Desertifikasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Peta kerentanan desertifikasi global
Penyusutan Danau Chad. Danau ini telah menyusut sampai 95% sejak tahun 1960.[1]

Desertifikasi adalah tipe degradasi lahan di mana lahan yang relatif kering menjadi semakin gersang, kehilangan badan air, vegetasi, dan juga kehidupan liar.[2] Desertifikasi umumnya disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan iklim dan aktivitas manusia. Desertifikasi adalah masalah lingkungan dan ekologis global yang signifikan.[3]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Berbagai kontroversi hadir dalam menentukan definisi yang layak mengenai istilah desertifikasi. Helmut Geist (2005) telah menemukan 100 definisi formal, namun definisi yang diterima lebih luas adalah definisi dari kampus Universitas Princeton yang mendefinisikan desertifikasi sebagai "proses perubahan lahan yang subur menjadi gurun, umumnya merupakan hasil dari deforestasi, kekeringan, atau praktek pertanian yang tidak layak."[4]

Diskusi paling awal dari topik ini mucnul setelah kolonisasi Prancis di Afrika Barat ketika sebuah komite studi melakukan penelitian untuk mengetahui proses perluasan Gurun Sahara di zaman prasejarah.[5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Padang pasir yang diketahui saat ini terbentuk melalui proses alami dalam waktu yang sangat panjang. Selama waktu tersebut, padang pasir telah meluas dan menyusut tanpa peran campur tangan manusia. Padang pasir prasejarah berukuran lebih besar dibandingkan padang pasir terluas saat ini, yaitu Sahara, hingga dapat disebut sebagai lautan pasir, yang kini stabil karena vegetasi.[6]

Desertifikasi memainkan peran penting dalam sejarah manusia, yang berkontribusi pada keruntuhan beberapa kerajaan besar seperti Kartagena, Yunani, dan Romawi, dan menyebabkan perpindahan penduduk dalam skala besar.[3][7][8][9]

Lahan kering menutupi 40-41% luas lahan di bumi[10][11] dan menjadi rumah bagi 2 miliar penduduk.[11] Diperkirakan 10-20% lahan kering telah terdegradasi.[12][13] Hingga tahun 1998, ekspansi ke arah selatan Padang Pasir Sahara tidak diketahui karena kurangnya pengukuran ekspansi ketika itu.[14]

Tiga lokasi utama yang menjadi pusat peradaban pada zaman dahulu, yaitu Mediterania, Mesopotamia, dan dataran tinggi loessial di China sebelumnya merupakan kawasan padat penduduk hingga desertifikasi terjadi.[15]

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Sekawanan kambing di Norte Chico, Cili. Penggembalaan hewan yang berlebihan merupakan salah satu penyebab utama desertifikasi

Penyebab utama desertifikasi adalah menghilangnya vegetasi. Ha ini terjadi karena berbagai hal seperti kekeringan, perubahan iklim, aktivitas pertanian, penggembalaan hewan berlebih, dan deforestasi. Vegetasi memainkan peran penting dalam menentukan komposisi biologis dari tanah. Sebuah studi menunjukan bahwa di berbagai lingkungan, laju erosi dan aliran air permukaan berkurang secara ekseponensial dengan meningkatnya luas tutupan vegetasi.[16] Permukaan lahan kering yang tidak terlindungi akan tertiup oleh angin atau tercuci oleh banjir bandang, meninggalkan lapisan tanah yang tidak subur dan terpanggang oleh cahaya matahari dan tidak menjadi produktif. Namun sebuah penelitian lain menunjukan bahwa pergerakan hewan ternak dan hewan liar menjadi faktor penentu utama dalam mempertahankan vegetasi dan kualitas tanah, dan menghilangnya hewan ternak dan hewan liar menjadi salah satu penyebab desertifikasi.[17][18][19][20]

Mitigasi dan pencegahan[sunting | sunting sumber]

Pelindung anti pasir di Sahara utara, Tunisia

Metode untuk mitigas atau membalikkan efek desertifikasi telah diusulkan, namun terdapat halangan dalam mengimpementasikannya. Salah satunya adalah praktek pertanian berkelanjutan yang diketahui mampu memitigiasi desertifikasi, terkadang membutuhkan biaya melebihi keuntungan petani. Masalah lainnya adalah rendahnya motivasi politik dan pembiayaan dalam reklamasi lahan dan program anti desertifikasi.[21]

Desertifikasi dikenal sebagai masalah utama terhadap keanekaragaman hayati. Beberapa negara telah mengembangkan Biodiversity Action Plan untuk mencegah efek tersebut, terutama demi melindungi spesies flora dan fauna yang terancam.[22][23]

Reforestasi mampu mencegah desertifikasi dari akar permasalahannya, yaitu deforestasi. Berbagai organisasi lingkungan seperti Eden Reforestation Projects[24] bekerja pada ruang lingkup di mana deforestasi dan desertifikasi berkontribusi pada kemiskinan. Mereka fokus pada pembinaan masyarakat lokal mengenai deforestasi dan memberdayakan mereka untuk menumbuhkan bibit yang ditanam pada musim hujan di lahan yang telah ditebang habis.[25]

Mitigasi dan pencegahan umumnya fokus pada dua aspek dasar, yaitu penyediaan air dan menyuburkan tanah. Penumbuhan vegetasi rintisan sedikit membantu kedua hal tersebut, yang pada akhirnya akan diikuti oleh vegetasi lain yang lebih besar dan memberikan manfaat lebih.

Memperbaiki kondisi tanah dapat dilakukan dengan penggunaan vegetasi pemecah angin. Pemecah angin dibangun dari tegakkan pepohonan dan semak yang digunakan untuk mencegah erosi dan evapotranspirasi tanah yang tinggi.

Beberapa jenis tanah seperti tanah liat akan terkonsolidasi (penurunan volume curah tanah) akibat minimnya keberadaan air. Pembajakan mampu mengembalikan porositas dan volume tanah.[26]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Erosi tanah di Leuchars

Mitigasi:

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Mayell, Hillary (April 26, 2001). "Shrinking African Lake Offers Lesson on Finite Resources". National Geographic News. Diakses 20 June 2011. 
  2. ^ Geist (2005), p. 2
  3. ^ a b Geist (2005), p. 4
  4. ^ Google Dictionary (2012)
  5. ^ Mortimore, Michael (1989). Adapting to drought: farmers, famines, and desertification in west Africa. Cambridge University Press. hlm. 12. ISBN 978-0-521-32312-3. 
  6. ^ United States Geological Survey, "Desertification", 1997
  7. ^ Whitford, Walter G. (2002). Ecology of desert systems. Academic Press. hlm. 277. ISBN 978-0-12-747261-4. 
  8. ^ Bogumil Terminski (2011), Towards Recognition and Protection of Forced Environmental Migrants in the Public International Law: Refugee or IDPs Umbrella, Policy Studies Organization (PSO), Washington.
  9. ^ Geist, Helmut. "The causes and progression of desertification". Antony Rowe Ltd. Ashgate publishing limited. Diakses 6 July 2013. 
  10. ^ Bauer (2007), p. 78
  11. ^ a b Johnson et al (2006), p. 1
  12. ^ Holtz (2007)
  13. ^ World Bank (2009). Gender in agriculture sourcebook. World Bank Publications. hlm. 454. ISBN 978-0-8213-7587-7. 
  14. ^ [1]
  15. ^ Dregne, H.E. "Desertification of Arid Lands". Columbia University. Diakses 3 December 2013. 
  16. ^ Geeson, Nichola et al (2002). Mediterranean desertification: a mosaic of processes and responses. John Wiley & Sons. hlm. 58. ISBN 978-0-470-84448-9. 
  17. ^ Savory, Allan. "Allan Savory: How to green the world's deserts and reverse climate change". 
  18. ^ Savory, Allan. "Holistic resource management: a conceptual framework for ecologically sound economic modelling". Ecological Economics. Elsevier Science Publishers. Diakses 10 March 2013. 
  19. ^ Butterfield, Jody (2006). Holistic Management Handbook: Healthy Land, Healthy Profits, Second Edition. Island Press. ISBN 1559638850. 
  20. ^ Savory, Allan. "Response to request for information on the "science" and "methodology" underpinning Holistic Management and holistic planned grazing". Savory Institute. Diakses 10 March 2013. 
  21. ^ Briassoulis, Helen (2005). Policy integration for complex environmental problems: the example of Mediterranean desertification. Ashgate Publishing. hlm. 237. ISBN 978-0-7546-4243-5. 
  22. ^ Techniques for Desert Reclamation by Andrew S. Goudie
  23. ^ Desert reclamation projects
  24. ^ Eden Reforestation Projects.
  25. ^  Artikel ini berisi bahan berstatus domain umum dari Pemerintah Amerika Serikat dokumen "http://pubs.usgs.gov/gip/deserts/desertification/".
  26. ^ Arid sandy soils becoming consolidated; zai-system

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]