Candi Deres

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Candi Deres berada di tengah areal persawahan di sebuah bukit kecil atau gumuk. Sekitar areal candi deres terdapat beberapa gumuk yang juga ditemukan berbagai benda-benda purbakala yang terkait dengan keberadaan Candi Deres.Lokasi Candi Deres berada di Rt 01 Rw 03 Dusun Krajan Desa Purwoasri Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember.

Riwayat Penemuan Candi Deres diketahui dalam catatan arsip Notulen yang berjudul Notulen van de Algemeene en Directievergaderingen van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten and Wetenschappen pada tahun 1900 Masehi. Juga terdapat sebuah foto yang memperlihatkan kondisi Candi Deres dengan sebutan nama lain sebagai Tjandi Retja (atau Candi Reco) pada laporan tertanda tahun 1904.

N. J. Krom pada tahun 1920 melaporkan kondisi dan situasi Tjandi Retjo, penamaan Krom dalam laporannya dalam buku yang berjudul Inleiding Tot De Hindoe – Javaansche Kunst (Pengantar tentang Seni Hindu Jawa). Buku ini disusun Krom dan diterbitkan pada tahun 1920.

Tjandi Retjo (Candi Reco), begitu sebutan lain dari Candi Deres, disebutkan dalam laporan tahun 1904 dan tulisan Krom tahun 1920 ditemukan di Menampoeh (Menampu) yang berada di District (Kawedanan) Puger. Menampu merupakan nama lama dari Kecamatan Gumukmas, yang kini menjadi salah satu nama desa di Kecamatan Gumukmas. Menampu awalnya memiliki luas seluruh Kecamatan Gumukmas, yang kini menjadi salah satu desa bagian dari Kecamatan Gumukmas. Semula lokasi Candi Deres berada dalam wilayah desa Gumukmas Kecamatan Gumukmas, selanjutnya setelah terjadi pemekaran Desa Gumukmas menjadi dua desa (Desa Gumukmas dan desa Purwoasri), lokasi Candi Deres menjadi bagian dari Desa Purwoasri yang berada di Dusun Krajan. Disebut sebagai Tjandi Retjo karena di areal candi ini ditemukan beberapa reco atau patung.

Keterangan dari Krom, di lokasi Tjandi Retjo ini ditemukan patung Durga bersenjata empat yang dikirim ke Museum di Batavia / sekarang dikenal sebagai Kota Jakarta (sekarang menjadi koleksi Museum Nasional) dan juga ditemukan patung Nandi kecil. Kondisi Tjandi Retjo alias Candi Deres antara tahun 1900 sampai 1904 dapat dilihat dari foto yang diambil pada tahun 1904 Masehi dengan kondisi yang masih relatif utuh dan masih terlihat bentuk aslinya. Foto Tjandi Retjo pada tahun 1904 dipublikasikan oleh lembaga KITLV (Koninklijk Instituut voor Taat-, Land- en Volkenkunde).

Kondisi Candi Deres saat ini, antara tahun 2017 – 2018, sudah berbentuk reruntuhan dan terlihat sebagai tumpukan batu bata. Penyebab kerusakan bisa dilihat karena dua faktor, yaitu: faktor alam dan keusilan tangan manusia. Beberapa koleksi dari temuan di lokasi Candi Deres, berupa beberapa patung dan relief candi, disimpan di Gudang Penyimpanan Benda Cagar Budaya Kabupaten Jember yang terletak lokasi Kantor Pendidikan Nasional (Diknas) Jember. Penyimpanan dan pemeliharaan dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember bermitra teknis dengan Koordinator Wilayah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Faktor alam yang merusak akibat perubahan musim serta tumbuhnya beberapa pohon yang akarnya menerobos sela-sela bangunan candi sehingga lambat laun merusak kondisi keberadaan bangunan Candi Deres yang terjadi secara terus menerus.

Sedangkan faktor manusia akibat kejahilan dan keusilan tangan manusia. Pasca G 30 S PKI tahun 1965 Masehi terjadi pengrusakan bangunan candi, karena diduga Candi Deres dipergunakan sarana syirik, sehingga candi ini dianggap perlu dimusnahkan. Serta, adanya beberapa kalangan masyarakat yang mempergunakan batu bata candi untuk bangunan, serta disatroni pencuri barang antik. Keberadaan Candi Deres atau Tjandi Reco ini memiliki beberapa potensi yang terkait dengan beberapa bidang, yaitu: 1. Keberadaan Candi Deres sebagai peninggalan atau warisan sejarah memiliki cerita serta adat istiadat dari keberadaannya dan penggunaannya, sehingga menjadi latar belakang dari keberadaan desa yang terdapat di sekitar lingkungan Candi Deres, serta menjadi latar belakang dari keberadaan Kabupaten Jember dalam hal Warisan Nasional dalam kerangka membentuk Identitas bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 2. Sebagai Pusat Kajian Sejarah, Budaya, dan Ilmu Pengetahuan; 3. Sebagai Objek Wisata Sejarah dan Budaya. Demikian gambaran ringkas tentang keberadaan dari Candi Deres, yang disebut juga sebagai Tjandi Retjo, untuk selanjutnya terus digali dan dikaji tentang potensi dari adanya Candi Deres yang menjadi Pusaka Budaya Bangsa Indonesia.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Hadi, Y. Setiyo. (2019). Riwayat Penemuan Candi Deres / Candi Retja. Jember: Boemi Poeger.

Perpustakaan[sunting | sunting sumber]

Ayattroehaedi (dkk), Kamus Istilah Arkeologi I, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, 1981.

Harianti, V. Indah Sri Pinasti, dan Sudrajat, Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Sekitar Candi Terhadap Candi dan Upaya Pelestariannya (Laporan Hasil Penelitian), Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2007.

Java. Res. Besoeki: Menampoe, Batavia: Topographische Inrichting, 1913. Joordaan, Roy, (ed.), Memuji Prambanan: Bunga Rampai Para Cendekiawan Belanda Tentang Komplek Percandian Loro Jonggrang, Jakarta: KITLV Jakarta dan Yayasan Obor Indonesia, 2009. Krom, Dr. N. J., Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst, ‗s-Gravenhage, 1920.

Laporan Kerja Ekskavasi Gumukmas I 1985 Candi Deres (Gumuk Candi) (10 – 25 Desember 1985, Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Proyek Penelitian Purbakala Yogyakarta, 1985 / 1986.

Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Di Kec. Gumukmas Jember Tahun 1987, Yogyakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Arkeologi Yogyakarta, 1987. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Ekskavasi Gumukmas II Candi Deres (Gumuk Candi) 1989, Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Arkeologi Yogyakarta, 1989/1990.

Lutfi, Ismail, “Desa-desa Kuno di Malang Periode Abad ke- 9 – 10 Masehi: Tinjauan Singkat Berbasiskan Data Tekstual Prasasti dan Toponimi‖, yang dimuat dalam jurnal Sejarah, Tahun Kesembilan, Nomor 1, Februari 2003, hal. 28 sampai 41.

Notulen van de Algemeene en Directievergaderingen van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten and Wetenschappen, opgericht 1778. Deel XXXVIII – 1900, Batavia & ‗sGravenhage: . Kollf &Co en M. Nijhoft, 1901.

Rahadian, ―The Persistence of ‗Candi‘ Representation in Modern Arsitecture in Indonesia: A Study Of Architectural Representation in Post Colonial Era‖, dalam International Journal of Engineering & Technology IJET-IJENS, Vol: 11 No: 04, halaman 134 sampai 141.

Rahadian, Transformasi Arsitektur Pemukiman Tradisional di Jawa dari Masa Hindu Buddha ke Masa Islam (Transformation in the Traditional Architecture Settlement on Jawa From Hindu Budhist Era to The Islamic Era, Bandung: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan, 2007.

Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera – 1904 – uitgegeven voor rekening van het Bataviasch Genootschap van Kunsten en WetenschappenI, Batavia n ‗sGravenhage: Albrecht & Co en M.Nijhoff, 1906.

Rapporten van den Ouudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie 1923 – Inventaris der Hindoe-oudheden op den grondslag van Dr. R.D.M. Verbeek’s Oudheden van Java samengesteld op het Oudheidkundig Bureau – Derde Deel – Uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap, Batavia – ‗s Gravenhage: Albrecht&Co en M. Nijhoff, 1923,

Sedyawati, Edi, Ellya Iswati, Kusparyati Boedhijono, dan Dyah Widjajanti D., Kosakata Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Melayu Masa Kini, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Soekmono, DR. R. Candi: Fungsi dan Pengertiannya, Disertasi Dokto, Jakarta: Universitas Indonesia, 1977.

Soekmono, DR. R., Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Yogyakarta: Kanisius, 2001. Suarbhawa, I Gusti Made, ―Pemekaran Desa Pada Zaman Bali Kuna‖, danlam FA. No. I / 2000, halaman 40 sampai 48.