Inflasi Akademik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Inflasi Akademik adalah suatu keadaan dimana terjadinya peningkatan permintaan kualifikasi pendidikan formal terhadap kebutuhan lapangan kerja. Sebagai contoh, suatu profesi yang sebelumnya hanya membutuhkan minimal kualifikasi pendidikan setingkat SMA, namun saat ini membutuhkan minimal kualifikasi pendidikan setingkat S1. Meningkatnya jumlah populasi yang memiliki kualifikasi pendidikan tertentu namun di satu sisi jumlah lapangan kerja tidak memadai dan adanya perubahan sistem pada lapangan kerja memunculkan kompetisi yang menyebabkan terjadinya inflasi akademik.

Salah satu dampak dari inflasi akademik adalah meningkatnya jumlah populasi yang mengejar kualifikasi pendidikan lebih tinggi untuk dapat berkompetisi pada suatu lapangan kerja, padahal sebenarnya pendidikan tinggi tidak diperlukan untuk lapangan kerja tersebut.[1] Yang artinya, terjadi peningkatan nilai atas suatu kualifikasi pendidikan normal tertentu, namun di satu sisi terjadi penurunan nilai atas suatu kualifikasi pendidikan formal lainnya. Sebagai contoh, sebelumnya formasi PNS banyak diisi oleh lulusan SD, SMP, dan SMA, namun pada pembukaan formasi CPNS pada tahun 2017 kualifikasi pendidikan yang ditentukan adalah minimal lulusan SMA. Akan tetapi, jumlah formasi untuk SMA sangat sedikit. Pada gelombang kedua pembukaan formasi CPNS tahun 2017 terdapat 17.928 formasi, namun jumlah formasi bagi lulusan SMA kurang lebih hanya 500-600 formasi.[2] Bahkan pada tahun 2017 terdapat formasi CPNS untuk lulusan S2 dan S3, misalnya Badan Siber dan Sandi Negara (dulu Lembaga Sandi Negara) hanya membuka 26 formasi CPNS yang seluruhnya ditujukan untuk lulusan pendidikan S2 dan S3.[3] Dengan demikian, telah terjadi penurunan nilai terhadap kualifikasi pendidikan SD, SMP, dan SMA, namun terjadi peningkatan nilai terhadap kualifikasi pendidikan S2 dan S3 karena dibutuhkan pasar lapangan kerja.

Inflasi akademik terjadi karena beberapa faktor. Perkembangan teknologi menyebabkan perubahan sifat dan tanggung jawab pekerjaan menjadi lebih rumit dan membutuhkan lebih banyak pengetahuan teknis dan keterampilan berpikir kritis yang lebih kuat[4], sehingga diperlukan peningkatan kualifikasi pendidikan. Selain itu, perguruan tinggi menghasilkan jumlah lulusan yang lebih banyak daripada lapangan kerja yang tersedia, sehingga penyedia kerja lebih akan memilih pelamar kerja yang memiliki kualifikasi pendidikan lebih tinggi.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Academic Inflation". Diakses tanggal 29 April 2018. 
  2. ^ Aditiasari, Dana. "Mau Tahu Lowongan CPNS Untuk Lulusan SMA? Ini Daftarnya". detikfinance. Diakses tanggal 2018-04-29. 
  3. ^ Saputri, Maya. "Lowongan CPNS Lemsaneg 2017 Hanya untuk Lulusan S2 dan S3 - Tirto.ID". tirto.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-04-29. 
  4. ^ Rampell, Catherine (2014-09-09). "The college degree has become the new high school degree". Washington Post (dalam bahasa Inggris). ISSN 0190-8286. Diakses tanggal 2018-04-29. 
  5. ^ Pappano, Laura (2011-07-22). "The Master's as the New Bachelor's". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2018-04-29.