2 3 4 5 6 Squires, Tom (2023). "The road to recovery: conservation management for the Critically Endangered Bali myna shows signs of success". Oryx. doi:10.1017/S0030605323000777.
  7. "Phylogenetic relationships of starlings". Molecular Phylogenetics and Evolution. 2008.
  8. Thohari M. 1987. Gejala inbreeding dalam penangkaran satwaliar. Media Konservasi 1(4): 1-10.
  9. "Suara Jalak Bali yang Bermakna". Animalium. 5 September 2022. Diakses tanggal 23 Juli 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. 1 2 3 4 5 6 7 Alikodra, HS. 1987. Masalah pelestarian jalak bali. Media Konservasi 3(4).
  11. "Jenis-jenis tumbuhan sebagai sumber pakan Jalak Bali di Nusa Penida". Biodiversitas. 2022.
  12. "Populasi Jalak Bali berkembang pesat". Antara News Bali. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
  13. "Currency Image – Rp 200 Burung Jalak Bali". Bank Indonesia. Diakses tanggal 23 Juli 2026.
  14. "Rp50 Burung Jalak Bali 1993". Priangan Insider. 2025. Diakses tanggal 23 Juli 2026.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]