Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Gusti Noeroel
Gusti Raden Ayu

Repro buku Gusti Noeroel
Repro buku Gusti Noeroel
Lahir 1921
Bendera BelandaSurakarta, Hindia Belanda
Wafat 10 November 2015
Bendera Indonesia Bandung, Indonesia
Nama lengkap
Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani
Nama lahir
Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani
Wangsa Mangkunegaran
Ayah Mangkunegara VII
Ibu Gusti Kanjeng Ratu Timoer
Pasangan RM Soerjo Soejarso
Anak
Rasika Wiyarti
Bambang Atas Aji
Heruma Wiyarti
Wimaya Wiyarti
Sularso Basarah
Parimita Wiyarti
Aji Pamoso

Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau akrab dikenal dengan nama Gusti Noeroel (lahir di Surakarta, pada tahun 1921, meninggal tanggal 10 November 2015 dalam usia 94 tahun) adalah putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro VII (tujuh)[1], dari permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Ayah Gusti Noeroel adalah seorang ningrat dari Solo yang beristrikan putri dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ibu Gusti Noeroel adalah puteri ke-12 Sultan Hamengku Buwono VII dari permaisuri ketiga, GKR Kencono. Nama asli ibunya adalah G.R.Ay Mursudarijah[2]. K.G.P.A.A Mangkunegoro VII sendiri adalah pemegang tampuk pemerintahan Mangkunegaran dari tahun 1916-1944.

Masa Muda[sunting | sunting sumber]

Gusti Noeroel terkenal memiliki paras yang cantik. Karena kecantikannya, pada saat itu Gusti Noeroel menjadi primadona di Kota Solo dan didambakan para tokoh negara. Mulai dari mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang biasa mengirimkan kado melalui sekretarisnya ke kediaman Gusti Noeroel di Pura Mangkunegaran ketika rapat kabinet digelar di Yogyakarta. Gusti Noeroel juga didambakan oleh Kolonel GPH Djatikusumo, salah seorang prajurit militer. Yang menarik adalah mantan Presiden Soekarno yang juga tertarik dengan Gusti Noeroel namun konon kalah bersaing dengan Sutan Sjahrir.[3] Tokoh negara lainnya yang mencoba meminang Gusti Noeroel adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki 9 orang selir. Namun semua tokoh tersebut tidak ada satupun yang berhasil memikat hati Gusti Noeroel. Putri bangsawan ini memutuskan untuk menerima pinangan seorang militer berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso.

Kecantikan Gusti Noeroel yang termasyhur ini juga dibarengi dengan kepiawaiannya menari. Suatu kali, di usianya yang masih 15 tahun, Gusti Noeroel diminta datang secara khusus untuk menari di hadapan Ratu Wilhelmina di Belanda. Tarian tersebut dipersembahkan sebagai kado pernikahan Putri Juliana. Menariknya, saat itu rombongan dari Mangkunegaran tidak membawa gamelan untuk mengiringi tarian Gusti Nurul. Tarian itu diiringi alunan gamelan yang dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan melalui Solosche Radio Vereeniging, yang siarannya bisa ditangkap dengan jernih di Belanda[4].

Gusti Noeroel juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang membidani berdirinya Solosche Radio Vereeniging, stasiun radio pertama di Indonesia.

Meninggal Dunia[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 10 November 2015 pukul 08:00 WIB, Gusti Noeroel menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Boromeus, Bandung setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit yang sama selama 2 minggu[5]. Di usia 94 tahun, Gusti Noeroel tutup usia dikarenakan sakit diabetes yang dideritanya. Gusti Noeroel meninggalkan 7 orang anak dan 14 orang cucu dari pernikahannya dengan Soerjo Soejarso. Ketujuh orang anaknya adalah Sularso Basarah, Parimita Wiyarti, Aji Pamoso, Heruma Wiyarti, Rasika Wiyarti, Wimaya wiyarti, dan Bambang Atas Aji. Nama terakhir merupakan anak angkat Gusti Nurul.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Gusti Noeroel Berpulang, Karangan Bunga Mengalir di Parahyangan
  2. ^ Gusti Noeroel, Perempuan Keraton yang Menjadi Inspirasi Lintas Generasi
  3. ^ Sejarawan: Gusti Noeroel Diperebutkan Bung Karno dan Sjahrir
  4. ^ Gusti Noeroel Wafat di Bandung
  5. ^ Gusti Noeroel Berpulang, Karangan Bunga Mengalir di Parahyangan