Lompat ke isi

Itik alabio

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tugu Itik Alabio

Itik alabio (Anas platyrhynchos Borneo) merupakan salah satu itik lokal Indonesia. Itik alabio berasal dari desa Mamar, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Itik yang merupakan salah satu plasma nuftah Kalimantan Selatan ini dikenal sebagai tipe itik petelur unggul. Itik alabio, ditinjau dari sejarahnya merupakan itik hasil perkawinan antara itik asli Kalimantan dengan itik Peking.[1][2]

Karakteristik fenotipe

[sunting | sunting sumber]

Karakteristik fenotipe itik alabio terdiri atas sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Sifat kualitatif itik alabio antara lain warna bulu, pola warna bulu, kerlip bulu, warna kaki, paruh, dan kaki. Sedangkan sifat kuantitatif itik alabio antara lain bobot badan dewasa, lama produksi telur, umur pertama bertelur, puncak produksi, bobot telur, daya tunas, daya tetas, dan bobot tetas.[1][2]

Warna bulu itik alabio jantan pada leher berwarna putih keabuan, punggung berwarna abu kehitaman, dada berwarna coklat keabuan, sayap berwana hijau kebiruan, dan ekor berwarna hitam.[2]

Sedangkan warna bulu itik alabio betina pada abdomen berwarna putih; Leher, sayap sekunder dan sayap primer berwarna abu; dada, punggung, dan paha berwarna coklat.[3]

Itik alabio jantan memiliki corak warna bulu berupa hitam dan polos. Sedangkan, corak warna bulu pada itik alabio betina berwarna coklat totol-totol. Itik Alabio jantan dan betina sama-sama memiliki kerlip bulu perak dan hijau kebiruan mengkilap.[2]

Itik alabio jantan dan betina memiliki paruh dan selaput kaki berwarna kuning.[2][3]

Pembibitan

[sunting | sunting sumber]

Untuk mendapatkan itik alabio unggul yang bisa bertelur dengan baik dan lebih banyak, ada beberapa ciri yang bisa diamati, yaitu:

  • Bentuk badan dan fisik itik terlihat ramping dengan leher dan kepala yang relatif kecil, serta matanya terlihat bersinar.
  • Sayap  yang terdapat di kedua sisi rapi dan rapat. Bagian ekornya terlihat bersih, halus, tersusun baik,dan tidak kusam.
  • Kakinya terlihat kokoh untuk menopang tubuhnya.[4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 "Subihara", "Subihara"; Sudrajad, Pita (2022). Potensi Itik Asli dan Itik Lokal. Semarang: Mutiara Aksara. hlm. 19, 20. ISBN 978-623-6319-86-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 3 4 5 Sulaiman, Abrani; Rahmatullah, S. N. (2018-04-04). "KARAKTERISTIK EKSTERIOR, PRODUKSI DAN KUALITAS TELUR ITIK ALABIO (Anas platyrhynchos Borneo) DI SENTRA PETERNAKAN ITIK KALIMANTAN SELATAN". BIOSCIENTIAE. 8 (2). ISSN 2808-1838.
  3. 1 2 Maharani, Dyah; Hariyono, Dwi N. H.; Putra, Daniel D. I.; Lee, Jun-Heon; Sidadolog, Jafendi H. P. (2019-12-01). "Phenotypic characterization of local female duck populations in Indonesia". Journal of Asia-Pacific Biodiversity. 12 (4): 508–514. doi:10.1016/j.japb.2019.07.004. ISSN 2287-884X.
  4. Indonesia, Kementerian Pertanian Republik; cms-kementan. "Cara ternak itik Alabio agar bertelur banyak". Cara ternak itik Alabio agar bertelur banyak. Diakses tanggal 2025-11-06.