Penyakit virus Ebola

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ebola)
Lompat ke: navigasi, cari
Penyakit virus ebola
Klasifikasi dan rujukan eksternal
Sebuah fotografi pada tahun 1976 yang menunjukkan dua perawat berdiri di depan Mayinga N., seorang pengidap Ebola; ia meninggal beberapa hari setelah mengalami pendarahan internal.
ICD-10 A98.4
ICD-9 065.8
DiseasesDB 18043
MedlinePlus 001339
eMedicine med/626 
MeSH D019142

Penyakit virus ebola (EVD) atau demam berdarah Ebola (EHF) adalah penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus Ebola. Masa inkubasi biasanya dimulai dua hari hingga tiga minggu setelah terjangkit virus, dengan adanya demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Gejala ini biasanya diikuti dengan mual, muntah, dan diare, serta menurunnya fungsi liver dan ginjal. Pada kondisi tersebut, orang yang terpapar virus Ebola mulai mengalami masalah pendarahan.[1]


Tanda-tanda dan gejalanya[sunting | sunting sumber]

Signs and symptoms of Ebola[2]

Masa inkubasi antara 2 sampai 21 hari.[1][2] Paling sering antara 4 sampai 10 hari.[3] Walaupun begitu ada 5 persen masa inkubasi yang mencapai lebih dari 21 hari.[4]

Gejalanya biasanya dimulai dengan influenza yang tiba-tiba dimana penderita merasa lemas, demam, lemah (weakness), tidak suka makan (anorexia), nyri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), sakit kepala, dan sakit tenggorokan.[1][3][5][6] Demam biasanya lebih tinggi dari 38.3 °C (100.9 °F).[7] Sering diikuti muntah-muntah, mencret-mencret (diarrhea) dan sakit perut bagian atas dan bawah.[6] Kemudian, nafas menjadi pendek, dada sakit, juga pembekakan (edema), dan kesadaran berkurang (confusion).[6] Sekitar separuh kasus, penderita mengalami 'maculopapular rash' pada kulit yang terjadi 5 sampai 7 hari, setelah gejala pertama terjadi.[3][7]

Pada beberapa kasus, pendarahan dalam dan luar dapat saja terjadi, 5 sampai 7 hari, setelah gejala pertama terjadi.[1][8] Semua penderita yang terinfeksi menderita kesulitan pembekuan darah.[7] Pendarahan dari selaput mulut, hidung dan tenggorokan serta dari bekas lubang suntikan terjadi pada 40-50 persen kasus.[9] Hal ini menyebabkan muntah darah, batuk darah dan berak darah.[10] Pendarahan pada kulit menyebabkan petechiae, purpura, ecchymoses or hematomas (terutama sekitar tempat injeksi).[11] Mata menjadi merah karena pendarahan dapat juga terjadi. Pendarahan berat jarang terjadi, dan jika terjadi biasanya terlokalisasi di saluran pencernaan.[7][12]

Kesembuhan (recovery) mulai terjadi antara 7 sampai 14 hari, setelah gejala pertama terjadi.[6] Kematian, jika ini terjadi, biasanya antara 6 sampai 16 hari, setelah gejala pertama terjadi, dan sering kali, karena 'syok' tekanan darah rendah akibat akibat kekurangan cairan.[13] Pada umumnya, pendarahan seringkali menunjukkan hal yang buruk, kehilangan darah dapat menyebabkan kematian.[5] Seringkali penderita mengalami koma, sebelum kematiannya.[6] Penderita yang selamat seringkali mengalami sakit otot dan sendi secara terus menerus, pembengkakan hati, berkuangnya pendengaran, dan mungkin mengalami hal-hal sebagai berikut: merasa capai, lemas berkelanjutan, berkurangnya nafsu makan, dan kesulitan mencapai berat semula sebelum sakit.[6][14] Antibodi terbentuk untuk sekurangnya 10 tahun, tetapi belum jelas apakah penderita yang selamat akan kebal terhadap infeksi berulang.[15] Dan sesesorang yang telah sembuh tidak akan menyebarkan penyakit lagi.[15]

Penyebab dan diagnosis[sunting | sunting sumber]

Virus mungkin ditularkan melalui kontak melalui darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi (biasanya monyet atau kelelawar).[1] Penyebaran lewat udara belum pernah tercatat dalam lingkungan alami.[16] Kelelawar buah diyakini dapat membawa dan menyebarkan virus tanpa terjangkit. Begitu terjadi infeksi pada manusia, penyakit ini dapat menyebar pada orang lain di sekitar. Pria yang selamat dari penyakit ini dapat menularkannya lewat sperma selama hampir dua bulan. Pada proses diagnosis, biasanya penyakit lain dengan gejala serupa, seperti malaria, kolera dan demam berdarah virus lainnya harus dikecualikan terlebih dahulu. Untuk memastikan diagnosis, sampel darah diuji untuk antibodi virus, RNA virus, atau virus itu sendiri.[1]

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

Pencegahan penularan ebola meliputi upaya mengurangi penyebaran penyakit dari monyet dan babi yang terinfeksi ke manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan memeriksa hewan tersebut terhadap infeksi, serta membunuh dan membuang hewan yang terpapar virus ebola. Memasak daging dengan benar dan mengenakan pakaian pelindung ketika mengolah daging juga mungkin berguna, Penggunaan pakaian pelindung dan mencuci tangan ketika berada di sekitar orang yang menderita penyakit ebola merupakan pencegahan penyebaran dari sesama manusia. Sampel cairan dan jaringan tubuh dari penderita penyakit harus ditangani dengan sangat hati-hati.[1]

Belum ada pengobatan khusus untuk penyakit ini, upaya untuk membantu orang yang terjangkit meliputi pemberian terapi rehidrasi oral (air yang sedikit manis dan asin untuk diminum) atau cairan intravena.[1] Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi: seringkali menewaskan antara 50% hingga 90% orang yang terinfeksi virus.[1][17] EVD pertama kali diidentifikasi di Sudan dan Republik Demokratik Kongo. Penyakit ini biasanya mewabah di wilayah tropis Afrika Sub-Sahara.[1] Sejak tahun 1976 (ketika pertama kali diidentifikasi) hingga 2013, kurang dari 1.000 orang per tahun telah terinfeksi.[1][18] Wabah terbesar hingga saat ini adalah wabah Ebola Afrika Barat 2014 yang sedang terjadi, dan melanda Guyana, Sierra Leone, Liberia dan kemungkinan Nigeria.[19][20] Hingga bulan Agustus 2014, lebih dari 1600 kasus telah diidentifikasi.[21] Upaya sedang dilakukan untuk mengembangkan vaksin, namun belum membuahkan hasil.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l "Ebola virus disease Fact sheet N°103". World Health Organization. March 2014. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  2. ^ a b "Ebola Hemorrhagic Fever Signs and Symptoms". CDC. 28 January 2014. Diakses tanggal 2 August 2014. 
  3. ^ a b c Goeijenbier M, van Kampen JJ, Reusken CB, Koopmans MP, van Gorp EC (November 2014). "Ebola virus disease: a review on epidemiology, symptoms, treatment and pathogenesis". Neth J Med 72 (9): 442–8. PMID 25387613. 
  4. ^ Charles N. Haas (October 14, 2014). "On the Quarantine Period for Ebola Virus". PLOS Currents Outbreaks. doi:10.1371/currents.outbreaks.2ab4b76ba7263ff0f084766e43abbd89. 
  5. ^ a b Gatherer D (August 2014). "The 2014 Ebola virus disease outbreak in West Africa". J Gen Virol 95 (Pt 8): 1619–1624. doi:10.1099/vir.0.067199-0. PMID 24795448. 
  6. ^ a b c d e f Magill, Alan (2013). Hunter's tropical medicine and emerging infectious diseases. (9th ed. ed.). New York: Saunders. p. 332. ISBN 9781416043904. 
  7. ^ a b c d Hoenen T, Groseth A, Falzarano D, Feldmann H (May 2006). "Ebola virus: unravelling pathogenesis to combat a deadly disease". Trends in Molecular Medicine 12 (5): 206–215. doi:10.1016/j.molmed.2006.03.006. PMID 16616875. 
  8. ^ Simpson DIH (1977). "Marburg and Ebola virus infections: a guide for their diagnosis, management, and control" (PDF). WHO Offset Publication No. 36. p. 10f. 
  9. ^ "Ebola Virus, Clinical Presentation". Medscape. Diakses tanggal 30 July 2012. 
  10. ^ "Appendix A: Disease-Specific Chapters" (PDF). Chapter: Hemorrhagic fevers caused by: i) Ebola virus and ii) Marburg virus and iii) Other viral causes including bunyaviruses, arenaviruses, and flaviviruses. Ministry of Health and Long-Term Care. Diakses tanggal 9 October 2014. 
  11. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Feldmann2011
  12. ^ Fisher-Hoch SP, Platt GS, Neild GH, Southee T, Baskerville A, Raymond RT, Lloyd G, Simpson DI (November 1985). "Pathophysiology of shock and hemorrhage in a fulminating viral infection (Ebola)". J. Infect. Dis. 152 (5): 887–894. doi:10.1093/infdis/152.5.887. PMID 4045253. 
  13. ^ Ruzek, edited by Sunit K. Singh, Daniel (2014). Viral hemorrhagic fevers. Boca Raton: CRC Press, Taylor & Francis Group. p. 444. ISBN 9781439884294. 
  14. ^ Tosh PK, Sampathkumar P (December 2014). "What Clinicians Should Know About the 2014 Ebo<la Outbreak". Mayo Clin Proc 89 (12): 1710–17. doi:10.1016/j.mayocp.2014.10.010. PMID 25467644. 
  15. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama CDC2014QAT
  16. ^ "2014 Ebola Virus Disease (EVD) outbreak in West Africa". WHO. Apr 21 2014. Diakses tanggal 3 August 2014. 
  17. ^ C.M. Fauquet (2005). Virus taxonomy classification and nomenclature of viruses; 8th report of the International Committee on Taxonomy of Viruses. Oxford: Elsevier/Academic Press. p. 648. ISBN 9780080575483. 
  18. ^ "Ebola Viral Disease Outbreak — West Africa, 2014". CDC. June 27, 2014. Diakses tanggal 26 June 2014. 
  19. ^ "CDC urges all US residents to avoid nonessential travel to Liberia, Guinea, and Sierra Leone because of an unprecedented outbreak of Ebola.". CDC. July 31, 2014. Diakses tanggal 2 August 2014. 
  20. ^ "Outbreak of Ebola in Guinea, Liberia, and Sierra Leone". CDC. August 4, 2014. Diakses tanggal 5 August 2014. 
  21. ^ "Ebola virus disease update - West Africa". WHO. Aug 4, 2014. Diakses tanggal 6 August 2014. 
Bibliografi

Pranala luar[sunting | sunting sumber]