Dzulqarnain Muhammad Sunusi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Dzulqarnain M. Sunusi)
Dzulqarnain Muhammad Sunusi
NamaDzulqarnain
Nisbahal-Makassari
KebangsaanIndonesia
JabatanPendakwah, Penulis, Pimpinan pondok pesantren As Sunnah Makassar.
FirkahAhlus Sunnah
Mazhab FikihIjtihad
Mazhab AkidahAhlul Hadits
Alma materIhya'us Sunnah, Yogyakarta
Darul Hadits Dammaj, Yaman
Murid dariMuqbil Al-Wadi'i, Shalih Al-Fauzan, Rabi' Al-Madkhali, Ahmad An-Najmi, Abdullah AlGhudayan, Shalih Alus Syaikh, 'Ubaid Al - Jabiriy, Zaid Al-Madkhali, Abdul Muhsin Al-'Abbad
Situs webdzulqarnain.net

Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Al-Makassari (lahir 12 Agustus 1976) atau juga dikenal sebagai Ustadz Dzulqarnain Sunusi adalah seorang penceramah dan hafiz Al-Qur’an dengan metode qira’at (bacaan) Hafsh ‘an ‘Ashim yang sanad riwayatnya sampai kepada Rasulullah ﷺ melalui jalan Asy Syathibiyyah dan Thayyibah An-Nasyr. Dzulqarnain merupakan salah satu pendiri dan mudir pondok pesantren As-Sunnah Makassar, penulis buku Islam, dan aktif berdakwah di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Pendidikan dan aktivitas dakwah[sunting | sunting sumber]

Dzulqarnain lahir dan mengenal dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah diawali ketika menginjak usia remaja di Ujungpandang, ia kemudian belajar bahasa Arab dan ilmu agama di Pondok Pesantren (Ponpes) Ihya’us Sunnah, Degolan, Yogyakarta. Sekitar tahun 1995, Dzulqarnain berangkat ke Ma’had Darul Hadits, Dammaj, Yaman untuk menuntut ilmu kepada ulama dan ahli hadits Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i. Dzulqarnain kembali ke Indonesia pada tahun 1999 dan sempat mengajar di Ponpes Ihya’us Sunnah Yogyakarta dan menjadi anggota staf redaksi majalah SALAFY yang berpusat di Yogyakarta.

Pada tahun 2000, Dzulqarnain mendirikan Pondok Pesantren As Sunnah Makassar bersama dengan para da’i alumnus Ma’had Darul Hadits Yaman dan Universitas Islam Madinah, seperti Khidhir Sunusi (saudara kandung Dzulqarnain), Mustamin bin Musaruddin, Lc, dan Luqman Jamal, Lc. Kemudian pada tahun 2001 menerbitkan majalah bernama An-Nashihah secara berkala sampai sekarang.

Pada tahun 2004, Dzulqarnain pergi ke Arab Saudi guna memperdalam berbagai cabang ilmu agama kepada ulama-ulama terkemuka dan mengambil sanad-sanad periwayatan buku-buku salaf seperti Syekh Rabi' bin Hadi al-Madkhali (mantan dosen Universitas Islam Madinah). Selanjutnya pada tahun 2005, ia belajar kepada Syekh Ahmad bin Yahya An-Najmi (Mufti Arab Saudi Bagian Selatan). Lalu sekitar tahun 2006–2008 belajar kepada Syekh Shalih bin ‘Abdillah bin Fauzan Al Fauzan (anggota Hai’at Kibarul ‘Ulama Arab Saudi). Gurunya yang lain adalah Syekh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali. Selama masa tersebut, ia menghafal Al Qur’an dengan metode qira’at (bacaan) Hafsh ‘an ‘Ashim yang sanad riwayatnya sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (melalui jalan Asy Syatibiyyah dan Thayyibah An Nasyr). Ia mengkhatamkan Al-Qur`an dua kali dari hafalan dengan membaca riwayat Hafsh dari Ashim melalui jalan Asy-Syathibiyyah dan Thoyyibah An-Nasyar, talaqqi dari dua orang guru ahli Qira’at dan ia mendapat ijazah tertulis dalam hal tersebut. Seruan dakwahnya adalah dakwah Salafiyah. Ciri pelajaran yang disampaikan adalah penanaman akidah yang kuat, kedalaman ilmu, kedetailan pembahasan, bersikap adil dan pertengahan, serta penjagaan terhadap hikmah dakwah.[1][2]

Guru[sunting | sunting sumber]

  1. Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i (Belajar kitab Shohih Al-Bukhari; Shohih Muslim; Mustadrak Al-Hakim; Tafsir Ibnu Katsir; Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fii Ash-Shahihain; Al-Jami’ Ash-Shahih Mimma Laisa Fii Ash-Shahihain; Al-Jami’ Ash-Shahih Min Dalâ`il An-Nubuwwah; Al-Jami’ Ash-Shahih fii Al-Qadar; Ash-Shahih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul; Gharatul Fishal ‘alal Mu’tadin ‘ala Kutubil ‘Ilal; Dzammul Mas`alah dan Ahadits Mu’allah Zhahiruha Ash Shihhah).
  2. Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi (Belajar kitab Wasiyat Abu Utsman Ash-Shabuni dan beberapa bab dari Maurid Al-Adzbi Al-Zilal; Qurrah ‘Uyun Al-Muwahhidin, bab Buyu’ dari Bulughul Maram; Shohih Al-Bukhari, Nuzhatun Nazhor dan lain-lainnya. Dan Syaikh Ahmad memberi ijazah kepadanya meriwayatkan kutub As-Sittah)
  3. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan (Belajar Kitabut Tauhid, Al-Furqan, At-Tawassul Wal Wasilah, Tafsir Surah-sarah Al-Mufashshol, Al-Arba’in An-Nawawiyah, Ar-Raudh Al-Murbi’, Akhshor Al-Mukhtashot, Bulughul Maram dan Umdah Al-Ahkam)
  4. Syaikh Dr. Rabi' bin Hadi al-Madkhali (Belajar Kitabul Iman dari Shohih Al-Bukhari, Asy-Syari’ah karya Al-Ajurri dan sejumlah pelajaran sore dari tafsir, manhaj, akhlaq, nasihat dan selainnya)
  5. Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali (Belajar kitab Syarh As-Sunnah karya Imam Al-Muzany, Ushulul Fiqih karya As-Sa’dy, Sunan An-Nasa`iy, Tafsir surah Maryam dari Adhwa' Al-Bayan, Ushul As-Sunnah karya Ibnu Abi Zamanin dan lain-lainnya.
  6. Syaikh ‘Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan (Belajar Al-Muwafaqat, Qawa’id Al-Ahkam karya Al-‘Izz bin ‘Abdussalam, Al-Furuq karya Al-Qarafi dan Al-Inshof)
  7. Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman Al Jabiri (Belajar Syarh As-Sunnah karya Al-Barbahari, Kitab Ash-Shiyam dari Umdah Al-Ahkam)
  8. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr (Belajar Syarah Alfiyah Al-‘Iraqy dan Mimiyah fil Adab karya Al-Hafizh Al-Hakamy)

Selain dari itu, ia juga menghadiri beberapa majelis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pada musim haji tahun 1419 H.[1][2]

Karya-karyanya[sunting | sunting sumber]

Dzulqarnain sering diundang untuk mengadakan kajian intensif (daurah) atau tablig akbar baik di berbagai daerah di Indonesia seperti Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera, serta ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, dan negara lainnya. Ia memiliki banyak pelajaran yang direkam dan dikelola oleh studio rekaman Tasjilat As-Sunnah Makassar, Tasjilat Al-Atsariyyah Samarinda, dan Tasjilat Al-Madinah Solo. Siaran ceramahnya disiarkan secara langsung maupun tunda melalui radio An-Nashihah.net.[1][2]

Beberapa karya tulisnya yang telah terbit berjudul:

  1. “Meraih Kemuliaan Melalui Jihad Bukan Kenistaan”, buku bantahan untuk buku karya Imam Samudera "Mereka Adalah Teroris". Diterbitkan ulang dengan judul “Antara Jihad dan Terorisme”.
  2. “Renungan Bermakna Saat Musibah Melanda”,
  3. “Keajaiban Lailatul Qadri”,
  4. “Panduan Puasa Ramadhan”,
  5. “Indahnya Sholat Malam”,
  6. “Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah”,
  7. “Jerat-Jerat Dosa & Maksiat”,
  8. “Menggapai Ampunan Allah”,
  9. “Pedoman Syariat dalam Menilai Peristiwa (ISIS, AL-QAIDAH, BOKO HARAM, KUDETA, TERORISME, DLL)”,

Mayoritas karya tulisnya diterbitkan oleh penerbit Pustaka As-Sunnah Makassar.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Tentang Penulis". jihadbukankenistaan.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-08-12. Diakses tanggal 12 Juni 2016. 
  2. ^ a b c "Biografi Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi". Dzulqarnain.Net. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 February 2014. Diakses tanggal 12 June 2016. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]