Eryxo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Eryxo (Nama Yunani: Ἐρυξώ; skt. abad ke-6 SM) merupakan seorang wanita Yunani, yang adalah ratu Cyrenaica dan anggota dinasti Battiad, wangsa yang memerintah Cyrenaica dan Kirene. Dari sumber-sumber Yunani, ia tampaknya adalah Ratu Cyrenaea Yunani pertama yang disebutkan dari dinasti tersebut.

Latar belakang keluarga[sunting | sunting sumber]

Eryxo adalah satu-satunya putri dan anak bungsu Putri Cyrenaea Kritola dan ayahandanya adalah seorang bangsawan Cyrenaea yang namanya tidak diketahui. Ayahandanya dibunuh pada tahun 550 SM, oleh Learkos yang menjadi saingan Raja Cyrenaea Arkesilaos II. Plutarkhos menyatakan bahwa kakanda sulungnya bernama Polyarkhos dan sejarahwan menyatakan bahwa ia memiliki beberapa saudara lainnya, tetapi sejarahwan tidak memberikan nama mereka. Kakek maternalnya adalah Raja Kirene Yunani Arkesilaos I, tetapi nenek moyangnya tidak diketahui. Melalui ibundanya, ia adalah buyut perempuan raja Yunani pertama dan pendiri Kirene, Battos.

Sejarah pernikahan[sunting | sunting sumber]

Sebelum tahun 560 SM, ia menikahi sepupu maternalnya Putri Cyrenaea Arkesilaos II, yang adalah putra Raja Cyrenaea Battos II yang merupakan pamanda maternalnya. Eryxo dan Arkesilaos memiliki seorang putra bernama Battos III. Plutarkhos menggambarkannya sebagai seorang ‘bangsawan, sederhana dan sopan’.

Suksesi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 560 SM, Battos II meninggal. Suaminya Arkesilaos II menjadi raja baru. Nasihat Arkesilaos adalah Learkos, yang membunuh ayahandanya. Learkos secara diam-diam merencanakan melawan Arkesilaos untuk menggulingkannya. Ketika Arkesilaos menemukan bahwa Learkos sedang merencanakan untuk melawannya, ia memerintahkan Learkos dan pendukungnya untuk diusir dari Kirene.

Pada gilirannya Learkos Arkesialos dan pendukung mereka berakhir di dalam perebutan kekuasaan yang mengakibatkan Learkos dan pendukungnya mengalahkan Arkesilaos dan tentara Cyrenaea di Leucon. Learkos juga meracuni dan mencekik Arkesilaos di dekat Leucon dan setelah kemenangannya atas Arkesilaos. Learkos kembali ke kemenangan Kirene dengan harapan menjadi raja.

Learkos menjadi Raja dengan dalih palsu, ia melindungi Battos III, meski saat itu Battos masih muda. Learkos berpura-pura menjadi pelayan Eryxo yang rendah hati, mencoba menunjukkan sedikit gengsi kepada Battos dan Eryxo, dengan harapan bahwa Eryxo akan menikahinya. Learkos juga menginginkan Battos III menjadi rekan-pemimpinnya.

Eryxo sedang berkonsultasi dengan saudara-saudaranya dan pada akhirnya ingin melihat Learkos dan memberi kesan, ia ingin menikahinya. Ia mengirim pelayannya ke Learkos dan menyatakan kepadanya, untuk datang kepadanya di malam hari di mana ikatan tersebut dapat dilaksanakan.

Learkos sangat gembira mendengar kabar bahwa Eryxo akan menikahinya dan Learkos datang saat Eryxo siap. Inilah saat Eryxo dan Polyarkhos merencanakan untuk membunuh Learkos sebagai balas dendam atas kematian ayahanda mereka dan Arkesilaos. Polyarkhos dengan dua orang pemuda yang memiliki pedang di tangan mereka diam-diam menunggu dan bersembunyi di kamarnya.

Kematian Learkhos[sunting | sunting sumber]

Eryxo meminta Learkos datang ke kamar tidurnya dan Learkos datang tanpa pengawasan ke kamar Eryxo. Saat masuk, seorang pemuda menerjang Learkos dan menusukkan pedang mereka ke tubuhnya dan menewaskan Learkos. Mayat Learkos dilempar ke luar tembok dan Polyarkhos mengeluarkan Battos III dan mengumumkannya seabgai raja yang baru. Battos bertakhta pada tahun 550 SM-530 SM.

Pemerintahan Battos[sunting | sunting sumber]

Ketika Battos diumumkan sebagai raja, para tentara yang melayani Firaun Mesir Amasis II hadir. Amasis adalah sekutu almarhum Learkos. Untuk membalas kematian Learkos, Amasis ingin mengumumkan perang terhadap Kirene dan Firaun telah mengirim utusan ke keluarga kerajaan mengenai hal ini. Pada saat itulah, ibunda Amasis meninggal dan Amasis sedang mempersiapkan pemakamannya. Polyarkhos memutuskan untuk pergi ke Mesir untuk menyampaikan rasa belasungkawanya kepada Amasis. Eryxo dan Kritola tidak mengijinkan Polyarkhos bepergian sendiri dan mereka pergi bersamanya, untuk menyelamatkan Cyrenaica.

Ketika ketiganya tiba di istana Firaun Mesir dan menyampaikan belasungkawa mereka kepada Amasis, yang lain mengagumi mereka untuk tujuan perjalanan mereka. Amasis tidak banyak memberi pujian pada kesucian dan ketabahan ketiganya, jadi ia menghormati ibunda dan saudari Polyarkhos dengan hadiah-hadiah dan kehadiran pengiring kerajaan yang dikirim Amasis ketika ketiganya kembali ke Kirene. Amasis menarik tentaranya dari Cyrenaica. Nasib Eryxo kemudian tidak diketahui.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]