Daur ulang kertas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Daur ulang kertas merupakan pengolahan kembali kertas yang sudah dipakai dan tidak digunakan menjadi kertas baru yang bisa dipakai kembali. Pemanfaatan limbah kertas ini pertama kali dilakukan di jepang pada tahun 1030 disebabkan karena ketidakstabilan dalam pengelolaan pemerintahan pada saat itu. Proses pengembangan daur ulang kertas terus berlanjut di tangan seorang penemu bernama Mathias Koops dengan metodenya daur ulang kertas dengan cara penghapusan tulisan yang ada di kertas lama dan menghasilkan kertas baru yang bisa digunakan kembali. Hingga pada hari ini proses daur ulang kertas terus berkembang dan semakin baik. Dimana, secara umum proses daur ulang kertas terbagi atas tiga tahapan. Yaitu tahapan pengumpulan kertas, tahapan penghancuran (Pulping) dan tahapan pembentukan kertas baru dan beberapa hasil daur ulang lainnya seperti bahan bakar ataupun bahan kerajinan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1030, Daur ulang kerta pertama tercatat dalam sejarah di dunia. Tepatnya di jepang pada masa periode Heian. Melemahnya kemampuan negara pada saat itu dalam mengontrol produksi kertas menyebabkan banyaknya pekerja yang mengundurkan diri dan memutuskan untuk bergabung dengan masyarakat umum. Sehingga, hal tersebut menyebabkan lahirnya pabrik kertas milik swasta yang mempekerjakan para pekerja tersebut untuk memproduksi kertas. Selama proses produksi, dalam upaya penghemat bahan dan memaksimalkan hasil produksi, pada masa inilah lahir proses pembuatan kertas daur ulang dari kertas limbah yang sudah tidak digunakan lagi.<[1]

Di sisi lain, sejarah juga mencatat bahwa salah seorang penemu yang bernama Mathias Koops menemukan dan mengkaji bagaimana cara membuat kertas dengan biaya yang murah dan material yang mudah digunakan dan didapatkan. Pada tahun 1800 dan tahun 1801, Tercatat bahwa Mathias Koops menerima tiga buah hak paten dalam bidang pembuatan kertas. Salah satunya adalah hak paten dalam bentuk penghapusan tinta percetakan dan tulisan yang terdapat di kertas dari sampah kertas yang sudah tidak digunakan lagi, sehingga kertas tersebut dapat digunakan kembali.[2]

Proses daur ulang kertas bekas yang sudah tidak dipakai terus berkembang di seluruh dunia. Pada tahun 1990, sebanyak 42% dari total kertas bekas di daur ulang di singapura. Dukungan dan perhatian untuk melaksanakan daur ulang kertas pun merambah ke berbagai sektor. Dunia Internasional, sektor pemerintahan, perusahaan-perusahaan besar, bahkan organisasi internasional pun sudah memberikan perhatian khusus terhadap proses pendaur ulangan kertas bekas ini. [3]


Jenis Kertas Dalam Proses Daur Ulang[sunting | sunting sumber]

Pada dasarnya, limbah kertas dapat digolongkan menjadi tiga jenis limbah yang dapat di daur ulang. Jenis limbah tersebut adalah Mill Broke, Limbah Pra-Konsumen dan Limbah Paca-Konsumen.[3] Mill Broke atau dikenal juga dengan istilah gilingan kayu kertas.Merupakan limbah yang berasal dari pabrik kertas yang dihasilkan selama proses pembuatan kertas. limbah gilingan kayu dari pembuatan kertas baru digunakan kembali untuk membuat kertas daur ulang. kertas jenis ini merupakan kertas daur ulang asli. Limbah yang kedua adalah limbah pra-konsumen. Limbah pra-konsumen merupakan jenis kertas yang sudah siap cetak namun menjadi limbah karena tidak digunakan oleh konsumen. Contohnya seperti kertas potongan printer, kertas hiasan amplop ataupun stok kertas yang ditolak pasar. Sedangkan limbah Pasca-Konsumen adalah jenis limbah kertas yang telah digunakan oleh konsumen dan menjadi limbah saat tidak digunakan lagi. Contohnya seperti kertas bekas dari perkantoran dan rumah, koran bekas dan kemasan bekas.[3]

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua jenis limbah kertas dapat di daur ulang. Setiap kertas memiliki kemampuan berbeda-beda untuk dapat di daur ulang. Ada tiga jenis pembagian kertas dalam proses daur ulang. Pertama, kertas dapat di daur ulang dengan kualitas baik. Kedua, kertas dapat di daur ulang dengan kualitas kurang baik, dan yang ketiga kertas yang tidak dapat di daur ulang.[4][5]


Tahapan Daur Ulang Kertas Metode Sederhana[sunting | sunting sumber]

Kertas koran merupakan salah satu jenis kertas yang dapat di daur ulang dengan metode sederhana

Kertas merupakan salah satu produk atau bahan yang sangat mudah untuk didaur ulang. Hal ini dikarenakan bahan dasar dari kertas berasal dari kayu (bahan alam). Hal ini membuat kertas saat kertas dicampurkan dengan air, maka kertas akan berubah kembali menjadi serat dengan mudah.[2]Proses daur ulang kertas dapat dilakukan menggunakan metode dan peralatan sederhana. Kertas yang akan di daur ulang dapat dikumpulkan ke dalam sebuah wadah dan di rendam di dalam air selama 12-24 jam. hal ini agar seluruh kertas yang sudah di rendam bisa menjali lunak dan mudah hancur. Setelah proses perendaman, dilanjutkan dengan proses penghancuran (pulping). Memarut semua kertas yang sudah direndam sampai hancur hingga membetuk sepeti bubur kertas. Peralatan sederhana seperti blender bisa digunakan untuk membentuk bubur kertas. Setelah itu, campurkan bubur kertas dengan bahan perekat ke dalam wadah berisi air. Bahan sederhana yang bisa digunakan sebagai bahan perekat dapat berupa tepung kanji yang sudah cicampur air hangat. Hal ini bertujuan agar partikel kertas dalam bentuk bubur kertas dapat bersatu kembali satu sama lain untuk membentuk kertas baru. Setelah semua bahan tercampur, maka proses pencetakan kertas baru bisa di mulai dengan memisahkan partikel kertas dan kandungan air. Kain di atas meja merupakan alat sederhana yang dapat digunakan untuk memisahkan partikel kertas dan air. Dengan bantuan pemanas dan cahaya matahari, partikel kertas dapat mengering dan membentuk kertas baru.[6]


Produk Daur Ulang Kertas[sunting | sunting sumber]

Salah satu bentuk daur ulang kertas yang digunakan untuk membuat produk kerajinan tangan yang artistik

Bahan Bakar[sunting | sunting sumber]

Limbah kertas berupa limbah rejek industri kertas yang di daur ulang bisa diolah dan dijadikan sebagai bahan bakar. Karena komponen utama dari limbah rejek industri kertas berbahan baku kertas yang terdiri dari plastik dan serat. Pelet plastik yang terkandung di dalam limbah rejek industri kertas mengandung nilai kalor tinggi, kadar abu, sulfur rendah dan kadar mineral abu rendah. Komponen ini juga memiliki suhu pelunakan (ST) > 1.150 °C. Hal ini dapat digunakan sebagai substansi batubara bahan bakar boiler yang tidak menyebabkan slagging dan fouling di dalam boiler.[7][5]

Kertas dan Bahan Kerajinan[sunting | sunting sumber]

Bubur kertas dalam bentuk pulp yang bersifat padat dapat diolah menjadi kertas kembali ataupun bahan dasar kotak, seperti bahan dasar untuk pembuatan kotak pensil dari kertas, ataupun produk kerajinan lainnya.[8]

Lihat Juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hintons (25 September 2015). "History of Recycling (Timeline)". Hintons. Diakses tanggal 11 November 2019. 
  2. ^ a b Educational, in Nature (2011). Manufacturing Paper Recycling A look at our most recycled product. Goergia: Georgia Pacific Corporation. hlm. 6. 
  3. ^ a b c Cheang, Monica (Maret 1992). "Debunking the Myths of Recycled Paper". Internet Archive Wayback machine. Diakses tanggal 11 November 2019. 
  4. ^ Marsini, Rina dan Taufan Hidayat (2015). "Design of Paper Recyclability Determination Method" (PDF). Teknologi pulp dan kertas: 27. 
  5. ^ a b Sugiharto,M.Sc, Ir. Andoyo, dkk (2015). Prosiding Seminar Teknologi Pulp dan Kertas 2015. Bandung: Balai Besar Pulp dan Kertas. hlm. 111. ISBN 978-602-17761-3-1. 
  6. ^ Arfah, Mahrani (2017). "Pemanfaatan Limbah Kertas Menjadi Kertas Daur Ulang Bernilai Tambah oleh Mahasiswa". Buletin Utama Teknik. 13 (1): 31. 
  7. ^ Setiawan, Yusup, Sri Purwati, Aep Surcahman, Reza Bastari I.W., Kristaufan Joko Pramono (2015). "Utilization of Reject Waste Plastic of Paper Industry for Fuel" (PDF). Balai Besar Pulp dan Kertas: 6. 
  8. ^ Rachmawati, Novia, Nanda Damayanti, Ratna Jamilatul M., Dimas Iqbal, Sari Edi (2014). ""Angbi Pancase" Anggry Bird Pencil Case Made From Waste Paper". UNESA Journal of Chemistry. 3 (2): 6.