Hotline 500-454

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

HOTLINE 500-454 adalah saluran telepon yang memberikan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan konseling khusus tentang berbagai masalah kejiwaan dari Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Nomor telepon ini merupakan layanan konseling yang dibuka oleh Kemenkes pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10-10-2010 dan akan melayani 24 jam/hari[1].

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Program ini dilatar belakangi oleh adanya kecenderungan peningkatan angka gangguan jiwa dari tahun ke tahun. Bahkan pada tahun 2010, WHO menyatakan bahwa di Indonesia terjadi hampir 150 kematian akibat bunuh diri setiap hari yang disebabkan masalah kejiwaan[2]. Kompleksitas masalah kejiwaan ini ibarat gunung es yang hanya sedikit permukaannya saja yang terlihat di luar, namun masalah sebenarnya jauh lebih besar, yang termasuk masalah kesehatan jiwa adalah:

  • gangguan jiwa
  • masalah psikososial
  • perkembangan manusia
  • peningkatan kualitas hidup
  • suicide (bunuh diri), dan lain- lain

Tujuan[sunting | sunting sumber]

  1. Mendekatkan masyarakat dengan akses pelayanan kesehatan jiwa
  2. Memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan informasi dan layanan konseling dari Rumah Sakit Jiwa
  3. Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang berbagai masalah kejiwaan sehingga dapat berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan, khususnya kesehatan jiwa.

Manfaat dan Fungsi[sunting | sunting sumber]

  • Manfaat
  1. Sebagai sarana promosi Rumah Sakit Jiwa pemberi layanan Hotline Service
  2. Sarana pendampingan masyarakat, keluarga atau pasien yang membutuhkan konseling kesehatan jiwa melalui telepon
  3. Sarana edukasi bagi masyarakat umum untuk memperbaiki orientasi terhadap kesehatan jiwa.
  • Fungsi
  1. Memfasilitasi penyelesaian masalah klien baik individu, keluarga maupun organisasi
  2. Memberikan saran/ nasihat dan alternative jalan keluar atas satu masalah/ kebutuhan klien dan keluarga.
  3. Membantu klien untuk dapat melihat dirinya, memahami kondisi dan situasinya, melihat pilihan yang bisa dipertimbangkannya dan memutuskan untuk melakukan apa yang sesuai dengan pilihannya tetapi dengan pemahaman yang jelas bahwa selalu ada pilihan lain untuk mengatasi apapun masalah yang dihadapi. Jadi klien tidak menjadi putus asa dan mudah menyerah, namun sebaliknya selalu mempunyai harapan.

Prinsip Pelayanan[sunting | sunting sumber]

  • Non diskriminasi, artinya:
  1. Setiap masyarakat berhak atas pelayanan yang adil, tanpa membedakan jenis kelamin, agama, suku bangsa dan status yang bersangkutan
  2. Menghargai masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam mendapatkan pelayanan
  3. Menerima pasien atau masyarakat apa adanya sebagai individu yang mempunyai harga diri dan potensi kekurangan maupun kelebihan
  • Profesional, artinya adalah bahwa petugas yang bertanggung jawab terhadap pelayanan ini harus melaksanakan tugas sesuai bidangnya sehingga klien yang membutuhkan layanan memperoleh apa yang diharapkannya.
  • Komunikasi secara terbuka, maksudnya adalah bahwa komunikasi harus dibangun dengan baik dan dapat berlangsung dua arah tanpa memandang rendah individu atau klien yang berkonsultasi. Di samping itu konselor harus dapat mendudukkan klien sesuai kebutuhan pelayanannya.
  • Berorientasi pada perubahan ke arah yang lebih baik. Konseling melalui saluran ini berorientasi kepada hasil pemecahan masalah atau kondisi individu kearah yang lebih baik daripada sebelumnya.
  • Kerahasiaan, artinya adalah bahwa konselor harus mampu menjamin kerahasiaan identitas dan masalah individu atau klien kecuai atas izin dari klien yang bersangkutan[3].

Kompetensi Petugas Pemberi Layanan[sunting | sunting sumber]

  1. Memiliki kemampuan mendengar aktif sehingga klien leluasa untuk mengungkapkan perasaannya, pikirannya dan bertanya.
  2. Memiliki kemampuan menggali informasi sehingga petugas tidak terjebak oleh pikiran atau pengertiannya sendiri tentang masalah yang dibicarakan.
  3. Memiliki kemampuan untuk menjelaskan sesuatu dengan cara yang mudah dipahami.
  4. Memiliki kemampuan memecahkan dan mengatasi masalah sesuai situasi dan kondisi klien dengan memperhatikan kemampuan, peluang dan kendala yang ada padanya
  5. Memiliki kemampuan untuk menunjukkan empati sehingga klien merasa diperhatikan, dimengerti, didukung dan dibantu mengatasi masalahnya[4].

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://health.detik.com/read/2011/01/14/155659/1546648/763/jangan-bunuh-diri-curhat-saja-di-500-454
  2. ^ http://Kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan
  3. ^ Panduan Untuk Melakukan Penyuluhan, Bimbingan Kelompok dan Konseling, Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI,2005
  4. ^ Buku Panduan HKJS, 2010, Departemen Kesehatan:Jakarta

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. http://www.depkes.go.id/downloads/Buku%20Panduan%20HKJS__.pdf
  2. http://buk.depkes.go.id