Daftar Raja Inderapura

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Periode Kerajaan Air Pura (800 - 1100 M)[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Air Pura didirikan oleh bangsawan pendatang di tanah Inderajati lama yang berasal dari India - Turki. Raja pertamanya bernama Zatullahsyah, adik kandung Hidayatullahsyah.

Berikut nama-nama atau gelar-gelar raja pada masa ini:

  1. Sultan Zatullahsyah
  2. Sultan Iskandar Johansyah, putra Zatullahsyah
  3. Sultan Maharaja Alif, putra Hidayatullahsyah
  4. Rajo Tuo, putra Gulumi atau keponakan Iskandar
  5. Sultan Ramadunsyah, anak Raja Tuo
  6. Sultan Bahrunsyah, anak Ramadunsyah
  7. Sultan Tarafal Bahilsyah, anak Bahrunsyah
  8. Tengku Dusi (Reno Jamilan), adik dari Sri Indo Jalito
  9. Sultan Mansursyah, anak Tuno Suli dan Reno Jamilan
  10. Sultan Inayatsyah, anak Reno Tuo dengan Hasan atau keponakan dari Mansursyah.
  11. Sultan Khairullahsyah (Cindurmato), anak Kembang Bandari, cucu dari Gadis Jamilan
  12. Sultan Iskandar Bagagar Alamsyah, anak Hairullahsyah
  13. Sultan Firmansyah, anak Iskandar Bagagar Alamsyah
  14. Sultan Nurmansyah, anak Firmansyah
  15. Sultan Usmansyah, anak Firmansyah
  16. Sultan Muhamadsyah /Mardhu Alam, anak Nurmansyah
  17. Sultan Mohamadsyah (Ngoh –Ngoh), anak Hartini binti Sultan Usmansyah
  18. Sultan Muzafarsyah, anak Sarifah binti Sultan Usmansyah

Periode Kerajaan Indrajati (1100 - 1500 M)[sunting | sunting sumber]

  1. Indrayana, seorang putra mahkota yang melarikan diri dari Sriwijaya karena ia berganti agama menjadi muslim.
  2. Sultan Indrasyah Galomatsyah, putra dari Indrayana

Dinasti Jamalul Alam:

  1. Sultan Sri Maharajo Dirajo Muhyiddinsyah Sultan Muhammadsyah,
  2. Sultan Sri Maharajo Dirajo Alamsyah,
  3. Sri Sultan Firmansyah
  4. Sultan Daulat Alamsyah,
  5. Sultan Usmansyah Sultan Muhammadsyah (Tuanku Berdarah Putih),
  6. Sultan Firmansyah Sultan Mandaro Putih gelar Tuanku Hilang di Parit,
  7. Sri Sultan Muhammadsyah (Marah Muhammad Ali Akbar Sultan Muhammadsyah).

Dinasti lain:

  1. Sultan Iskandar Alam Daulat,
  2. Sultan Alam Mughatsyah, di Aceh ada Mughayatsyah.
  3. Sultan Bagagar Alamsyah.
  4. Sultan Usmansyah Sultan Muhammadsyah,
  5. Sultan Jamal al-Alam Sultan Maradu Alamsyah, kembali memakai gelar Jamalul Alam
  6. Sultan Alidinsyah
  7. Sultan Samejalsyah keturunan Putri Gembalo Intan anak Sultan Alidinsyah raja Indrapura (1513).
  8. Sultan Baridinsyah (1520),
  9. Dang Tuanku Sultan Remendung(1520 - 1524, makamnya di Bukit Selasih Batangkapas.

Periode Kesultanan Inderapura (1500 - 1824 M)[sunting | sunting sumber]

  1. Sultan Iskandar Johan Berdaulatsyah
  2. Sultan Usmansyah Sultan Firmansyah (1534 - 1556),
  3. Sultan Jamalul Alam YDD Sultan Sri Gegar Alamsyah Sultan Muhammadsyah (1560),
  4. Sultan Zamzamsyah Sultan Muhammadsyah , 1600-1635,
  5. Sultan Khairullahsyah Sultan Muhammadsyah (1635-1660),
  6. Sultan Bangun Sri Sultan Gandamsyah,
  7. Sri Sultan Daulat Pesisir Barat,
  8. Sultan Inayatsyah (1640),
  9. Sultan Mazafarsyah (1660-1687),
  10. Marah Amirullah Sultan Firmansyah.
  11. Sultan Muhammad Ali Akbar gelar Raja Adil (1680),
  12. Marah Akhirullah Sultan Muhammadsyah (w.1838). Sesudah ini 2 kali Inderapura dipimpin seorang Ratu
  13. Puti Rekna Candra Dewi.
  14. Puti Rekna Alun (Tuanku Padusi Nan Gepuk),
  15. Sultan Syahirullahsyah Sultan Firmansyah (1688-1707),
  16. Sultan Zamzamsyah Sultan Firmansyah Tuanku Pulang Dari Jawa berhubungan dengan Kesultanan Jogyakarta (1707-1737).
  17. Sultan Indra Rahimsyah Sultan Muhammadsyah Tuanku Pulang Dari Jawa II (1774-1804),
  18. Sultan Inayatsyah Sultan Firmansyah, 1804-1840,
  19. Sultan Muhammad Jayakarma (1818 - 1824)
  20. Sultan Takdir Khalifatullah Inayatsyah,

Periode Regen (1824 - 1911, Zaman Hindia - Belanda)[sunting | sunting sumber]

  1. Abdul Muthalib Sultan Takdir Khalifatullahsyah (kemudian menajdi regen di Mukomuko, pensiun 1870).
  2. Regen Marah Yahya Ahmadsyah (1825-1857),
  3. Regen Marah Muhammad Arifin (1857-1858),
  4. Regen Marah Muhammad Baki Sultan Firman Syah (1858-1891),
  5. Regen Marah Muhamamd Rusli Sultan Abdullah (1891 - 1911).

Kebangkitan Kembali Kesultanan Inderapura[sunting | sunting sumber]

Setelah seabad lebih Kesultanan Inderapura bagai tinggal nama, tak ada seorang sultan atau raja pun yang dinobatkan untuk menduduki singgasana. Kerajaan yang berjaya di alam Minangkabau ini pernah menguasai daerah sepanjang pantai Barat Sumatera pada masa lampau. Hari ini, 1 Desember 2012, tepat 101 tahun tiarapnya kesultanan tersebut seiring Istana Inderapura dibakar penjajah masa itu.

Pada tahun ke-101 kesultanan tertua di Nusantara menurut Bunda Ratu Kuasa Alam Kusumadiningrat Dato' Seri Saripah Murliani, geliatnya harus dibangkitkan lagi. Tampuk Kesultanan harus di pegang oleh waris yang tertera pada ranji silsilah Kesultanan Inderapura.

Pemashuran sang Sultan pun dihelat dengan kemegahan selayaknya sebuah kerajaan bermarwah, Minggu (1/12), bertempat di Hotel Grand Ina Muara Padang. Tidak kurang dari 20 raja dan sultan se-Nusantara menghadiri penobatan Youdi Prayogo,SE, ME bergelar Sultan Indera Rahimsyah Daulat Sultan Muhammad Syah sebagai Sultan ke-35 setelah pemegang waris ke-34 memasuki uzur, berumur kurang lebih 99 tahun.

Penobatan Sultan Inderapura ke-35 Youdi Prayogo SE,Gelar Sultan Indera Rahim Syah Daulat Sultan Muhammad Syah Tanggal 01 Desember 2012[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 1 Desember 2012 dinobatkan kembali Youdhi Prayogo sebagai Sultan Inderapura yang ke-35, bertempat di Hotel Ina Muara, Padang, Sumatera Barat, dihadiri oleh 20 raja dan sultan se-Nusantara, seperti Raja Samu Samu VI Maluku Yang Mulia (YM) Upu Latu M.L Benny Ahmad Samu-Samu, Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat YM KGHP Hadi Suryo Notonogoro, Sultan Muda Banten YM Tubagus Ismetullah Al Abbas, Kesultanan Bima NTB YM Dr.Siti Mariyam Salahoeddin, Kesultanan Bulungan YM Datu Abdul Hamid, Raja Komisi Seran VIII Kaimana Papua Barat YM Abdul Hakim Achmad Aituarrauw, Ketua Umum Pecinta Alam dan Adat Nusantara YM Ully Sigar Rusaidi dan Raja Puri Karang Asem YM Anak Agung Putra Agung.

Kemudian, Dato' Temenggong Saipol Bahri bin Hj Shuib, Kesultanan Muko-Muko, Daulat Raja Agung Panuturi Hasadoan, Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi YM Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin, Haji Raja Sulaiman Bin Raja Abdullah, Raja Ibrahim bin Raja Abdullah dan Kesultanan Inderapura YM RD Asbeni Sabral, tamu kehormatan dan kerabat Inderapura dari Malaysia serta tokoh masyarakat/keluarga besar Kesultanan Inderapura Melayu Tinggi Kampung Dalam Inderapura.

Secara silsilah, Youdhi Prayogo adalah putra dari Putri Hanim Hatifah. Putri Hanim Hatifah merupakan adik perempuan dari Sultan Burhanuddin gelar Sultan Alamsyah Firmansyah, yang dinobatkan menjadi Sultan setelah adik laki-lakinya mangkat, yang bernama Sultan Rizalsyah gelar Sultan Mustapura. Sultan Burhanuddin gelar Sultan Alamsyah Firmansyah mewarisi tahta Sultan Inderapura dari mamaknya (paman matrilinealnya) yang bergelar Sultan Setiawansyah. Sultan Setiawansyah mewarisi dari mamaknya Sultan Muhammad Baki.

Penobatan Youdhi Prayogo sebagai Sultan Inderapura mendapat penentangan dan penolakan dari beberapa keluarga keturunan dan ahli waris Kesultanan Inderapura yang lain seperti fihak keturunan matrilineal istri Sultan Muhammad Baki dan fihak ahli waris matrilineal Regent Muhammad Rusli (Regen terakhir Inderapura).

Sampai sekarang masih terjadi aksi "perang dingin" antara masing2 keluarga ahli waris ini.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]