Perawan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lukisan berjudul Virgin Enthroned yang menggambarkan seorang wanita suci sedang duduk di takhta yang didampingi dua gadis kecil. Kesuciannya sebanding dengan kedua gadis tersebut dikarenakan kemurnian harga diri tanpa dinodai zina.

Perawan atau gadis adalah perempuan yang belum mempunyai suami atau di beberapa kebudayaan merujuk pada perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual atau sanggama. Secara umum, perawan juga direlasikan dengan kesucian. Untuk pria yang belum pernah melakukan sanggama disebut perjaka atau jejaka.

Secara fisik, seorang perawan biasanya ditandai dengan utuhnya selaput dara yang berada pada daerah vagina. Dan hilangnya keperawanan biasanya disertai dengan keluarnya darah dari daerah vagina (tergantung bentuk dan ketebalan selaput dara) saat mengadakan hubungan seksual pertama kali. Secara istilah Islami, keperawanan bukan sekadar masih utuhnya selaput dara di vagina, melainkan setiap wanita yang belum pernah melakukan aktivitas-aktivitas seksual. Kesucian dan kehormatan perempuan bagi manusia yang memahami makna kehormatan bukan sebatas berpedoman dengan selaput dara, melainkan perempuan yang tidak pernah ternodai setitik zina. Biasanya, perempuan yang tidak perawan sebelum menikah memberikan pernyataan bahwa dirinya pernah nikah siri atau telah menjadi korban suatu kecelakaan sehingga mengakibatkan hilangnya keperawanan. Hal tersebut semata-mata menutupi aibnya dari dosa zina yang pernah dilakukannya, sehingga calon suaminya bersedia menerimanya sebagai istri dan akan menyayanginya sepenuh hati. Strategi klasik tersebut bukanlah hal yang efektif untuk menakhlukkan kaum pria yang terhormat dari berbagai segi kehidupan. Pada umumnya, orang yang berpengetahuan rendah masih terpengaruh dengan kebodohan penghibur yang mempublikasi hiburan yang membodohi kaum yang mudah terpengaruhi hal-hal yang belum tepat. Akibat dari kebodohan tersebut, maka kenistaan dan siksaan dalam kehidupannya akan tetap berlanjut selama hidupnya.

Persepsi Barat mengenai keperawanan[sunting | sunting sumber]

Sebuah foto vagina dengan informasi yang menunjukkan keberadaan selaput dara.

Dunia Barat berpandangan bahwa keperawanan tidak identik dengan kesucian perempuan karena perempuan dikatakan masih perawan jika selaput dara masih utuh keberadaannya meskipun mereka telah melakukan aktivitas seksual, padahal makna virgin tersirat pada istilah Virgin Mary yang mereka maksudkan mengenai ibu Nabi Isa adalah wanita suci bukan sebatas wanita yang masih utuh selaput dara. Kekaburan istilah kesucian disebabkan keburaman pemikiran saat ketidakpahaman manusia menjaga kehormatan perempuan sesungguhnya, ajaran terdahulu sudah mulai sirna sehingga ajaran Islam berusaha mengembalikan tradisi-tradisi terdahulu yang mulai menghilang tersebut dengan pengembalian ajaran yang terlupakan.

Kesalahan persepsi mengenai keperawan telah menyebar dengan cepatnya karena dunia Barat yang secara teknologi lebih maju, sehingga penyebarannya sangat dahsyat dirasakan. Termasuk negara-negara sekelas Indonesia yang masih konsumtif dalam berbagai aspek kehidupan. Pada era saat ini, kaum muda maupun tua di Indonesia telah terpengaruhi dengan pandangan dunia Barat yang menganggap keperawanan masih terjaga jika selaput dara masih utuh keberadaannya, bahkan tidak lagi menjaga keperawanan mereka selayaknya kaum remaja di dunia Barat yang biasa dipublikasikan di media massa.

Pentingnya menjaga keperawanan[sunting | sunting sumber]

Perawan sangat erat dengan kehormatan dan harga diri perempuan. Setiap laki-laki terhormat mendambakan perempuan yang perawan untuk dijadikan istri demi menjaga harga diri dan kehormatannya. Rasa cinta untuk menjaga, membahagiakan, menafkahi, dan menyayangi setulus hati akan terbina karena suami merasakan ketenteraman memiliki istri yang belum digagahi siapa pun selain dirinya. Secara logika manusia yang diberi petunjuk kehidupan yang benar, laki-laki tidak ingin menikahi perempuan yang telah bekas pelaku zina. Meskipun telah terjadi pernikahan dengan adanya unsur penipuan ataupun tidak, perempuan yang tidak perawan tersebut akan hidup tidak selayaknya seorang istri yang diberikan haknya sebagaimana ketentuan yang dijanjikan saat pernikahan. Perempuan yang tidak perawan cenderung diceraikan, dan akan berstatus janda. Setelah menjanda dan kembali menikah, hidup perempuan tersebut akan masih tidak akan berubah sebagaimana hubungan pernikahan sebelumnya. Pernikahan berdasarkan hubungan cinta dan kasih sayang yang telah dijanjikan saat ijab kabul akan sulit dirasakan oleh kaum perempuan yang tidak menjaga keperawanannya sebelum menikah.

Kualitas keperawanan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini persentase kualitas perawan yang dinilai kesuciannya berdasarkan aktivitas dosa zina yang dilakukan dalam kehidupannya:

Status Persentase
Belum pernah sanggama 50%
Belum dilihat auratnya 20%
Belum disentuh auratnya 30%

Dari persentase di atas, perawan yang 100% adalah perempuan yang belum pernah melakukan sanggama selama hidupnya, auratnya berupa bagian-bagian tubuh selain wajah dan telapak tangan belum pernah dilihat terlebih lagi disentuh oleh yang tidak berhak sebelum pernikahan dan telah sah menjadi suaminya. Kalau perempuan pernah dilihat auratnya, itu berarti ia perawan 80%. Kalau perempuan pernah dilihat dan disentuh auratnya, itu berarti ia perawan 50%. Hal ini berarti bahwa perempuan saat pacaran telah melakukan aktivitas memperlihatkan dan memperbolehkan auratnya disentuh, maka sudah 50% kualitas keperawanannya sudah hilang.

Kualitas keperawanan sangat mempengaruhi kualitas perlakukan suami terhadap mereka. Setiap laki-laki yang memiliki kehormatan, kecerdasan, kesejahteraan, dan hal-hal baik lainnya dipastikan memperlakukan istrinya sebagaimana tuntunan dan ajaran agama, hukum yang berlaku, dan etika serta estetika yang ditentukan dalam menjalani kehidupan ke arah kebaikan.

Apalah arti keperawanan[sunting | sunting sumber]

Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan merupakan sebuah film yang bertemakan keperawanan. Film dengan pengaruh yang cukup besar dalam mempengaruhi persepsi kaum perempuan Indonesia tentang keperawanan.

Beberapa orang menganggap keperawanan bukanlah suatu hal yang penting. Berikut ini golongan yang tidak menganggap keperawanan suatu hal yang berharga:

  • Kaum laki-laki dan perempuan yang tidak memperdulikan makna keperawanan dikarenakan mereka golongan yang tidak mengerti arti kehormatan dan harga diri. Mereka adalah orang-orang yang bangga berzina di saat pacaran yang penuh sandiwara mengisi kehidupannya sebagaimana drama yang biasa ditonton atau dibaca melalui media massa. Itu semua kebahagiaan sesaat yang setara dengan efek narkoba. Selain merusak pikiran, kegiatan ini juga merusak perasaan sehingga jiwa juga rusak akibatnya.
  • Kaum laki-laki yang secara spiritual, finansial, dan intelektual yang lemah tidak berfokus untuk menyayangi kaum perempuan, targetnya untuk memperistri perempuan yang tidak perawan adalah demi menutup kekurangan kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan materi yang dimiliki oleh perempuan tersebut. Seandainya si perempuan tidak memadai materinya, perempuan tersebut akan dijadikan budak terselubung tanpa sepengetahuan mereka.
  • Kaum laki-laki yang masih lugu dengan dominannya perasaan daripada akal dan belum memahami makna mahkota kaum perempuan, yakni keperawanan. Setelah pengetahuan telah dimilikinya, kesadaran akan timbul dan menyebabkan rasa cinta menjadi pudar. Kebencian akan mulai nampak, dan kemuliaan sikap dan tindakan tidak diberikan lagi kepada kaum perempuan yang tidak perawan. Jika rencana pernikahan telah dilakukan, pernikahan akan dibatalkan. Jika terlanjur menikah bagi yang memahami undang-undang pernikahan, maka ikatan pernikahan secara sah menurut hukum dibatalkan karena telah terjadi penipuan dalam statusnya pada pengarsipan dokumen pernikahan yang tertulis perawan.
  • Kaum laki-laki yang sudah terlalu sering merusak kesucian para perempuan dengan cara menzinai perempuan perawan. Golongan ini pada umumnya tidak mementingkan keperawanan bagi pasangan hidupnya yang sah dan resmi. Golongan inilah yang secara turun-temurun memelihara dan melestarikan perzinaan bagi generasi berikutnya. Pasangan dari kaum laki-laki ini adalah kaum perempuan yang secara filosofis dikiaskan setara dengan seekor anjing betina (bahasa Inggris: bitch). Tidak mengherankan jika dalam bahasa Inggris, kaum perempuan jalang seperti ini disebut bitch (anjing betina).

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]