Lompat ke isi

Amri Yahya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Amri Yahya
Lahir(1939-09-29)29 September 1939
Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia
Meninggal19 Desember 2004(2004-12-19) (umur 65)
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Indonesia
Tempat tinggalWirobrajan, Kota Yogyakarta
AlmamaterInstitut Seni Indonesia Yogyakarta
Universitas Negeri Yogyakarta
Pekerjaan
Gaya
Suami/istri
Sud Sri Zuzamti
(m. 1961)

Amri Yahya (29 September 1939  19 Desember 2004) adalah seorang pelukis, akademisi, dan tokoh seni rupa kontemporer Indonesia. Ia dikenal secara luas sebagai pelopor seni lukis batik kontemporer dan salah satu tokoh utama dalam pengembangan seni lukis kaligrafi Islam di Indonesia.

Latar belakang dan pendidikan

[sunting | sunting sumber]

Amri Yahya lahir di desa Sukaraja di Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, pada 29 September 1939, sebagai putra dari pasangan Yahya dan Zainab.[1][2][3] Ia menempuh pendidikan dasar di SD Taman Siswa Palembang (lulus 1952) dan melanjutkan ke SMP serta SMA di lembaga yang sama―masing-masing lulus pada 1955 dan 1958. Pada tahun 1959, ia memutuskan pindah ke Yogyakarta untuk mendalami seni rupa secara formal. Ia menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dan meraih gelar Sarjana muda pada tahun 1961, serta Sarjana penuh pada 1963.[1][4]

Setelah lulus dari ASRI, ia menempuh studi di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS) IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) dan lulus pada tahun 1971. Untuk mempertajam teknik teknisnya, ia sempat mengambil program spesialisasi seni keramik dinding dari Struktur 68 BV (Bureau voor Vormgeving) di Den Haag, Belanda (1979–1980). Pada 10 Mei 2001, Amri menerima gelar Honoris Causa dari Universitas Negeri Yogyakarta atas kontribusinya dalam bidang evaluasi pendidikan seni, sebelum pengangkatannya sebagai Guru besar pada 2002.[1][4]

Karier seni Amri berawal dari pengembangan minat pada bidang menggambar, fotografi, dan pengelolaan majalah dinding selama masa pendidikan menengah di Palembang. Ketertarikannya pada budaya global dipengaruhi oleh aktivitas menonton film pada masa remaja, yang kemudian mendorongnya untuk meninggalkan Sumatera Selatan menuju Yogyakarta. Untuk membiayai studi dan keberangkatannya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), ia menjual sepeda miliknya dan ibunya menjual seekor sapi. Selama menempuh pendidikan di Yogyakarta, ia memenuhi kebutuhan hidup melalui honorarium atas publikasi sketsa-sketsanya di majalah Mimbar Indonesia, Siasat, Basis, dan Budaya Jaya.[4]

Aktivitas pameran profesionalnya dimulai pada tahun 1957. Pada tahun 1958, ia mengadakan pameran sketsa di Jakarta yang menjadi awal pengakuannya secara nasional. Ia kemudian dikenal melalui pengembangan teknik lukis batik kontemporer, sebuah metode yang menerapkan proses rintang warna tradisional pada komposisi seni rupa modern. Selain batik, ia mendalami seni kaligrafi Islam melalui studi langsung kepada beberapa kiai. Di bidang seni pertunjukan, ia mendirikan Teater Muslim Yogyakarta dan sempat terlibat dalam dunia perfilman, termasuk memerankan tokoh Sunan Pandanaran dalam film Sunan Kalijaga.[4]

Amri memulai rangkaian pameran internasional pada tahun 1950-an, yang diawali dengan kunjungan ke San Francisco atas ajakan dosennya. Sejak saat itu, ia melakukan pameran mandiri maupun kelompok di berbagai kota di lima benua dan tercatat sebagai pelukis Indonesia pertama yang mengadakan pameran keliling di wilayah Timur Tengah. Di bidang akademik, ia pernah mengabdi sebagai pengajar tetap di Universitas Negeri Yogyakarta (sejak 1967), Institut Seni Indonesia Yogyakarta (1973-1980), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (1978-1980), Akademi Kesejahteraan Keluarga Yogyakarta (1975-1980), dan Universitas Islam Indonesia (sejak 1981).[4][5][3] Amri juga pernah menjadi dosen tamu di Universitas Negeri Oklahoma, AS pada 1974 dan menjadi profesor tamu di Universitas Negeri Iowa, AS pada 1986.[1][4]

Amri berperan dalam beberapa organisasi seni. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Senirupawan Indonesia (HSRI) Yogyakarta dan Ketua Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) wilayah DIY. Sejak tahun 1977, ia juga tercatat sebagai anggota kehormatan International Association of Art (IAA) UNESCO di Paris, Prancis. Pada tahun 1996, ia mewakili Indonesia dalam Konferensi Seni Budaya Islam sedunia di Hofstra University, New York.[6]

Gaya seni

[sunting | sunting sumber]

Gaya seni Amri didasarkan pada pengembangan teknik rintang warna menggunakan lilin atau malam yang diaplikasikan pada medium kain mori sebagai karya seni murni. Ia menerapkan pandangan teoretis bahwa batik merupakan sebuah proses teknis, sehingga ia tidak membatasi visualisasinya pada motif hias tradisional melainkan menggunakan unsur-unsur ekspresionisme abstrak ke atas permukaan kain. Karakteristik teknis dalam karyanya meliputi penggunaan warna-warna multikromatik yang dihasilkan melalui proses pencelupan berulang, serta pemanfaatan tekstur retakan atau crack yang timbul dari lilin yang sengaja dipecahkan sebelum proses pewarnaan. Tekstur retakan ini digunakan sebagai elemen visual untuk memberikan dimensi dan kedalaman pada komposisi lukisannya.[7][8][9]

Dalam praktik kreatifnya, Amri memperluas penggunaan alat kerja di luar canting dan wajan dengan memanfaatkan benda-benda seperti kuas, sendok, hingga pelepah pisang untuk menghasilkan efek visual yang spontan, termasuk teknik lelehan warna. Meskipun mengadopsi pendekatan kontemporer, ia tetap menyertakan elemen motif klasik seperti cecek, uwer, dan gringseng ke dalam komposisinya. Subjek lukisannya mencakup lanskap alam yang terinspirasi dari bentang alam Sumatra Selatan serta seni lukis kaligrafi Arab yang menekankan pada harmoni warna dan tata letak huruf.[10] Selain itu, ia juga mengerjakan karya-karya batik dalam dimensi skala besar yang memerlukan penguasaan teknis khusus, terutama dalam menjaga kestabilan lapisan lilin dan integritas kain selama proses pelarutan lilin atau lorot.[7][2][8][9]

Kehidupan pribadi dan kematian

[sunting | sunting sumber]

Amri menikah pada tahun 1961 dengan Sud Sri Zuzamti (terkadang ditulis Soed Sri Zuzanti), putri dari seorang pengusaha batik asal Gampingan di Wirobrajan, Yogyakarta. Pernikahan tersebut dikaruniai empat orang anak, yaitu Emi Palupi Yogananti, Adwi Prasetya Yogananta, Yunipan Nur Yogananta, dan Feriqo Asya Yogananta. Seluruh putra-putrinya menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang sarjana.[4][11]

Kondisi kesehatan Amri tercatat mengalami penurunan signifikan pasca peristiwa kebakaran Amri Gallery pada tahun 2002 yang memusnahkan sebagian besar koleksi karya dan arsip pribadinya.[5] Ia meninggal dunia pada 19 Desember 2004 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Sleman. Penyebab kematiannya adalah komplikasi penyempitan pembuluh jantung serta meningkatnya kadar gula darah (diabetes). Sebelum dimakamkan di makam keluarga Gampingan, jenazahnya disemayamkan di Universitas Negeri Yogyakarta untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari civitas akademika.[11]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 "Amri Yahya". Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 2014-03-06. Diakses tanggal 2026-01-17.
  2. 1 2 "Amri Yahya di Mata Keluarganya". Radar Jogja. 2020-06-21. Diakses tanggal 2026-01-17.
  3. 1 2 "Amri Yahya, Maestro Lukis Yogyakarta Bukan Palembang". Sumatralink. 2025-10-29. Diakses tanggal 2026-01-17.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 Haq, Ahmad Abdul. "Amri Yahya". ahmad.web.id. Diakses tanggal 2026-01-17.
  5. 1 2 Witton, Ron (2014-08-25). "Amri Yahya and the Sydney University Labor Club". Inside Indonesia. Diakses tanggal 2026-01-17.
  6. Huda, Nurul (2017-10-02). "Amri Yahya Maestro Kaligrafi Batik". Islami.co. Diakses tanggal 2026-01-17.
  7. 1 2 Manta, Bertoldo J. (2016-09-01). "Amri Yahya: Exponent of Indonesian Contemporary Batik Painting". SPAFA Digest. 11 (2): 31–35. ISSN 0125-7099.
  8. 1 2 Kolesnikov-Jessop, Sonia (2005-09-30). "With steady hands and eyes, batik artists make their mark". The New York Times (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-01-17.
  9. 1 2 Salma, Irfa'ina Rohana (2016-04-11). "Batik Kreatif Amri Yahya dalam Perspektif Strukturalisme Levi-Strauss". Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah. 31 (1): 41. doi:10.22322/dkb.v31i1.1060. ISSN 2528-6196.
  10. "Puluhan Lukisan Kaligrafi Islam, Empat Maestro, Dipamerkan Di Taman Budaya Sumbar". minangsatu.com. 2021-09-14. Diakses tanggal 2026-01-17.
  11. 1 2 "Pelukis Amri Yahya Meninggal". detiknews. 2004-12-19. Diakses tanggal 2025-10-06.