Gympie-gympie
| Gympie-gympie | |
|---|---|
| Tumbuhan muda | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Rosales |
| Famili: | Urticaceae |
| Genus: | Dendrocnide |
| Spesies: | D. moroides |
| Nama binomial | |
| Dendrocnide moroides | |
| Peta persebaran di Australia | |
| Sinonim[2] | |
Gympie-gympie[3] (Dendrocnide moroides) adalah salah satu spesies tumbuhan dalam keluarga jelatang (Urticaceae). Tumbuhan ini ditemukan di kawasan hutan hujan di Indonesia[4] dan Australia.[5] Ia terkenal karena sengatannya yang sangat menyakitkan dan tahan lama. Nama umum "gympie-gympie" berasal dari bahasa masyarakat Pribumi Gubbi Gubbi (Bagian dari Suku Aborigin Australia) di tenggara Queensland.
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Nama genus Dendrocnide dibentuk dari bahasa Yunani Kuno δένδρον (déndron, artinya "pohon") dan κνίδος (knídos, artinya "jarum penyengat"). Julukan spesies moroides diambil dari nama latin murbei (Morus), dikombinasikan dengan akhiran Yunani -oides yang artinya "menyerupai", dikarenakan buahnya yang menyerupai murbei.[6][7] Nama binomial dapat diterjemahkan sebagai "pohon penyengat yang menyerupai murbei".[8]
Deskripsi
[sunting | sunting sumber]D. moroides adalah perdu menahun yang jarang, biasanya berbunga dan berbuah ketika tingginya kurang dari 3 m (10 kaki), tetapi dapat mencapai ketinggian hingga 10 m (33 kaki). Secara sepintas mirip dengan Dendrocnide cordifolia, dengan perbedaan yang paling jelas adalah titik perlekatan tangkai daun pada helaian daun, di mana D. moroides berbentuk peltat, yaitu tangkainya melekat pada bagian bawah daun dan bukan di tepinya, D. cordifolia berbentuk cordate. Batang, cabang, tangkai daun, daun, dan buah semuanya ditutupi oleh rambut penyengat.[5][9]
Daunnya besar, berbentuk hati, dan sederhana, panjangnya sekitar 12–22 cm (4+1⁄2–8+1⁄2 in) dan lebarnya 11–18 cm (4+1⁄2–7 in) dengan tepi bergerigi, ujung runcing, dan bentuk pangkal jantung hingga tumpul. Terdapat enam hingga delapan pasang urat lateral di kedua sisi tulang daun. Tangkai daun (petiola) cukup panjang, kira-kira sepanjang helaian daun itu sendiri, dengan daun penumpu sekitar 1–2 cm (1⁄2–3⁄4 in) panjangnya.[5][6]

Bunga majemuknya bersifat monoecious (jarang dioecious),[10] dan tumbuh di ketiak daun. Panjangnya mencapai 15 cm (6 in), seringkali berpasangan. Ia memiliki bunga jantan dan betina yang cukup kecil, selubung bunganya berukuran kurang dari 1 mm (0,04 in). Pembungaan terjadi sepanjang tahun, tetapi sebagian besar di musim panas.[5][6]
Buah spesies ini adalah buah kurung (buah kecil seperti biji), yang dihasilkan dalam jumlah banyak dalam struktur bulat yang berwarna merah muda hingga ungu muda dan memiliki penampilan yang mirip dengan murbei. Setiap buah kurung, yang berukuran hanya 2 mm (0,08 inci), terdapat dalam kantung berdaging kecil yang berasal dari tangkai bunga yang membengkak.[5][6] Seperti bagian tumbuhan lainnya, infructescence juga ditutupi oleh bulu-bulu yang menyengat, tetapi dapat dimakan jika bulu-bulunya dihilangkan.[11][12][13][14]
Taksonomi
[sunting | sunting sumber]Spesimen tipe untuk spesies ini dikumpulkan pada tahun 1819 oleh Allan Cunningham di dekat Sungai Endeavour,[5] dan pertama kali dideskripsikan pada tahun 1857 oleh Hugh Algernon Weddell sebagai Laportea moroides dalam karyanya yakni Monographie de la Famille des Urticées, yang diterbitkan dalam jurnal Archives du Muséum d'Histoire Naturelle.[15] Kombinasi binomial saat ini diterbitkan oleh Wee-Lek Chew dalam The Gardens Bulletin Singapore pada tahun 1966.[16][17]
Distribusi dan habitat
[sunting | sunting sumber]
Spesies ini terdapat di dalam dan di dekat hutan hujan, dari Semenanjung Cape York di selatan hingga New South Wales bagian utara di Australia dan juga terdapat di Indonesia (Kepulauan Maluku dan Papua).[5][6] Ia merupakan kolonis awal di celah-celah hutan hujan, seperti di sepanjang aliran air dan jalan, di sekitar pohon tumbang, dan di lahan terbuka buatan manusia.[18][19] Bijinya berkecambah di bawah sinar matahari penuh setelah gangguan tanah. Meskipun umum di Queensland, spesies ini langka di bagian paling selatan wilayah sebarannya dan terdaftar sebagai spesies genting di New South Wales.[20][21]
Ekologi
[sunting | sunting sumber]Dendrocnide moroides berfungsi sebagai tumbuhan inang bagi larva kupu-kupu nimfa putih.[5][6] Berbagai serangga memakan daunnya, di antaranya kumbang nokturnal Prasyptera mastersi dan ngengat Prorodes mimica, serta pelandu kaki merah herbivora, yang unik di antara mamalia karena tampaknya kebal terhadap neurotoksin tumbuhan ini. Buahnya dimakan oleh berbagai burung yang menyebarkan bijinya dalam kotorannya.[19]
Toksisitas
[sunting | sunting sumber]D. moroides terkenal karena sengatannya yang sangat menyakitkan yang dapat membuat korban menderita selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Tumbuhan ini dikenal sebagai tanaman urtikan paling parah di Australia.[14][18][19] Setelah kontak dengan tumbuhan ini, korban akan merasakan sensasi terbakar dan perih yang parah di tempat sengatan, yang kemudian semakin intensif selama 20 hingga 30 menit berikutnya dan akan berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari sebelum mereda.[5][19][22] Selama waktu ini, korban mungkin kurang tidur karena intensitas rasa sakitnya.[5] Dalam kasus yang parah dapat menyebabkan urtikaria (biduran), dan kelenjar getah bening di bawah lengan dapat membengkak dan menjadi nyeri,[5][19][22] dan ada beberapa kasus langka yang memerlukan rawat inap.[8][18][19][23]
Mekanisme
[sunting | sunting sumber]
Rambut-rambut yang sangat halus dan rapuh (yang disebut "trikoma") mengandung toksin dan menutupi seluruh tumbuhan, bahkan sentuhan terkecil pun akan menancapkannya ke kulit. Gambar mikrograf elektron[22][24] menunjukkan bahwa trikoma mirip dengan jarum suntik karena sangat runcing dan berongga.[25][26] Selain itu, telah ditunjukkan bahwa ada titik lemah struktural di dekat ujung rambut, yang bertindak sebagai garis patahan yang telah ditentukan sebelumnya.[13][26][27] Ketika memasuki kulit, rambut akan patah di titik ini, memungkinkan isi trikoma disuntikkan ke dalam jaringan korban.[19][22][26][28]
Trikoma tetap berada di kulit hingga satu tahun, dan melepaskan campuran racun ke dalam tubuh selama peristiwa pemicu seperti menyentuh area yang terkena, kontak dengan air, atau perubahan suhu.[13][19][25] Ernie Rider, seorang petugas konservasi di Queensland Parks and Wildlife Service,[18] terkena sengatan dedaunan di wajah dan tubuhnya pada tahun 1963, dan berkata:
Selama dua atau tiga hari nyerinya hampir tak tertahankan; saya tidak bisa bekerja atau tidur... Saya ingat rasanya seperti ada tangan raksasa yang mencoba meremas dada saya... lalu nyerinya cukup parah selama sekitar dua minggu lagi. Rasa perih itu berlanjut selama dua tahun dan kambuh setiap kali saya mandi air dingin... Tidak ada yang bisa menyainginya; ini sepuluh kali lebih buruk daripada apa pun.[18]
Kontak fisik dengan Dendrocnide moroides bukanlah satu-satunya cara tumbuhan ini dapat membahayakan seseorang, trikoma terus-menerus dilepaskan dari tumbuhan dan dapat melayang di udara di sekitarnya. Trikoma tersebut kemudian dapat terhirup, yang dapat menyebabkan komplikasi pernapasan jika seseorang menghabiskan waktu di dekat tumbuhan tersebut.[14][22] Seorang ahli entomologi dan ekologi Australia yakni Marina Hurley, menulis disertasi doktoralnya dengan mempelajari dua spesies Dendrocnide di Dataran Tinggi Atherton, sebelah barat Cairns, yaitu Dendrocnide moroides dan Dendrocnide cordifolia,[22] dan terpapar rambut-rambut yang melayang di udara dalam jangka waktu yang lama. Ia menderita bersin-bersin, mata dan hidung berair, dan akhirnya muncul alergi yang membutuhkan perawatan medis.[18][19] W. V. MacFarlane, yang merupakan Profesor Rekanan dalam bidang Fisiologi di Sekolah Penelitian Medis John Curtin di Universitas Nasional Australia, mengamati efek menghirup trikoma, dan ia melaporkan:
Pencabutan bulu-bulu dari daun selalu menyebabkan operator bersin dalam waktu 10 atau 15 menit. Pada upaya awal untuk memisahkan bulu-bulu yang menyengat dari daun kering, debu dan mungkin beberapa bulu terhirup. Awalnya menyebabkan bersin, tetapi dalam waktu tiga jam terjadi nyeri nasofaring yang menyebar, dan setelah 26 jam dirasakan sensasi sakit tenggorokan akut seperti radang amandel.
Farmakologi
[sunting | sunting sumber]Penyebab nyeri yang luar biasa telah menjadi subjek penelitian ilmiah sejak penjelajah Eropa pertama kali menemukan tumbuhan ini pada pertengahan abad ke-19.[13] Meskipun diketahui bahwa campuran toksin terkandung dalam trikoma, sifat pastinya belum sepenuhnya dipahami hingga tahun 2018.[22][27][29] Diketahui bahwa konstituen aktifnya sangat stabil, karena daun mati yang ditemukan di lantai hutan dan bahkan spesimen laboratorium yang berumur puluhan tahun masih dapat menimbulkan sengatan.[19][22][28]
Studi awal menunjukkan bahwa berbagai senyawa seperti histamin, asetilkolina, serotonin, dan asam format, mungkin bertanggung jawab; namun, tidak satu pun dari senyawa tersebut yang terbukti menghasilkan intensitas atau durasi nyeri yang sama dengan yang ditimbulkan oleh sengatan tumbuhan tersebut.[13][8][27][29] Sekitar tahun 1970, sebuah senyawa baru diidentifikasi dan diberi nama "moroidin". Untuk sementara waktu, senyawa ini dianggap sebagai agen penyebabnya, namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa senyawa ini tidak menyebabkan efek yang sama seperti sengatan tumbuhan tersebut.[14][8][25]
Pada tahun 2020, keluarga peptida kaya disulfida yang sebelumnya tidak dikenal diidentifikasi oleh sekelompok peneliti dan diberi nama "gimpietida".[8][24][25] Senyawa ini terbukti mirip dengan beberapa racun yang ditemukan pada siput kerucut, dan menghasilkan respons nyeri yang signifikan dalam uji laboratorium. Selain itu struktur kompleksnya menyerupai simpul sistin penghambat, membuatnya sangat stabil, menjelaskan bagaimana sengatan berlangsung begitu lama.[8][24][25][30]
Terdapat bukti anekdot bahwa beberapa tumbuhan tidak memiliki sengatan tetapi masih memiliki bulu, yang menunjukkan perubahan kimia pada toksin.[29]
Pengobatan
[sunting | sunting sumber]Perawatan pertolongan pertama yang umum direkomendasikan adalah menggunakan malam penghilang bulu atau selotip untuk menghilangkan bulu.[31][32] Suku Kuku Yalanji di Ngarai Mossman menggunakan metode yang pada dasarnya serupa, yaitu membuat jus dari buah atau akar tumbuhan dan mengoleskannya ke area yang terkena, sebelum mengikisnya dengan cangkang kerang kedaung setelah menjadi lengket.[33] Namun, pengangkatan secara mekanis tidak selalu berhasil, karena rambut-rambut tersebut sangat kecil sehingga kulit seringkali menutupnya, sehingga pengangkatan menjadi tidak mungkin.[14][19]
Berbagai perawatan lain yang sebagian besar tidak efektif telah dicoba dari waktu ke waktu. Perawatan tersebut meliputi membasuh area yang terkena dengan air panas, mengoleskan salep pepaya, krim xilokain atau lignokain, dan bahkan mengoleskan dengan asam klorida encer. Semua perawatan ini paling banter hanya memberikan efek sementara.
Cerita anekdot
[sunting | sunting sumber]Anekdot tentang pertemuan dengan gympie-gympie sangat banyak, dan tingkat keakuratannya bervariasi, seperti salah satu yang melibatkan penggunaan daunnya sebagai tisu toilet (pengguna akan tersengat ketika pertama kali mengambil daun tersebut, dan kemungkinan besar tidak akan menggunakannya dengan cara yang dimaksudkan).[19] Meskipun demikian, beberapa telah didokumentasikan, seperti kuda yang harus diistirahatkan setelah tersengat, atau bahkan menjadi ganas dan harus ditembak.[13] Hanya satu laporan tentang kematian manusia yang disebabkan oleh spesies Dendrocnide (dalam hal ini D. cordata) yang dikonfirmasi, yang terjadi di Papua pada tahun 1922.[19][28]
Galeri
[sunting | sunting sumber]- Tumbuhan dewasa
- Daun
- Detail rambut penyengat
- Buah & daun
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Species profile—Dendrocnide moroides". Queensland Department of Environment and Science. Queensland Government. 20 October 2014.
- 1 2 "Dendrocnide moroides". Plants of the World Online. Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 11 June 2021.
- ↑ Dasar, Binatang (19 Oktober 2020). "Daun Gympie-gympie Memiliki Sengatan Paling 'Mematikan'". m.kumparan.com. Diakses tanggal 10 Januari 2024.
- ↑ "Awas! Tanaman Paling Mematikan Tumbuh di Indonesia". dream.co.id. 2016. Diakses tanggal 10 Januari 2024.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 F.A.Zich; B.P.M.Hyland; T.Whiffen; R.A.Kerrigan (2020). "Dendrocnide moroides". Australian Tropical Rainforest Plants Edition 8 (RFK8). Centre for Australian National Biodiversity Research (CANBR), Australian Government.
- 1 2 3 4 5 6 Chew, W.-L.; Kodela, P.G. "Dendrocnide moroides". Flora of Australia. Australian Biological Resources Study, Department of Agriculture, Water and the Environment: Canberra. Diakses tanggal 12 June 2021.
- ↑ Cooper, Wendy; Cooper, William T. (June 2004). Fruits of the Australian Tropical Rainforest. Clifton Hill, Victoria, Australia: Nokomis Editions. hlm. 547. ISBN 9780958174213.
- 1 2 3 4 5 6 Gilding EK, Jami S, Deuis JR, et al. (16 September 2020). "Neurotoxic peptides from the venom of the giant Australian stinging tree". Science Advances. 6 (38) eabb8828. American Association for the Advancement of Science. Bibcode:2020SciA....6.8828G. doi:10.1126/sciadv.abb8828. PMC 7494335. PMID 32938666.
- ↑ F.A.Zich; B.P.M.Hyland; T.Whiffen; R.A.Kerrigan (2020). "Dendrocnide cordifolia". Australian Tropical Rainforest Plants Edition 8 (RFK8). Centre for Australian National Biodiversity Research (CANBR), Australian Government.
- ↑ Jackes, B.R.; Hurley, M. (1997). "A new combination in Dendrocnide (Urticaceae) in north Queensland". Austrobaileya. 5 (1): 121–123. doi:10.5962/p.365866. JSTOR 41729927. S2CID 260276106.
- ↑ Cooper, Wendy; Cooper, William (1994). Fruits of the Rain Forest – A Guide to Fruits in Australian Tropical Rain Forests. GEO Productions. hlm. 88. ISBN 0-646-19803-3.
- ↑ Low, Tim (1998). Wild Food Plants of Australia. Sydney: Angus & Robertson Publishers. hlm. 79. ISBN 0-207-16930-6.
- 1 2 3 4 5 6 Robertson, P.A.; Macfarlane, W.V. (1957). "Pain-Producing Substances From The Stinging Bush Laportea Moroides". Australian Journal of Experimental Biology and Medical Science. 35 (4): 381–393. doi:10.1038/icb.1957.41. PMID 13471452.
- 1 2 3 4 5 Schmitt, C.; Parola, P.; de Haro, L. (1 December 2013). "Painful Sting After Exposure to Dendrocnide sp: Two Case Reports". Wilderness and Environmental Medicine. 24 (4): 471–473. doi:10.1016/j.wem.2013.03.021. PMID 23870765.
- ↑ Weddell, H.-A. (1857). "Monographie de la Famille des Urticées". Archives du Muséum d'Histoire Naturelle. 9: 142.
- ↑ Chew, W.-L. (1965). "Laportea and Allied Genera (Urticaceae)". The Gardens' Bulletin Singapore. 21: 204.
- ↑ "Dendrocnide moroides". International Plant Names Index (IPNI) (2021). Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 12 June 2021.
- 1 2 3 4 5 6 Burdon, Amanda (16 June 2009). "Once Stung, never Forgotten". Australian Geographic.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Hurley, Marina (October–December 2000). "Selective Stingers" (PDF). ECOS. CSIRO. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 16 March 2022. Diakses tanggal 18 June 2021.
- ↑ Harden, Gwen J. (2001). "Dendrocnide moroides (Wedd.) Chew – New South Wales Flora Online". PlantNET – The Plant Information Network System. 2.0. Sydney, Australia: The Royal Botanic Gardens and Domain Trust. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 October 2017.
- ↑ "Gympie Stinger – profile". Threatened Species. New South Wales, Australia: Department of Environment and Heritage. 29 August 2018.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Hurley, M. (28 September 2018). "'The worst kind of pain you can imagine' – what it's like to be stung by a stinging tree". The Conversation. The Conversation Australia and New Zealand.
- ↑ Maor, D.; Little, M. (2017). "Skin contact with a stinging tree requiring intensive care unit admission". Contact Dermatitis. 77 (5): 335–337. doi:10.1111/cod.12830. PMID 29063683. S2CID 3931756.
- 1 2 3 Heathcote, Angela (17 September 2020). "The Gympie-Gympie stinging tree contains the same toxins as that of spiders and scorpions, scientists find". Australian Geographic.
- 1 2 3 4 5 Vetter, I.; Gilding, E.K.; Durek, T. (16 September 2020). "Australian stinging trees inject scorpion-like venom. The pain lasts for days". The Conversation.
- 1 2 3 Mustafa, Adeel; Ensikat, Hans-Jurgen; Weigend, Maximilian (July 2018). "Stinging hair morphology and wall biomineralization across five plant families: Conserved morphology versus divergent cell wall composition". American Journal of Botany. 105 (7): 1109–1122. doi:10.1002/ajb2.1136. PMID 30080249.
- 1 2 3 Fu, Han-Yi; Chen, Shiang-Jiuun; Chen, Ruei-Feng; Kuo-Huang, L.; Huang, Rong-Nan (2007). "Why do Nettles Sting ? About Stinging Hairs Looking Simple but Acting Complex" (PDF). Functional Plant Science and Biotechnology.
- 1 2 3 MacFarlane, W.V. (1963). "The Stinging Properties of Laportea". Economic Botany. 17 (4): 303–311. Bibcode:1963EcBot..17..303M. doi:10.1007/BF02860137. JSTOR 4252456. S2CID 546456.
- 1 2 3 Hales, Lydia (6 February 2014). "Gympie-Gympie losing its sting?". Australian Geographic. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2016.
- ↑ Rigby, Mark; Staley, Phil (16 September 2020). "Australian stinging trees and cone snails share something in common, Queensland researchers say". ABC News. Australian Broadcasting Corporation. Diakses tanggal 22 May 2023.
- ↑ "Stinging tree (Dendrocnide excelsa)". Children’s Health Queensland. Queensland Government. Diakses tanggal 18 June 2021.
- ↑ "Stinging plants". HealthDirect Australia. Australian Government. 8 July 2020.
- ↑ Roberts, John; Fisher, Colin (CJ); Gibson, Roy (1995). A Guide to Traditional Aboriginal Rainforest Plant Use. Mossman, Queensland: Bamanga Bubu Ngadimumku Inc. hlm. 31. ISBN 0-646-22991-5.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- View a map of historical sightings of this species at the Australasian Virtual Herbarium
- View observations of this species on iNaturalist
- View images of this species on Flickriver
- Queensland's Gympie-Gympie: the world's most painful plant, John Oxley Library Blog, State Library of Queensland.