Deindividuasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Selintas[sunting | sunting sumber]

Deindividuasi adalah sebuah konsep dalam psikologi sosial yang menjelaskan hilangnya kesadaran diri karena seseorang menjadi satu dengan kelompok[1].

Teori Ilmuwan tentang Deindividuasi[2][sunting | sunting sumber]

Dari beberapa teori ilmuwan:

  • Deindividuasi adalah keadaan dimana seseorang kehilangan kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan kehilangan pengertian evaluative terhadap dirinya(evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu (Festinger, Pepilone, & Newcomb; 1952)
  • Deindividuasi adalah bentuk pengekangan perilaku yang diinginkan individu, tetapi bertolak belakang dengan norma sosial. Teori ini juga menegaskan bahwa menyatunya individu terhadap kelompok membuat individu kehilangan identitas diri yang berakibat seseorang berperilaku agresif atau menyimpang dari perilaku sosial. (Festinger, dalam Chang, 2008)
  • Deindividuasi berfokus pada bagaimana anonimitas memberi pengaruh negatif pada perilaku sosial individu. Diener (1980) menyatakan kalo kondisi anonim menyebabkan seseorang dapat kehilangan kesadaran sosialnya sebagai individu. “Kehilangan kesadaran” ini adalah elemen kunci yang menyebabkan deindividuasi pada diri seseorang.
  • Deindividuasi merupakan tahap psikologis yang ditandai oleh hilangnya self-awareness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dalam kelompok. (Hughes, 2013)
  • Deindividuasi terjadi ketika seseorang melakukan tindakan anti sosial yang tidak diinginkan karena ketertarikan individu dalam kelompok (Singer, Brush, & Lublin, dalam Li,2010).
  • Deindividuasi adalah hilangnya kesadaran diri dan pengertian evaluatif diri sendiri yang terjadi di dalam situasi kelompok, di mana hal tersebut membantu perkembangan baik atau buruknya norma kelompok (Myers, 2008).

Faktor Penyebab Deindividuasi[1][sunting | sunting sumber]

Singer, Brush, dan Lublin (1965) menyatakan bahwa seseorang bisa mengalami deindividuasi[1] jika:

  • mempunyai banyak kesamaan dengan anggota kelompok yang lain
  • merasa yakin bahwa tindakannya tidak akan diperhatikan sebagai tindakan perorangan, namun sebagai tindakan kelompok
  • tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas aksi yang ia lakukan.

Jika tiga syarat tadi telah terpenuhi, maka deindividuasi bisa terjadi.

Menurut Reicher (1995) ada 3 faktor utama yang membuat seseorang mengalami deindividuasi, yaitu:

  • Group immersion, yang berarti meleburnya individu ke dalam kelompok. Individu tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang individu tetapi sebagai bagian dari kelompok.
  • Anonimity, yaitu saat di mana identitas pribadi seseorang tidak diketahui.
  • Hilangnya self- awareness dan self regulation. Hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mengalami deindividuasi.

Menurut Myers (2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi deindividuasi, yaitu

  • Individu berada dalam kelompok besar. Ketika individu berada pada kelompok besar, maka individu merasa bahwa tanggung jawab adalah urusan kelompok. Kesadaran individu berkurang dan berpotensi menimbulkan perilaku impulsif.
  • Anonimitas fisik. Ketika individu berada pada kelompok besar, maka individu cenderung mempersepsikan dirinya sebagai yang anonim.
  • Terstimulasi dan pengalihan aktivitas. Seringkali perilaku kelompok berawal dari hal-hal sepele. Contohnya bentrokan antar suporter yang biasanya dari saling ejek dan berujung ke tindakan anarkis.

Penelitian terkait deindividuasi[3][sunting | sunting sumber]

Milgram (1963)[sunting | sunting sumber]

Milgram pernah melakukan sebuah penelitian mengenai kepatuhan. Meski begitu, beberapa karakteristik dari hasil penelitian tersebut juga menyebutkan beberapa hasil yang serupa dengan terjadinya deindividuasi. Partisipan dibawa ke sebuah ruangan dan diminta untuk duduk di depan sebuah ruang kontrol palsu. Partisipan kemudian diberitahu oleh peneliti bahwa mereka diminta menyelesaikan sebuah tugas belajar dan mereka akan menyebutkan sejumlah kata pada "pembelajar" dan menguji ketepatan "pembelajar" tersebut. Partisipan kemudian membaca sebuah kata dan empat pilihan kemungkinan jawaban yang cocok. Bila pembelajar salah mencocokkan, maka mereka akan dihukum dengan sengat listrik (palsu, namun tidak diketahui partisipan).

Setiap jawaban salah, intensitas sengatan listrik meningkat. Partisipan diminta oleh peneliti untuk melanjutkan sengatan listrik tersebut, dan meyakinkan bahwa ini adalah bagian dari penelitian.

Seiring meningkatnya voltase, pembelajar mulai mengeluhkan rasa sakit, berteriak, dan bahkan menjerit kesakitan hingga mereka membenturkan diri ke dinding. Ketika voltase berada di tingkatan paling tinggi, pembelajar berhenti merespon.

Hasil penelitian ini menunjukkan 65% partisipan memberikan sengatan listrik paling tinggi, 450-volt. Hanya satu persen yang menolak memberikan sengatan tinggi.

Partisipan, terlindungi oleh anonimitas, mampu menjadi lebih agresif daripada mereka dalam konidisi normal.

Philip Zimbardo (1969)[sunting | sunting sumber]

Dalam penelitian yang dilakukan Zimbardo, kelompok eksperimen dibuat anonim dengan cara menutupi mereka dengan mantel besar bertudung, guna menutupi identitas. Kelompok kontrol menggunakan pakaian normal dan name tag. Masing-masing kelompok dibawa ke ruangan berbeda dan diminta untuk memberikan sengatan listrik pada kelompok lawan. Sengatan ini memiliki level dari ringan hingga berbahaya. Zimbardo mengamati bahwa partisipan dengan kondisi anonim menyengat lawannya dalam durasi lebih lama, yang memberikan rasa sakit lebih parah dibandingkan yang berada di kelompok kontrol.

Penelitian serupa menggunakan tentara memberikan hasil berbeda. Ketika tentara bisa dikenali dari kostumnya, dia memberikan sengatan lebih lama dibandingkan tentara yang anonim.

Zimbardo menyatakan bahwa sebagai hasil dari anonimitas, para tentara merasa terasing dari teman-temannya. Penelitian ini memotivasi Zimbardo untuk menguji deindividuasi dan agresi dalam sebuah penjara.

Penerapan[sunting | sunting sumber]

Walaupun sekilas tampak membahayakan, namun dalam situasi tertentu deindividuasi dapat memberi manfaat. Deindividuasi terjadi di berbagai kalangan seperti kepolisian, militer, internet, tim olahrga, geng, kelompok persaudaraan, dan organisasi sosial. Walaupun tampak berbeda, namun kelompok-kelompok ini memiliki sejumlah karakter yang dapat memicu deindividuasi. Kepolisian, militer, dan tim olahraga menggunakan seragam yang menciptakan kesamaan kelompok sehingga mengeliminir perbedaan visual masing-masing individu. Para tentara bahkan diminta untuk menggunakan gaya rambut serupa untuk menyamakan penampilan mereka.

Ketika penampilan fisik semua anggota disamakan, para anggota dapat merasa bahwa identitas individu mereka menghilang. Mereka mulai berpikir dan bertindak sebagai satu kelompok, dan kehilangan kesadaran bahwa mereka adalah individu yang dapat berpikir dan bertindak di luar kelompok. Hal ini menghilangkan perasaan malu, moral sebagai individu, kesadaran sosial, dan faktor lainnya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Variabel: Deindividuasi - PsikologiHore!" (dalam bahasa Inggris). 2016-07-25. Diakses tanggal 2016-08-18. 
  2. ^ "Deindividuation". changingminds.org. Diakses tanggal 2016-08-18. 
  3. ^ "Deindividuation". Wikipedia, the free encyclopedia (dalam bahasa Inggris). 2015-11-04. 
  1. Deindividuasi
  2. Aronson, Wilson, and Akert. Social Psychology. 7th ed. Rentice Hall:2010.
  3. Milgram, S. (1974). Obedience to authority. New York: Harper & Row
  4. Zimbardo, P. G. (1969). The human choice: Individuation, reason, and order vs. deindividuation, impulse, and chaos. *In W. J. Arnold & D. Levine (Eds.), Nebraska Symposium on Motivation(pp. 237-307). lincoln: university of nebraska press.
  5. Anonim