Pembicaraan:Raden Wijaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

ada yang bisa kasih tahu siaa itu garbapati dan kisahnya??


Perlu diketahui bahwa catatan dari tanah Sunda tentang kaitan antara Raden Wijaya dengan Rakeyan Jayadarma ini hanya pendapat minoritas sejarawan. Kelemahan utamanya adalah nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki, yang umumnya diterima sebagai ayah dari Raden Wijaya.

Lembu, Kebo, Mahisa, dan Gajah adalah nama laki-laki. Seperti dalam nama-nama era Singasari-Majapahit: Kebo Ijo, Kebo Anabrang, Mahisa Cempaka, Mahisa Wong Ateleng, Gajah Mada, Raden Gajah, Lembu Peteng (Brawijaya VI), dan tentu saja Lembu Tal.

Dyah pada kerajaan Singasari-Majapahit bukanlah nama perempuan. Dyah adalah nama (gelaran) yang biasa dipakai oleh bangsawan kelas atas (laki-laki dan wanita). Contoh yang laki-laki: Dyah Kertawijaya (Brawijaya I), Sri Rajasanegara Dyah Hayam Wuruk, Dyah Ranawijaya (Girindrawardhana).

Menurut saya pribadi, catatan Sunda ini kemungkinan dibuat setelah era Majapahit berakhir, oleh penulis yang kurang memahami latar budaya penamaan era Majapahit yang sudah berlalu, sehingga terjadi kesalahan jenis kelamin Lembu Tal.– komentar tanpa tanda tangan oleh 202.186.6.140 (bk) .

Komentar:
Pada dasarnya, Anda keberatan mengakui bahwa pendiri Kerajaan Majapahit adalah Putera Raja Sunda Galuh ke-26.– komentar tanpa tanda tangan oleh 125.163.12.253 (bk) .
Reply to Komentar: Maaf, komentar anda terdengar emosional. Saya rasa tidak ada yang akan menulis pernyataan di atas seandainya catatan tanah Sunda itu lebih rasional. Misalnya begini, seandainya saja disebutkan Raden Wijaya adalah cucu Raja Sunda Galuh, atau anak Lembu Tal dari seorang Putri Raja Sunda Galuh, itu akan cukup masuk di akal. Inti permasalahannya adalah kalau sekarang ini ada yang berpendapat Lembu Tal itu nama perempuan, mungkin generasi akan datang akan ada yang malah berpendapat Gajah Mada itu perempuan juga.– komentar tanpa tanda tangan oleh 202.186.6.190 (bk) .

Dukungan : Saya sependapat bahwa Lembu Tal adalah nama seorang pria. Dalam Terjemahan Nagarakretagama (saya lupa bab berapa) disebutkan bahwa lembu Tal adalah seorang prawira yuda dan merupakan ayah dari Raden Wijaya.– komentar tanpa tanda tangan oleh 202.152.63.138 (bk) .

Komentar :
Jika benar Dyah Lembu Tal adalah nama seorang pria dan bapak dari Raden Wijaya, lalu siapa Ibu dari Raden Wijaya (menurut versi orang yang percaya Lembu Tal adalah pria)? Jika tidak ada satu pun sumber sejarah yang menyebut Ibu Raden Wijaya, menurut versi tersebut, jelas hal ini sangat aneh dan irasional.Tampak ada sesuatu yang di sembunyikan. Karena silsilah Raja-raja Singhasari saja sebagai pendahulu kerajaan Majapahit, sudah begitu lengkap dan jelas asal-usulnya.
Selain itu, Nagarakretagama tidak bisa di terima begitu saja tanpa mempelajari sumber sejarah lain mengingat kitab ini sebagian besar hanya berisi pujian atas kebesaran Majapahit dan Raja-raja Majapahit dan tentu saja "mendem" semua hal dan kejadian yang di anggap bisa mengurangi kebesaran Majapahit termasuk peristiwa perebutan kekuasan berdarah di antara keluarga kerajaan Singhasari (pendahulu Raja-raja Majapahit).– komentar tanpa tanda tangan oleh 222.124.198.186 (bk) .
Tanggapan:
Justru karena Nagarakretagama merupakan sastra pujian, maka urutan silsilahnya dapat dipercaya. Dalam naskah ini disebutkan kalau Lembu Tal seorang pria. Mpu Prapanca tidak mungkin berani mengambil resiko dengan memutarbalikkan fakta bahwa Lembu tal seorang perempuan tapi ditulis laki-laki. Ingat, silsilah dalam Nagarakretagama yang ditulis lengkap hanya keluarga Hayam Wuruk, sementara Raden Wijaya ke atas cukup ditulis nama ayahnya saja. Siapa nama ibu Raden Wijaya tidak disebutkan oleh Prapanca, sebagaimana ia tidak menyebutkan nama ibu Kertanagara, Wisnuwardhana, Narasinghamurti, Anusapati, juga Rajasa.– komentar tanpa tanda tangan oleh 110.138.208.167 (bk) .

Dyah dan Raden[sunting | sunting sumber]

Pada zaman Majapahit gelar dyah bukan khusus untuk kaum perempuan saja. Dalam Nagarakretagama yang dikarang abad ke-14, nama pendiri Majapahit ditulis DYAH WIJAYA, sedangkan dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16, nama tersebut berubah menjadi RADEN WIJAYA. Ini berarti gelar Dyah sama dengan Raden.222.124.227.91 11:36, 20 Februari 2008 (UTC)

Pararaton vs. Nagarakretagama[sunting | sunting sumber]

Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari.
Menurut Nagarakretagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti.
Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

Antara Pararaton dan Nagarakretagama ada gap satu generasi: ada & tidak ada Dyah Lembu Tal. Pararaton menyebut Wijaya putra Mahisa Campaka alias Narasinghamurti, sedangkan Nagarakretagama menyebut Wijaya cucu Narasinghamurti. Nagarakretagama sejalan dengan Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dalam hal Dyah Lembu Tal sebagai orang tua Wijaya, namun tidak dalam hal jenis kelaminnya. Betul? --kandar (bicara) 18:53, 9 Desember 2008 (UTC)

Komentar: Dalam Nagarakretagama ditulis jelas kalau Lembu Tal seorang laki-laki, seorang perwira yuda yang gagah berani.– komentar tanpa tanda tangan oleh 110.138.208.167 (bk) .

Sedikit informasi singkat[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan catatan sejarah dari sumber lain yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya bahwa Raden Wijaya atau Raden Jaka Tanduran atau Raden Sesuruh atau Prabu Brawana merupakan putra ke -7 pasangan Prabu Sundha Hanyakrawati/Prabu Harjakusuma atau Prabu Pamekas di Pajajaran dari Permaisuri Dewi Ambarsari yang merupakan putri dari Prabu Dewamantala di Kerajaan Galuh. Mengenai berita adanya perselisihan diantara para keturunan Prabu Pamekas adalah hal yang mungkin dapat dibenarkan dikarenakan masing-masing berambisi untuk meneruskan tahta. Diceritakan dari sumber lain dimana terjadi peselisihan diantara Raden Wijaya dengan saudaranya yaitu Raden Siyung Wanara atau Jaka Tambi atau Arya Banyakwidhe yang merupakan putra ke-9 dari pasangan Prabu Pamekas dengan selir dan kemudian Siyung Wanara menjadi Raja di Pajajaran dengan gelar Prabu Sri Maha Sekti. Mungkin rekan-rekan mempunyai data yang lebih akurat dan dapat di share dengan saya. Mohon maaf apabila ada kesalahan.– komentar tanpa tanda tangan oleh Bhreagus (bk) . 06:06, 30 Maret 2009 (UTC)

Bung Bhreagus, yang anda bicarakan ini catatan/sumber apa ya? Babad Galuh? Naval Scene (bicara) 15:53, 13 Agustus 2011 (UTC)

Dyah Lembu Tal dalam Nagarakrtagama[sunting | sunting sumber]

dalam Nagarakrtagama (atau lebih tepatnya disebut kakawin Desa Warnnana) wirama (pupuh) 46 bait kedua, tertulis"...lawan sri nara singha murttyaweka ri dyah lebu tal susrama, sang wireng laga sang dhinarmma ri mireng boddha pratista pageh" (...dengan sri Nara Singamurti ayah Dyah Lembu Tal yang terpuji, pemberani dalam pertempuran diabadikan di mireng dalam wujud arca Budha). dalam wirama (pupuh) 47 bait pertama, termaktub "dyah lembu tal sira maputra ri sang narendra" (Dyah Lembu Tal berputra baginda raja/Kertarajasa)

dalam wirama (pupuh) 46 itu tidak disebutkan apakah Dyah Lembu Tal seorang laki-laki atau perempuan. kata-kata "sang wireng laga..." (sang pemberani dalam pertempuran...) jika dicermati bukanlah merujuk pada sosok Dyah Lembu Tal tetapi pada sosok Sri Nara Singamurti, ayah dari Lembu Tal. sedangkan dalam wirama (pupuh) 47 hanya disebutkan bahwa Dyah Lembu Tal berputra Kertarajasa. jadi Nagarakrtagama tidak menjelaskan Dyah Lembu Tal itu seorang laki-laki atau seorang perempuan.

mengapa Prapanca tidak memberi uraian yang lugas soal Dyah Lembu Tal? Dalam (wirama) pupuh 46 dan 47, Prapanca memang ingin bercerita soal garis darah prabu kertarajasa (raden Wijaya). garis darah raja-raja. prabu pertama Wilwatikta itu/Kertarajasa (raja) merupakan keturunan nara Singamurti (raja/bersama dengan Wisnuwardana). jadi seolah Dyah lembu tal dilewati saja karena ia bukan raja penguasa.

jika semisal memang Dyah Lembu Tal adalah perempuan, mengapa Prapanca tidak menyebutkan siapa ayah Raden Wijaya? analisisnya jika mengacu pada Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara bahwa ayahnya adalah Rakeyan Jayadarma dari Sunda, maka tidak mungkin Prapanca akan menyebut sesuatu tentangnya. mungkin sekali "Sunda" adalah sesuatu yang sensitif mengingat Prapanca juga tidak menyebut peristiwa Pasunda Bubat sama sekali. jadi nama Rakeyan Jayadarma (sebagai orang Sunda) tak mungkin dimasukkan Prapanca dalam kakawin puja-pujinya itu.

(sumber buku: I ketut Riana, Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama. masa keemasan Majapahit, Jakarta: Kompas, 2009, hlm230-232)

180.246.222.199 05:58, 3 Oktober 2011 (UTC)

Spekulasi yang menarik. Boleh-boleh saja misalnya I Ketut Riana menafsirkan pupuh 46 seperti itu. Umumnya ahli2 lainnya menganggap keterangan "sang wireng laga..." itu rujukan terhadap Lembu Tal. Yang jelas, pada Prasasti Balawi (1305 M), Raden Wijaya (Sri Maharaja Nararyya Sanggramawijaya) menyatakan bahwa dia asli keturunan Rajasa/Ken Arok ("rajasawangsamaniwrndakastena" = pelindung permata Wangsa Rajasa). Kalau ayahnya dari Sunda, tentu dia tidak mengklaim sedemikian itu, apalagi dia seorang pendiri kerajaan baru. Lihat dalam Pusponegoro dan Notosusanto, SNI: Jaman Kuna, Edisi Pemutakhiran, Cet. II, 2008, Jakarta: Balai Pustaka, hal 425. Salam, Naval Scene (bicara) 23:35, 3 Oktober 2011 (UTC)

bukankah tafsiran soal fakta lunak dalam kajian sejarah itu terus berkembang...secara umum memang tafsiran atas "sang wireng laga" itu selalu mengacu pada Lembu Tal, tetapi hal ini bukan tafsir final. bukan sebuah fakta yang validitasnya telah teruji benar. banyak tafsir soal isi dalam kakawin desa warnnana yang masih perlu diberdebatkan lagi. permasalahannya kita sering membaca kakawin desa warnnana dalam bentuk sudah terjemahan, semestinya kita membaca masih dalam bentuk bahasa aslinya atau setidaknya telah diubah dalam bahasa Jawa kawi. kembali ke permasalahan awal, memang betul bahwa raden Wijaya itu keturunan Arok-dedes. ia memang justru darah murni Arok Dedes, bukan seperti penguasa-penguasa Singosari terdahulu yang didominasi konflik keturunan Tunggul Ametung-dedes dengan Arok-Umang. tetapi bahwa Wijaya keturunan Arok hal itu tidak bisa menjadi bukti untuk mengambil kesimpulan bahwa Dyah Lembu Tal adalah Laki-laki karena dihubungkan dengan garis darah laki-laki yang dianut di Jawa. prasasti Balawi bukanlah rujukan valid untuk membuktikan bahwa Lembu Tal adalah laki-laki. prasasti itu keluar demi legitimasi kekuasaan dan tentunya telah disesuaikan kepentingan, sama halnya misalnya Balitung membuat prasasti Mantyasih yang menyebut pangkal penguasaan tanah Jawa (tengah) pada sosok Sanjaya. itu juga demi legitimasi. kenapa Wijaya (jika menganut tafsir bahwa ia keturunan Sunda )tidak menyebut sama sekali bahwa ia keturunan Sunda, hal ini juga bisa dianalisa bahwa jelas ia tak mungkin menyebut ia putra rakryan jayadara dari Sunda padahal ia mendirikan kerajaan di Jawa Timur. Wijaya jelas ingin menunjukkan bahwa ia pewaris sah negeri Singosari yang telah runtuh. untuk itulah ia menyebut Arok sebagai pangkal garis darahnya. sangat riskan ia menyebutkan sesuatu yang "berbau" Sunda kala itu karena mungkin sekali beberapa bawahannya akan "mempertanyakan" kekuasaannya atas tanah jawa (bagian timur). hal ini bisa dicontohkan (jika menarik waktu jauh ke belakang lagi)pada kasus Airlangga, menantu Darmawangsa, yang ikut terkena dampak "pralaya". kala Airlangga selamat dan mendirikan kerajaan Kahuripan, ia juga menarik garis pangkal pada "trah" Darmawangsa yang masih keturunan Mpu Sendok itu (lihat pada nama abiseka Airlangga saat diangkat jadi raja "Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa"). Airlangga tidak mungkin akan menyebutkan bahwa ia putra dari wangsa Marwadewa dari Bali. Hal itu juga demi legitimasi kekuasaan. jadi penyebutan nama raja (pendahulu)sebagai pangkal dari kekuasaan seorang raja itu selalu disesuaikan dengan kepentingan, dimana sang raja itu mendirikan kerajaannya.