Aboebakar Atjeh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Prof. Dr. KH.
Aboebakar Atjeh
Aboebakar Atjeh.jpg
LahirAboebakar
(1909-04-28)28 April 1909
Aceh Darussalam
Meninggal17 Desember 1979
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Tempat peristirahatanTPU Karet Bivak, Jakarta, Indonesia
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
PekerjaanPenulis, Politikus, Ulama
Partai politikMasyumiPartyLogo.jpg Partai Masyumi
Logo GOLKAR.jpg Partai Golongan Karya
Suami/istriSoewami
Soekarti
AnakUmarah Sri Angsani

Inayah Sri Soewami
Muhammad Furqan
Maisarah
Rahmah Sri Wardani

Farhan
Orang tua
  • Sjah Abdurrahman (bapak)
  • Hajjah Na'in (ibu)
PenghargaanDoktor Honoris Causa dari Universitas Islam Jakarta

Prof. Dr. KH. Aboebakar Atjeh (atau Abubakar Aceh atau Abu Bakar Aceh atau Hadji Aboebakar) adalah cendekiawan terkenal dari Aceh sekaligus penulis buku-buku keagamaan, filsafat dan kebudayaan.

Sebagian versi mengungkapkan beliau lahir di Kutaradja, sedangkan versi lain mengungkapkan di Peureumeu, Kabupaten Aceh Barat. Orangtuanya merupakan pasangan ulama. Ayahnya bernama Sjah Abdurahman, imam Masjid Raya Kutaradja (sekarang lebih sering disebut sebagai Masjid Raya Baiturrahman). Sedangkan ibunya bernama Hajjah Na'in.

Tambahan “Atjeh” di belakang namanya merupakan pemberian Presiden Soekarno yang kagum akan keluasan ilmu putra Aceh ini. “Ensiklopedia Berjalan” adalah sebutan teman-temannya tentang hakikat ilmu pengetahuannya.

Nama Aboebakar Atjeh masuk dalam buku Seratus Tokoh Islam yang Paling Berpengaruh di Indonesia yang ditulis oleh Shalahuddin Hamid dan Iskandar Ahza.

Pendidikan dan Pengalaman[sunting | sunting sumber]

Sejak kecil belajar di beberapa dayah terkenal di Aceh, diantaranya dayah Teungku Haji Abdussalam Meuraxa dan dayah Manyang Tuanku Raja Keumala Peulanggahan di Kutaraja (Banda Aceh). Juga belajar di Volkschool Meulaboh dan Kweekschool Islamijah Sumatera Barat. Kemudian pindah ke Yogyakarta dan Jakarta. Menguasai sejumlah bahasa asing seperti Jepang, Belanda, Inggris, Arab, dan sebagian Prancis dan Jerman.

Pada masa-masa mudanya aktif di sejumlah ormas dan partai. Pada 1923 aktif di Sarekat Islam di Aceh Barat. Lalu pada 1924 di Muhammadiyah dan di Partai Masyumi sejak 1946.

Setelah Pemilu 1955, ia yang dikenal tawadhu dan tidak suka menonjolkan diri itu masuk menjadi anggota Konstituante mewakili Partai Masyumi.

Kedekatan dengan KH. Wahid Hasyim dan Kalangan Pesantren[sunting | sunting sumber]

Pada masa kepemimpinan Menteri Agama KH. Wahid Hasyim, Aboebakar Atjeh bekerja di Departemen Agama untuk membantu menteri dalam urusan penataan pelayanan haji. Selanjutnya, dipercaya oleh KH. Wahid Hasyim memimpin jamaah haji ke Mekah pada 1953. Karena keluasan ilmu dan kacakapannya dalam tulis-menulis ia juga dipercaya mengomandani bidang publikasi Departemen Agama, sebelum kemudian menjadi staf ahli Menteri Agama.

Setelah KH. Wahid Hasyim wafat pada 18 April 1953, Aboebakar Atjeh langsung mengambil inisiatif untuk menulis biografi dan pemikiran KH. Wahid Hasyim sebagai wujud penghormatan kepada tokoh NU tersebut. Empat tahun kemudian, buku itu terbit di Jakarta (kini sudah dicetak ulang pada 2011 oleh Panitia 1 Abad KH Wahid Hasyim).

Pengalamannya dalam menulis buku tentang KH. Wahid Hasyim tersebut dimulai pada waktu Menteri Agama KH Masjkur, pengganti Kiai Wahid, menggelar acara peringatan setahun wafatnya KH. Wahid Hasyim dengan menyerahkan lukisan tentang KH. Wahid Hasyim kepada Nyonya Solehah, sang istri KH. Wahid Hasyim yang juga ibunda dari Abdurrahman Wahid. Kemudian dibentuklah panitia peringatan yang salah satunya berbentuk penerbitan biografi KH. Wahid Hasyim. Dan Aboebakar Atjeh selaku Kepala Bagian Penerbitan Kementerian Agama ditunjuk sebagai penulis.

Aboebakar Atjeh dikenal tekun menggarap penulisan biografi tersebut. Ia bekerja siang dan malam menghubungi para keluarag KH. Wahid Hasyim hingga mengumpulkan foto-foto serta tulisan-tulisan yang pernah dimuat media. Salah seorang yang dihubungi untuk memperkaya bahan-bahan tersebut adalah KH. Abdul Karim Hasyim (dikenal Akarhanaf), adik KH. Wahid Hasyim.

Setelah setahun mengumpulkan semuanya, ia mulai menulis, hingga menjadi buku seperti sekarang. Buku ini menunjukkan keluasan dan kedalaman pengetahuan Aboebakar tentang pesantren dan dunia ulama.

Kedekatan dan keakrabannya dengan kalangan reformis-modernis selama di Yogyakarta, tidak menghalanginya juga untuk membangun suasana harmonis dengan komunitas pesantren. Dalam sejumlah tulisannya, Aboebakar menunjukkan kekagumannya dan bahkan menimba banyak dari tradisi keilmuan pesantren.

Dalam satu tulisannya, “Kebangkitan Dunia Baru Islam di Indonesia”, untuk satu bab buku terjemahan Stoddard, Dunia Baru Islam (1966), ia menunjukkan kontribusi masing-masing, yang reformis-modernis-tradisi maupun Kaum Tua-Kaum Muda, bagi kemerdekaan Indonesia. Semua tulisan diarahkan pada pendekatan rekonsiliasi, titik temu dan pencarian sintesis-sintesis baru bagi kemajuan dan pengumpulan kekuatan bangsa ini. Isi tulisan macam ini tidak kita temukan pada sejumlah sarjana Indonesia didikan Amerika, Eropa maupun Australia, yang selalu mencari titik lemah pada komunitas pesantren, pengumpulan titik kelemahan bangsa ini, serta penonjolan titik-titik tengkar di antara berbagai komponen bangsa ini.

Hasil karya[sunting | sunting sumber]

Beberapa karya Aboebakar Atjeh:

  • Sejarah Al-Qur'an
  • Aliran Syiah di Nusantara
  • Tekhnik Khutbah
  • Sejarah Ka’bah
  • Perjuangan Wanita Islam
  • Islam dan Kemerdekaan Beragama
  • Sejarah Masjid
  • Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf
  • Pengantar Ilmu Tarekat
  • Ibn Arabi Tokoh Tasauw dan Filsafat Agama
  • Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Mahzab
  • Ahlussunnah Waljamaah
  • Ilmu Ketuhanan
  • Islam Sumber Djihad dan Idjtihad
  • Pendidikan Sufi
  • Sejarah Hidup Nabi Muhammad
  • Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia
  • Syariah
  • Syiah Rasionalisme dalam Islam
  • Tarikat dalam Tasauw
  • Toleransi Nabi Muhammad dan Para Sahabatnya
  • Wasiat Ibn Arabi
  • dan lain-lain.

Selain itu juga menerjemahkan beberapa karya para penulis Eropa dan orientalis tentang sejarah Aceh ke dalam bahasa Indonesia. Menulis dalam bahasa Aceh buku pelajaran untuk sekolah-sekolah Aceh masa kolonial, seperti Meutia dan Lhee Saboh Nang. Ia juga turut membantu penyusunan kamus Aceh, Groot Atjehsch Woordenboek, yang dibuat oleh Husein Djajadiningrat.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Baca pula[sunting | sunting sumber]