Budaya teh Tionghoa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Budaya teh Tionghoa merujuk pada cara-cara menyiapkan teh pada saat meminum teh di Cina. Budaya teh Tionghoa ini berbeda dalam cara menyiapkan, rasa, dan  saat untuk meminum teh dengan yang di negara Eropa, seperti Inggris dan negara Asia lainnya, seperti Jepang. Teh memang masih dikonsumsi rutin, baik dalam acara santai maupun acara resmi. Selain menjadi minuman yang disukai umum, teh juga digunakan sebagai minuman tradisional dan untuk pengobatan.

Preperations for a tea ceremony.jpg

Minum teh telah menjadi semacam ritual di kalangan masyarakat Tionghoa. Di Cina, budaya minum teh dikenal sejak 3.000 tahun sebelum Masehi (SM), yaitu pada zaman Kaisar Shen Nung berkuasa. Bahkan, berlanjut di Jepang sejak masa Kamakaru (1192 – 1333) oleh pengikut Zen.

Tujuan minum teh, agar mereka mendapatkan kesegaran tubuh selama meditasi yang bisa memakan waktu berjam-jam. Pada akhirnya, tradisi minum teh menjadi bagian dari upacara ritual Zen.

Selama abad ke-15 hal itu menjadi acara tetap berkumpul di lingkungan khusus untuk mendiskusikan berbagai hal.

Meski saat itu belum bisa dibuktikan khasiat teh secara ilmiah, namun masyarakat Tionghoa sudah meyakini teh dapat menetralisasi kadar lemak dalam darah, setelah mereka mengonsumsi makanan yang mengandung lemak.

Mereka juga percaya, minum teh dapat melancarkan buang air seni, menghambat diare, dan sederet kegunaan lainnya.

Kebiasaan meminum teh[sunting | sunting sumber]

Terdapat berbagai adat khusus mengenai bagaimana teh disiapkan dan diminum di Cina

  • Sebagai bentuk penghormatan

Di dalam masyarakat tradisional Cina, anak muda menunjukkan penghormatannya pada yang lebih tua dengan menawarkan secangkir teh. Saat liburan, pergi ke restoran untuk minum teh bersama orang yang lebih tua merupakan hal yang umum. Di masa lalu, orang dengan kasta yang lebih rendah menyajikan teh kepada orang dengan kasta lebih tinggi. Namun dengan liberalisasi masyarakat Cina sekarang, adat kebiasaan ini mulai memudar. Kadang kala orang tua menuangkan anaknya secangkir teh untuk menunjukkan kepedulian, atau bahkan seorang bos menuangkan teh untuk anak-anak buahnya untuk membentuk relasi yang baik.Bagaimanapun juga, dalam acara resmi, adat mendasar tetap ditaati.

  • Acara Keluarga

Setelah anak-anak meninggalkan rumah untuk kerja/menikah, mereka jadi jarang menghabiskan waktu waktu dengan orang tua. Maka, pergi ke restoran dan minum teh menjadi kegiatan yang penting untuk membentuk lagi ikatan keluarga. Setiap hari minggu restoran di Cina penuh dengan keluarg, apalagi saat liburan. Fenomena ini membuktikan pentingnya teh dalam nilai kekeluargaan di Cina.

  • Permintaan Maaf

Menawarkan teh bisa menjadi bagian dari permintaan maaf resmi di budaya Cina. Misalnya, seorang anak yang sudah salah bertingkah laku bisa menyajikan teh ke orang tuanya sebagai tanda penyesalan dan meminta ampun.

  • Sebagai tanda terima kasih dan merayakan pernikahan

Pada upacara pernikahan adat Cina, mempelai pria dan wanita berlutut di depan orang tua masing-masing dan memberikan teh kemudian berterima kasih pada mereka. Hal ini merupakan cara yang sopan dan saleh untuk mengekspresikan bentuk terimakasih karena telah dibesarkan. Dalam beberapa acara, mempelai pria menyajikan teh ke orang tua mempelai wanita, dan sebaliknua untuk menandakan penggabungan dua keluarga.