Bodawpaya


Bodawpaya (Burma: ဘိုးတော်ဘုရာ; Thai: ปดุง) merupakan salah satu raja terbesar Myanmar.[1] Ia merupakan raja keenam yang berasal dari Dinasti Alaungpaya.[1][2] Lahir dengan nama Maung Shwe Waing yang kemudian berganti menjadi Badon Min, ia merupakan putra keempat Raja Alaungpaya, raja pertama sekaligus pendiri Dinasti Alaungpaya, dinasti ketiga Kekaisaran Burma. Bodawpaya diangkat menjadi raja setelah menggeser posisi keponakannya, Raja Phaungkaza Maung Maung, yang merupakan putra dari abangnya yang tertua, Raja Naungdawgyi, di Ava. Raja Alaungpaya kemudian memindahkan ibukota kerajaan kembali ke Amarapura pada tahun 1782. Sang Raja mendapat julukan Hsinbyumyashin ('Penguasa Gajah Putih'), jangan bingung dengan nama abangnya Hsinbyushin. Namun demikian, ia terkenal di kalangan penerusnya sebagai Bodawpaya (Kakek Kerajaan) dalam hubungannya dengan raja penerusnya yang merupakan cucunya, Raja Bagyidaw (Paman Tetua Kerajaan), yang pada gilirannya diberi nama ini dalam hubungannya dengan keponakannya, Raja Mindon Min. Sang Raja merupakan ayah dari 70 putra dan 67 putri yang lahir dari sekitar 54 ratunya.
Pada tahun 1784 Bodawpaya menginvasi Rakhine, kerajaan maritim di pantai timur Teluk Benggala.[1] Pada invasi tersebut ia menangkap Raja Thamada dan mendeportasi lebih dari 20.000 orang ke Myanmar sebagai budak.[1][2] Keberhasilan dalam menangkap Raja Thamada menuntunnya untuk menyerang Siam (Thailand) pada tahun 1785.[1][2] Akan tetapi, dalam serangan tersebut pasukannya mengalami kekalahan.[1]
Peraturan yang diterapkan Bodawpaya di Rakhine sangat menindas sehingga menimbulkan pemberontakan pada tahun 1794.[1] Ketika ia mengirim pasukan untuk menumpas para pemberontak, ribuan pengungsi melarikan diri ke wilayah Inggris.[1] Hal ini menyebabkan kondisi di perbatasan menjadi tidak tenang dan pada tahun 1795 Inggris mengirim wakilnya ke Amarapura, ibu kota Myanmar untuk bernegosiasi dengan Bodawpaya.[1]
Bodawpaya adalah umat Buddha yang menyatakan dirinya sebagai Arimittya (Maitreya mulia) dan ditakdirkan untuk menaklukkan dunia.[1][2] Pada masa pemerintahannya ia menghukum kaum heterodoks, peminum, perokok dan pembunuh binatang dengan hukuman mati.[1] Pada masa pemerintahannya ia juga membangun banyak pagoda.[1] Proyek ambisius yang dilakukannya adalah membangun Pagoda Mingun yang tingginya 500 kaki (150 m).[1]