Jahanara Begum

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jahanara Begum
(جہان آرا بیگم)
Shahzadi dari Kekaisaran Mughal
Jahanara 1635.jpg
Ibu Negara Mughal
(Padshah Begum)
Periode I1631-1638
PendahuluMumtaz Mahal
PenerusRoshanara Begum
Periode II1669-1681
PendahuluRoshanara Begum
PenerusZinatun Nissa Begum
Lahir23 Maret 1614[1]
Ajmer, Rajasthan, India
Wafat16 September 1681(1681-09-16) (umur 67)
Delhi, India
Pemakaman
WangsaTimurid
Nama anumerta
Sahibat uz Zamani
AyahShah Jahan
IbuMumtaz Mahal
AgamaIslam

Jahanara Begum (23 Maret 1614 – 16 September 1681) adalah seorang putri Mughal dan Padshah Begum dari Kekaisaran Mughal antara tahun 1631 hingga 1681. Ia merupakan anak tertua dari Kaisar Shah Jahan dan istrinya, Mumtaz Mahal.[2] Sering disebut sebagai Begum Sahib (Putri dari para Putri), ia merupakan kakak dari Dara Shikoh dan Kaisar Aurangzeb.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Jahanara Begum lahir sebagai putri sulung dari Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Dia lahir sebelum ayahnya naik takhta sebagai Kaisar Mughal.

Ibunya berasal dari keluarga bangsawan Persia. Mumtaz Mahal merupakan keponakan dari Nur Jahan, nenek tiri Jahanara Begum dari pihak ayah.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Guru awalnya adalah Sati al-Nisa Khanam, saudara perempuan seorang penyair yang bernama Tahib Amuli. Sati al-Nisa Khanam menjabat sebagai sekretaris Mumtaz Mahal.

Seperti lazimnya para wanita Kekaisaran Mughal, Jahanara juga memiliki akses ke perpustakaan kakek buyutnya, Kaisar Akbar. Perpustakaan itu dipenuhi koleksi buku tentang agama dan sastra.

Dalam pendidikan agama, mentornya adalah Mullah Shah Badakshi yang juga menjadi mentor spritual dari adik lelakinya, Dara Shikoh. Jahanara memperoleh ajaran tasawuf atau yang kini dikenal dengan istilah sufisme darinya.

Orang sering menyebut Jahanara sebagai Faqirah (pertapa) karena pengabdiannya pada tasawuf.[3]

Padshah Begum[sunting | sunting sumber]

Permaisuri Mumtaz Mahal wafat pada tahun 1631. Setelah itu, Jahanara yang masih berusia 17 tahun menggantikan posisi ibunya sebagai Ibu Negara Kekaisaran Mughal. Sesuai kebiasaan Kekaisaran Mughal, Jahanara yang menjadi Ibu Negara menggunakan gelar Padshah Begum.

Pertunangan dan pernikahan adik laki-lakinya, Dara Shikoh dengan Nadira Banu Begum dapat terwujud akibat upaya Jahanara dan Sati al-Nisa Khanam. Pernikahan itu sebenarnya telah direncanakan oleh Mumtaz Mahal sebelum kematiannya.

Jahanara sangat disayangi Shah Jahan melebihi anak-anaknya yang lain. Tidak sepertinya putri kekaisaran lain, Jahanara diizinkan untuk tinggal di istananya sendiri yang berada di luar Benteng Agra.

Pada Maret 1644, Jahanara hampir meninggal karena luka bakar. Ayahnya, Shah Jahan memerintahkan sedekah dalam jumlah besar dan memanjatkan doa untuk kesembuhan sang putri. Saudaranya, Aurangzeb dan Murad Bakhsh serta pamannya, Shaista Khan kembali ke Delhi.

Setelah sembuh, Shah Jahan memberinya kemewahan yang luar biasa. Jahanara mendapat permata, perhiasan langka, serta pendapatan dari pelabuhan di Kota Surat.

Kemudian, Jahanara Begum berziarah ke Ajmer Sharif Dhargah di Ajmer, Rajasthan. Tempat itu merupakan kuil yang menjadi makam Khwaja Gharib Nawaz yang lebih dikenal dengan nama Moinuddin Chesti atau Mu'in al-Din.

Jahanara adalah perancang bazar legendaris di Delhi, India, Chandni Chowk.[4] Jahanara merancangnya pada tahun 1650. Chandni Chowk berarti "Persimpangan Cahaya Bulan".

Kekayaan[sunting | sunting sumber]

Jahanara Begum merupakan seorang putri kekaisaran yang sangat kaya. Dia mendapat warisan setengah dari total kekayaan pribadi Mumtaz Mahal. Sementara setengahnya lagi diberikan Shah Jahan kepada adik-adik Jahanara.

Jahanara memperoleh pundi-pundi kekayaan dari sejumlah desa dan kebun yang dimilikinya. Seperti yang telah disebutkan tadi, Jahanara juga mendapatkan kekayaan dari Kota Surat.

Jahanara memiliki usaha pelayaran, serupa dengan usaha yang dimiliki kedua istri kakeknya, yakni Jagat Gosaini dan Nur Jahan. Dari kapal-kapalnya, dia memiliki hubungan perdagangan Inggris dan Belanda.

Konflik suksesi[sunting | sunting sumber]

Shah Jahan sakit parah pada tahun 1657. Ini menimbulkan konflik perebutan tahta diantara keempat putranya, yaitu Dara Shikoh, Shah Suja, Aurangzeb, dan Murad Baksh. Padahal, mereka lahir dari ibu yang sama, yakni Mumtaz Mahal.

Dalam konflik suksesi ini, Jahanara Begum mendukung adik tertuanya, Dara Shikoh. Bukan hanya Jahanara, Shah Jahan juga mendukung putra sulungnya ini. Sebagai calon pewaris takhta, Dara Shikoh diberi gelar Padshahzada i Buzurg Martaba yang berarti pangeran pangkat tinggi.

Perang tak dapat terelakkan lagi. Dara Shikoh kalah dalam pertempuran melawan Aurangzeb di Dharmat serta kalah telak dalam Pertempuran Samugarh. Dia melarikan diri ke Delhi.

Jahanara menggunakan kemampuan diplomasinya untuk membantu Dara Shikoh. Aurangzeb dipandang sebagai musuh paling kuat, oleh karena itu Jahanara meyakinkan Shah Suja dan Murad Baksh agar tidak terlalu berpihak pada Aurangzeb.

Juni 1658, Aurangzeb mengepung Shah Jahan di Benteng Agra dan memaksanya menyerah tanpa syarat dengan strategi memutus rantai air. Jahanara mendatangi Aurangzeb dan mengusulkan pembagian wilayah kekaisaran untuk keempat saudaranya. Aurangzeb yang telah berselisih panjang dengan Dara Shikoh menolak usulan Jahanara. Alasannya dia menganggap Dara Shikoh adalah seorang kafir.

Padshah Begum II[sunting | sunting sumber]

Setelah kematian Shah Jahan, Jahanara berdamai dengan Aurangzeb. Dia kembali menjabat sebagai Padshah Begum setelah sebelumnya jabatan itu sempat dipegang oleh adik perempuannya, Roshanara Begum, selama satu dekade lebih.

Gelar[sunting | sunting sumber]

  • Begum Sahib
    arti: Putri Para Putri
    Diberikan oleh Shah Jahan.
  • Sahibat uz Zamani/Sahibat al-Zamani
    arti: Nyonya Zaman
    Diberikan oleh Aurangzeb sebagai gelar anumerta.

Gelar Jabatan:

  • Padshah Begum/Padishah Begum
    arti: Nyonya Kaisar
    Gelar yang diberikan kepada pemegang jabatan Ibu Negara Kekaisaran Mughal.

Karya[sunting | sunting sumber]

  • Mu'nis al-Arwāh
    biografi Syekh Mu'īn al-Dīn
  • Risālah-i Sāhibīyah
    biografi Mullah Syah

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Jalaluddin Muhammad
(Akbar e Azam)
Nuruddin Muhammad Salim
(Jahangir)
Mariam uz Zamani
Shahabuddin Muhammad Khurram
(Shah Jahan)
Udai Singh Rathore, Raja Marwar
Manavati Baiji Lall Sahiba
(Jagat Gosain)
Manrang Devi
Jahanara Begum
Mirza Ghiyas Beg
(I'timadud Daulah)
Abu'l Hasan, Asaf Khan
Asmat Begum
Arjumand Banu Begum
(Mumtaz Mahal)
Khwaja Ghiasuddin
Diwanji Begum

Rumor[sunting | sunting sumber]

François Bernier, seorang dokter asal Prancis di Istana Mughal menceritakan hubungan antara Jahanara dan ayahnya, Shah Jahan. Ini kemudian memunculkan "Rumor Bazaar".

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lal, K.S. (1988). The Mughal harem. New Delhi: Aditya Prakashan. hlm. 90. ISBN 9788185179032. 
  2. ^ "Begum, Jahan Ara (1613-1683)". Web.archive.org. 2009-04-10. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 April 2009. Diakses tanggal 2016-01-11. 
  3. ^ "Jahanara Begum: A Powerful Mughal Queen". Feminism In India. June 1, 2018. Diakses tanggal 19 Februari 2021. 
  4. ^ Pal, Sanchari (May 24, 2019). "Jahanara Begum: The Forgotten Mughal Princess Who Designed Chandni Chowk". The Better India. Diakses tanggal 18 Februari 2021.