Bai'at 'Aqabah Pertama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bai'at 'Aqabah I (621 M) adalah perjanjian Nabi Muhammad dengan 12 orang penduduk Yatsrib yang sudah memeluk Islam –sebagian di antara mereka ialah orang-orang yang pernah berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menerima dakwahnya dan beriman kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun sebelumnya– datang ke Makkah menunaikan ibadah haji. Mereka pun berjumpa dengan Rasulullah dan membaiat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

Isi baiat itu seperti dalam riwayat berikut ini:

Imam al-Bukhâri [5], Muslim [6], an-Nasâ`i [7], Ahmad [8], Ibnu Ishâq [9], Ibnu Sa’ad [10], dan lain-lain meriwayatkan dari hadits ‘Ubâdah bin Shâmit Radhiyallahu ‘anhu, ia merupakan salah seorang yang menunaikan haji kala itu. Mereka meriwayatkan bunyi bai’ah tersebut, yaitu perkataan ‘Ubâdah: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka:


تَعَالَوْا بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُونِي فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ بِهِ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ لَهُ كَفَّارَةٌ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَسَتَرَهُ اللَّهُ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ وَإِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ


“Kemarilah, hendaklah kalian berbai’at kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan apapun, kalian tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak durhaka kepadaku dalam perkara yang ma’ruf. Barang siapa yang menepati bai’at (janji) ini, maka ia akan mendapatkan pahala dari Allah Azza wa Jalla. Barang siapa yang melanggar salah satunya, lalu dihukum di dunia, maka hukuman itu menjadi kaffarah (penghapus dosa) baginya. Barang siapa yang melanggar salah satunya, lalu Allah Azza wa Jalla menutupi kesalahannya tersebut, maka urusannya dengan Allah, jika Allah Azza wa Jalla berkehendak, maka Allah k bisa menghukumnya; jika Allah Azza wa Jalla berkehendak, maka Allah Azza wa Jalla bisa memaafkanya”.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Nabi Muhammad mengajak Suwaid bin As-Shamit untuk memeluk agama Islam. Suwaid bin As-Shamit berasal dari suku Aus di Madinah. Ia bertemu dengan Nabi Muhammad ketika sedang melakukan haji. Suwaid bin As-Shamit menerima ajakan tersebut dan menyebarkan tentang Islam ke penduduk Madinah. Penyebaran Islam di Madinah berhenti karena Suwaid bin As-Shamit ternubuh dalam Perang Bu'ats. Perang ini melibatkan Suku Aus dan Suku Khazraj yang sama-sama menetap di Madinah.[1]

Pada musim haji berikutnya, Nabi Muhammad kembali mengajak penduduk Madinah untuk memeluk agama Islam. Kali ini, penduduk yang diajak berasal dari suku Khazraj. Mereka menerima ajakan Nabi Muhammad.[2] Mereka lalu kembali ke Madinah dan menyatakan keislaman mereka sambil menyebarkannya. Akhirnya, ajaran Islam didengar oleh para penduduk Madinah. Pada musim haji berikutnya, 12 orang penduduk Madinah datang menemui Nabi Muhammad di Makkah. Pertemuan ini diadakan di Aqabah. Mereka semua kemudian melakukan baiat dan menyatakan keimanan mereka kepada Allah dan meninggalkan fanatisme masa jahiliah. Peristiwa inilah yang disebut Bai'at Aqabah Pertama.[3]

Di dalam sebuah sumber sejarah dikatakan tentang 6 orang dari Yatsrib yang telah masuk Islam pada musim haji tahun 11 H dari kenabian dan berjanji kepada Rasulullah untuk menyampaikan risalah beliau kepada kaum mereka. Dari hasil itu, ternyata pada musim haji berikutnya, yakni tahun 12 H dari kenabian, bertepatan dengan Juli 621 M, datanglah 12 orang laki-laki, di antaranya 5 orang dari 6 orang yang dulu pernah menghubungi beliau pada musim lalu. Sementara seorang lagi yang tidak hadir kali ini adalah Jabir bin Abdullah bin Ri'ab. Adapun tujuh orang baru lainnya adalah:[4]

  1. Mu'adz bin Al-Harits bin Afro dari Bani Najjar (suku Khazraj)
  2. Dzakwan bin Abdul Qais dari Bani Zuraiq (suku Khazraj)
  3. Ubadah bin Ash-Shamit dari Bani Ghanam (suku Khazraj)
  4. Yazid bin Tsa'labah, sekutu Bani Ghanam (suku Khazraj)
  5. Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah dari suku Bani Salim (suku Khazraj)
  6. Abu Al-Haitsam bin Ali Taihan dari suku Bani Abdul Asyhal (suku Aus)
  7. Uwaim bin Sa'idah dari Bani Amr bin Auf (suku Aus)[4]

Dengan demikian, dua orang terakhir berasal dari suku Aus, Sedangkan sisanya berasal dari suku Khazraj. Mereka ini bertemu dengan Rasulullah di Sisi bukit Aqabah di Mina. Mereka pun membaiat beliau seperti baiat yang pernah dilakukan oleh kaum wanita kepada beliau ketika penaklukan kota Blekkah (Fathu Mekkah). Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit bahwasanya Rasulullah bersabda, "Kemarilah dan berbaiat kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian dan tidak berbuat maksiat terhadapku dalam hal yang makruf. Siapa saja di antara kamu yang menepati, maka Allah-Iah yang akan mengganjar pahalanya; dan siapa saja yang mengenai sesuatu dari hal itu lalu diberi sanksi karenanya di dunia, maka itu adalah penebus dosa baginya; siapa saja yang mengenai sesuatu dari itu lalu Allah tutup aibnya, maka urusannya tergantung kepada Allah; jika Dia menghendaki, Dia mengazabnya dan jika Dia menghendaki, Dia akan memaafkannya."[4]

Ubadah berkata, "Lalu aku mernbaiat beliau atas hal itu." Dalam naskah yang Iain disebutkan, "Laju kami membaiat beliau atas hal itu." Setelah baiat tersebut rampung dan musim haji pun berlalu, Nabi ingin mengutus salah seorang dari para p embaiat tersebut sebagai duta pertama di Bladinah guna mengajarkan syariat Islam kepada kaum Muslimin di sana, memberikan pemahaman tentang Din Islam, serta bergerak menyebarkan Islam di kalangan mereka yang masih dalam kesyirikan.Untuk pengutusan ini, beliau memilih seorang pemuda Islam Yang merupakan As-Sabiqun Al-awwalun (orang-orang yang pertama-tama masuk Islam), yaitu Mush'ab bin Umair Al-Abdari. Mush'ab singgah terlebih dahulu di kediaman As'ad bin Zurarah, lalu keduanya menyebarkan Islam kepada para penduduk Yatsrib dengan sungguh-sungguh dan penuh vitalitas. Mush'ab ini dikenal sebagai Muqri' (orang yang ahli mengaji dan bacaannya merdu). Salah satu cerita kesuksesan yang amat menawan dari dirinya adalah ketika pada suatu hari As'ad bin Zurarah mengajaknya ikut serta pergi ke kediaman Bani Abdul Asyhal dan rumah Bani Zhafar. Keduanya lantas memasuki salah satu pagar milik Bani Zhafar dan duduk-duduk di atas sebuah sumur yang disebut Maraq. Ketika dalam kondisi demikian, berkerutnunlah ke tempat mereka berdua beberapa orang dari kaum Muslimin.[4]

Saat itu Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair keduanya adalah pemimpin kaum mereka dari Bani Abdul Asyhal masih dalam kesyirikan. Tatkala keduanya mendengar tentang kaum Muslimin tersebut, berkatalah Sa'ad kepada Usaid, "Pergilah menuju kedua orang yang sudah datang untuk membodohi kaum lemah di kalangan kita, lalu berilah keduanya pelajaran, serta laranglah mereka datang ke kompleks kita ini. Sesungguhnya, As'ad bin Zurarah tersebut adalah putra bibiku. Andai kata bukan karena ikatan itu, niscaya cukuplah aku yang membereskannya." Lalu Usaid mengambil tombaknya dan menuju ke arah kedua orang pendatang tersebut. Ketika As'ad melihatnya, dia berkata kepada Mush'ab, "Ini adalah pemimpin kaumnya, dia telah datang kepadamu. Karena itu, tunjukkanlah kebenaran dari Allah kepadanya."[4]

Mush'ab berkata, "Bila dia mau duduk, aku pasti berbicara kepadanya." Usaid datang lalu berdiri di hadapan keduanya sembari mengumpat dan berkata, "Apa yang kalian berdua bawa kepada kami? Kalian mau membodohi orang-orang lemah di kalangan kami? Menjauhlah dari kami, jika kalian berdua masih sayang nyawa kalian!" Mush'ab menjawab, "Sudikah kiranya Anda duduk dulu lalu mendengar; jika Anda berkenan, silakan Anda terima; jika Anda tidak berkenan, tahanlah apa yang Anda tidak sukai itu dari diri anda." Dia membalas, "Baiklah, aku setuju. "Lalu dia membenahi tombaknya dan duduk. Kemudian Mush'ab berbicara kepadanya tentang Islam dan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Dia lalu berkomentar, "Demi Allah! Kami sudah mengenal Islam dari wajahnya sebelum dia berbicara; kecerahannya dan gema takbirnya."[4]

Kemudian dia meneruskan, "Alangkah indah dan cantiknya ini? Lalu, apa yang kalian perbuat bila kalian Inau masuk ke dalam agama ini?" Keduanya berkata, "Anda mandi, membersihkan pakaian, kemudian bersyahadat dengan syahadat yang benar, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat." Dia lalu berdiri, mandi, membersihkan pakaiannya, bersyahadat, dan mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian berkata, "Sesungguhnya, aku ini berada di bawah misi seorang laki-laki yang bila dia mengikuti kalian berdua, tidak ada seorang pun dari kaumnya yang berani membelot darinya. Aku akan membimbingnya (Sa'ad bin Mu'adz) kepada kalian berdua sekarang." Kemudian dia berlalu dan membawa tombaknya menuju Sa'ad yang berada di tengah kaumnya dan sedang duduk-duduk di klub mereka. Sa'ad berkata, "Aku bersumpah, demi Allah! Sungguh, dia telah datang dengan penampilan yang jauh berbeda dari sebelum berpaling dari kalian tadi."[4]

Tatkala Usaid berdiri di tengah klub tersebut, Sa'ad berkata kepadanya, "Apa gerangan yang telah kau lakukan?" Dia menjawab, "Aku telah berbicara kepada kedua orang tadi, demi Allah! Aku melihat tidak ada apa-apa dengan keduanya. Aku telah melarang keduanya, bahkan keduanya berkata, 'Kami akan melakukan apa yang engkau inginkan.' Aku juga sudah menceritakan bahwa Bani Haritsah telah keluar untuk membunuhnya (As'ad bin Zurarah), karena membuatmu malu. Hal ini tidak mereka lakukan karena mengetahui bahwa dia adalah anak bibimu." Sa'ad berdiri dengan penuh emosi atas apa yang barusan diceritakan kepadanya. Dia lalu mengambil tombaknya dan keluar untuk menyongsong keduanya (Mush'ab dan As'ad). Maka, tatkala dia melihat keduanya dalam kondisi yang tenang-tenang saja, pahamlah dia bahwa Usaid hanya bermaksud agar dirinya mendengarkan sesuatu dari keduanya. Dia berdiri di hadapan keduanya sembari mengumpat dan berkata kepada As'ad bin Zurarah, "Demi Allah, wahai Abu Umamah! Andaikata tidak ada dinding kekerabatan antara engkau dan aku, tentu engkau tidak mengingingkan hal ini dariku; engkau akan menyelimuti kami dengan sesuatu yang kami tidak sukai di kami ini?"[4]

As'ad pun sebelunnnya telah berkata kepada Mush'ab, "Demi Allah, telah datang kepadamu ini seorang pemimpin kaumnya; jika dia mengikuti, maka tidak akan ada seorang pun yang ketinggalan untuk mengikutimu dari mereka," Lalu Mush'ab berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz, "Sudikah kiranya Anda duduk dulu dan mendengarkan? Jika Anda berkenan, Anda boleh terima dan jika Anda tidak berkenan, kami akan menjauhkan darimu apa yang Anda tidak sukai itu." Dia berkata, "Ya, aku setuju." Lalu dia membenahi tombaknya dan duduk. Mush'ab mulai memaparkan kepadanya tentang Islam dan membacakan ayat Al-Qur'an. Dia berkomentar, "Demi Allah, kami sudah mengenal Islam di wajahnya sebelum berbicara; dalam kecerahannya dan gema takbirnya." Kemudian dia bertanya, "Apa yang kalian lakukan bila kalian masuk Islam?" Keduanya menjawab, "Anda mandi, membersihkan pakaian, kemudian bersyahadat dengan syahadatul haqq, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat."[4]

Kemudian dia melakukan hal itu. Setelah itu, dia meraih tombaknya lalu beranjak menuju klub kaumnya. Tatkala mereka melihatnya, berkatalah mereka, "Kami bersumpah atas nama Allah, sungguh dia telah pulang dengan penampilan yang berbeda dengan ketika saat pergi tadi." Ketika dia sudah berdiri di hadapan mereka, dia berkata, "Wahai Bani Abdul Asyhal! Bagaimana pendapat kalian terhadap diriku?" Mereka menjawab, "Pemimpin kami, orang yang paling utama pendapatnya bagi kami, dan orang yang paling mulia keturunannya," Dia berkata lagi, "Sesungguhnya ucapan kaum laki-laki dan kaum wanita di kalangan kalian saat ini haram bagiku hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."[4]

Akhirnya tidak ada seorang laki maupun wanita dari mereka kecuali sudah menjadi Muslim dan Muslimah, kecuali satu orang yang bernama Al-Ashram. Dia terlambat masuk Islam hingga hari Uhud. Dia masuk Islam ketika itu, ikut berperang, dan terbunuh padahal dia belum sempat sujud satu kali pun kepada Allah Ta'ala. Nabi mengomentarinya, "Dia telah melakukan sedikit, tetapi diberi pahala banyak." Mush'ab masih menginap di rumah As'ad bin Zurarah guna mengajak manusia ke jalan Allah, hingga hasilnya, setiap rumah dari rumahrumah orang-orang Anshar di dalamnya sudah ada laki-laki dan wanita yang masuk Islam. Dalam hal ini, yang dikecualikan hanya rumah Bani Umayyah bin Zaid, Khathmah, dan WaS il, di mana ada seorang penyair mereka yang bernama Qais bin Al-Aslat yang menghalang-halangi keislaman mereka, dan dia amat ditaati. Barulah pada Perang Khandaq tahun 5 H mereka masuk Islam. Sebelum memasuki musim haji kedua, yakni tahun ke-13 dari kenabian, Mush'ab bin Umair kembali ke Mekkah dengan membawa sekian laporan kesuksesan kepada Rasulullah SAW. Dia menceritakan kepada beliau tentang kabilah-kabilah di Yatsrib, bawaan-bawaan alami yang baik, dan tersimpannya sumber kekuatan dan mental baja padanya.[4]

Perjanjian[sunting | sunting sumber]

Menurut hadist shahih dalam kitab yang disusun imam Bukhori ada 6 poin perjanjian Aqabah :

Bersumber dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di sekelilingnya ada sahabat-sahabatnya tadi,

بَايِعُونِى عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلاَ تَسْرِقُوا ، وَلاَ تَزْنُوا ، وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ ، وَلاَ تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ ، وَلاَ تَعْصُوا فِى مَعْرُوفٍ ، فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِى الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ ، وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ

Kemarilah dan berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian sendiri, tidak berbuat dusta yang kalian ada-adakan sendiri, tidak mendurhakaiku dalam urusan yang baik. Barangsiapa di antara kalian menepatinya, maka pahalanya ada pada Allah. Barangsiapa ditimpa sesuatu dari yang demikian itu, lalu ia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya. Barangsiapa ditimpa sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika menghendaki, Allah menyiksanya. Dan jika menghendaki, Allah akan mengampuninya.” Lalu kami pun berbaiat kepada beliau. (HR. Bukhari, no. 18 dan Muslim, no. 1709).

Sumber https://rumaysho.com/20900-faedah-sirah-nabi-baiat-aqabah-pertama.html

Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam mengirim Mush'ab bin Umair dan ‘Amr bin Ummi Maktum ke Yatsrib bersama mereka untuk mengajarkan kepada manusia perkara-perkara Agama Islam, membaca Al Qur'an, salat dan sebagainya.

Bai'at berarti perjanjian atau ikrar bagi penerima dan sanggup memikul atau melaksanakan sesuatu yang dibai'atkan. Biasanya istilah bai'at digunakan di dalam penerimaan seorang murid oleh Syeikhnya untuk menerima wirid-wirid tertentu dan berpedoman terhadap bai'at sebagai suatu amanah.Akan tetapi bai'at juga digunakan di dalam cakupan yang lebih luas dan lebih jauh dalam menegakkan ajaran Islam, yang bukan hanya untuk mengamalkan wirid-wirid tertentu kepada syeikh, namun yaitu untuk menegakkan perlaksanaan syariat Islam itu sendiri .

Di dalam Risalatul Taa'lim karangan Hassan Al Banna, dikemukakann beberapa pemahaman dan pengertian tentang bai'at di dalam gerakan dakwah Islamiah. Antaranya ialah:

  • Bai'at untuk memahami Islam dengan kefahaman yang sebenarnya. Andaikan tiada kefahaman terhadap Islam maka sesuatu pekerjaan itu bukanlah merupakan 'amal' untuk Islam atau amal menurut cara Islam. Sebagaimana ia juga bukan merupakan suatu perjalanan yang selari dengan Islam.
  • Bai'at merupakan keikhlasan. Tanpa keikhlasan amal itu tidak akan diterima oleh Allah dan perjalanannya juga pasti saja tidak betul di samping terkandung berbagai penipuan di dalam suatu perkara yang diambil.
  • Merupakan bai'at untuk beramal yang ditentukan permulaannya dan jelas kesudahannya. Yaitu yang dimulakan dengan diri dan berkesudahan dengan dominasi Islam ke atas alam. Hal ini adalah kewajiban yang sering tidak disadari orang Islam masa kini.
  • Merupakan bai'at untuk berjihad. Jihad itu menurut kefahaman Islam adalah berupa penimbang kepada keimanan.
  • Merupakan perjanjian pengorbanan bagi memperolehi sesuatu (yaitu balasan syurga).
  • Merupakan ikrar untuk taat atau patuh mengikut peringkat dan keupayaan persediaan yang dimiliki.
  • Merupakan bai'at untuk cekal dan setia pada setiap masa dan keadaan.
  • Merupakan bai'at untuk tumpuan mutlak kepada dakwah ini dan mencurahkan keikhlasan terhadapnya saja.
  • Merupakan bai'at untuk mengikat persaudaraan (sebagai titik untuk bergerak).
  • Merupakan bai'at untuk mempercayai (thiqah) kepimpinan dan gerakan atau jemaah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Khaththab 2019, hlm. 190.
  2. ^ Khaththab 2019, hlm. 110-111.
  3. ^ Khaththab 2019, hlm. 111.
  4. ^ a b c d e f g h i j k Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman (2021). Sirah Rasulullah (Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW). Jakarta Timur: Ummul Qura. ISBN 978-608-6579-57-7 Periksa nilai: checksum |isbn= (bantuan). 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Khaththab, Mahmud Syait (2019). Rasulullah Sang Panglima: Meneladani Strategi dan Kepemimpinan Nabi dalam Berperang. Sukoharjo: Pustaka Arafah. ISBN 978-602-6337-06-1. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]