Filsafat manusia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Filsafat manusia adalah cabang ilmu filsafat yang membahas mengenai makna menjadi manusia.[1] Filsafat manusia menjadikan manusia sebagai objek studinya.[2] Dalam cabang ilmu filsafat ini manusia akan mengajukan pertanyaan mengenai diri mereka sebagai manusia.[3] Filsafat manusia terus berkembang karena manusia adalah objek yang penuh dengan misteri.[3] Titik tolak filsafat manusia adalah pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang melingkupinya.[4] Dalam sejarah ada beberapa istilah yang mendahului filsafat manusia, yaitu psikologi filsafat, psikologi rasional, eksperimental dan empiris.[1]

Manusia adalah misteri bagi dirinya sendiri

Alasan Mempelajari Filsafat Manusia[sunting | sunting sumber]

Filsafat manusia perlu dipelajari karena manusia mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk menyelidiki dan menganalisis sesuatu secara mendalam.[1] Manusia berpikir dan menganalisis banyak hal.[1] Pada suatu titik manusia akan sampai kepada saat di mana dia akan bertanya mengenai arti keberadaannya sendiri sebagai manusia.[1]Dengan demikian filsafat manusia mengantar manusia untuk menyelami kehidupannya sendiri, dan sangat mungkin mendapat pencerahan mengenai menjadi manusia yang lebih utuh.[5] Dalam sejarah, manusia selalu berusaha memecahkan permasalahan pokok tentang makna dan eksistensinya yang selalu sulit memperoleh jawaban.[6] Filsafat manusia ada untuk mendorong manusia mencari hakikatnya.[1]

Model Esensi dan Model Eksistensi[sunting | sunting sumber]

Model esensi adalah pendekatan dalam filsafat kepada suatu objek dengan cara yang abstrak.[5] Model ini memandang manusia terlepas dari situasi dan perkembangannya.[5] Model esensi hanya memperhatikan kodrat yang menentukan manusia sebagai manusia.[5] Sementara itu model eksistensi adalah pendekatan dalam filsafat kepada suatu objek dengan memandangnya secara menyeluruh.[5] Manusia dipandang secara konkret secara utuh dalam keberadaannya. Model eksistensi tidak percaya akan kodrat yang menentukan manusia.[5] Orang yang memperlajari filsafat manusia dengan pendekatan eksistensial akan lebih menyeluruh pandangannya dibandingkan pendekatan esensialis.[5]

Manusia tanpa Tuhan[sunting | sunting sumber]

Filsafat manusia sangat dekat hubungannya dengan eksistensialisme.[7]

Eksistensialisme merupakan gerakan filosofis yang menganut paham bahwa tiap orang harus menciptakan makna di alam semesta yang tak jelas, kacau, dan tampak hampa ini.

Salah satu tokoh eksistensialisme yang mengidupi aliran filsafat ini ialah Nietzsche. Nietzcsche berpandangan bahwa kebebasan manusia akan hadir jika hidup manusia tanpa Tuhan.[7] Hidup itu sendiri merupakan "kehendak untuk berkuasa".[7] Kelemahan manusia sering muncul karena manusia sering menyerah dengan kenyataan bahwa ada kekuasaan di luar dirinya yang lebih kuat.[7] Salah satu yang mutlak terjadi dalam hidup manusia adalah kenyataan kesepian.[7]

Tujuan Filsafat Manusia[sunting | sunting sumber]

Filsafat manusia muncul berawal dari pertanyaan akan manusia.[1] Pertanyaan-pertanyaan dalam filsafat manusia yang dapat menunjukkan tujuan filsafat manusia adalah:[2]

  1. Apakah dan siapakah manusia pada hakikatnya?[2]
  2. Bagaimanakah kodrat manusia itu?[2]
  3. Apakah sifat-sifat manusia yang unik yang membedakannya dari makhluk-mahluk yang lain?[2]
  4. Bagaimanakah hubungan antara badan atau raga dengan jiwa manusia?[2]
  5. Bagaimana mungkin manusia dapat bebas dan merdeka untuk melakukan segala yang dia inginkan?[2]
  6. Apakah arti kepribadian seorang manusia?[2]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g Louis Leahy (1984). Manusia sebuah Misteri. Jakarta: Gramedia. hlm. 1. 
  2. ^ a b c d e f g h Baharrudin Salam (1988). Filsafat Manusia. Jakarta: Bina Aksara. hlm. 13. 
  3. ^ a b Juraid Abdul Latief (2012). Manusia, Filsafat, dan Sejarah. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 15. ISBN 979-526-260-2. 
  4. ^ Surajio (2005). Ilmu Filsafat, Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara. ISBN 979-526-904-6. 
  5. ^ a b c d e f g Theo Huijbers (1987). Manusia Merenungkan Dirinya. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 15-20. 
  6. ^ Soerjanto Poepowardojo (1982). Sekitar Manusia(Menuju Manusia Seutuhnya), kump. karangan. Jakarta: Gramedia. hlm. 1-5. 
  7. ^ a b c d e A.Sudiarja(ed:Sastraprateja) (1982). Manusia Multi Dimensional. Jakarta: Gramedia. hlm. 15. 

hakikat manusia