Muntilan, Magelang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Muntilan)
Langsung ke: navigasi, cari
Muntilan
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Magelang
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - jiwa/km²
Desa/kelurahan -
Kantor kecamatan Muntilan
Gerai kerajinan batu khas Muntilan

Muntilan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia yang menjadi pusat perdagangan dan jasa di bagian Selatan Kabupaten Magelang. Muntilan terletak sekitar 10 Km dari Kota Mungkid yang menjadi pusat pemerintahan atau ibukota dari Kabupaten Magelang, 15 Km dari Kota Magelang, dan 25 Km dari Kota Yogyakarta. Muntilan telah lama menjadi pusat perdagangan dan jasa di bagian Selatan Kabupaten Magelang dan berada di jalur provinsi yang menghubungkan Kota Semarang, Kota Magelang, dan Kota Yogyakarta.
Muntilan juga berada di jalur kereta api tua yang menghubungkan Stasiun Tugu Kota Yogyakarta, Stasiun Blabak Mungkid, Stasiun Kebonpolo Kota Magelang, Stasiun Ambarawa, dan Stasiun Tambaksari Kota Semarang yang sekarang sudah tidak berfungsi lagi.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Muntilan berbatasan dengan Kecamatan Mungkid di Barat, Kecamatan Sawangan di Utara, Kecamatan Dukun, Srumbung, dan Kecamatan Salam di sebelah Timur, serta Kecamatan Borobudur dan Ngluwar di Selatan. Kecamatan Muntilan di lewati sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi antara lain sungai Pabelan, Lamat dan Blongkeng. Sungai sungai tersebut merupakan jalur banjir lahar hujan Gunung Merapi yang membawa material berupa pasir dan batu.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Muntilan sudah ada sejak peralihan kekuasaan atas Karesidenan Kedu dari Kesultanan Yogyakarta kepada pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1812. Pada awal keberadaannya, kecamatan ini merupakan tempat pemukiman orang Tionghoa. Pada masa Perang Diponegoro, laporan Belanda menyebutkan bahwa salah satu benteng dari proyek Benteng Stelsel dari Jendral De Kock dibangun di kecamatan ini.

Setelah Perang Diponegoro selesai dan Kultuurstelsel diberlakukan di Jawa termasuk di Karesidenan Kedu, Muntilan tumbuh menjadi kecamatan. Namun wilayah ini diperintah oleh seorang wedana yang berkedudukan di Probolinggo (Bolinggo), satu kilometer di sebelah timur Muntilan ke arah Yogyakarta, yaitu di wilayah Kecamatan Salam sekarang. Baru pada saat pemerintah kolonial mengadakan reorganisasi pemerintahan pada tahun 1900, Muntilan menerima status sebagai kawedanan sekaligus distrik. Dengan perubahan status ini, sejak itu kedudukan wedana dipindahkan dari Probolinggo ke Muntilan sementara di kecamatan ini juga ditempatkan seorang pejabat Belanda berpangkat kontrolir yang tunduk kepada asisten residen di Magelang.

Peristiwa sejarah penting di Muntilan di antaranya adalah kedatangan Pastur F. van Lith pada tahun 1894 yang memulai penyiaran agama Katolik di antara masyarakat Jawa. Dalam waktu sepuluh tahun van Lith telah berhasil membangun suatu komunitas umat Katolik Jawa yang mencakup daerah pelayanan hingga Sendangsono di Kulon Progo, Sumber di utara, Salam di timur, dan Tumpang di arah barat. Sementara itu wilayah Borobudur dilayani oleh rekannya, Pastur Hoevenaar. Van Lith bukan hanya membangun komunitas Katolik namun juga kompleks pendidikan sekolah Katolik yang sampai sekarang masih berfungsi termasuk asrama dan rumah sakit, yang diresmikan pada tahun 1902.

Peristiwa sejarah lain yang mempengaruhi tata ruang Kecamatan Muntilan adalah pembukaan rel kereta api oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada tahun 1892 yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang. Kecamatan Muntilan dilewati jalur ini dan sebagai teknisinya adalah Ir. The Tjien Ing, yang dipindahkan dari Secang oleh direksi NISM ke Muntilan pada tahun 1892. The Tjien Ing kemudian diangkat menjadi kepala kampung Cina (Chineezen Wijk) pada tahun 1903 dan pada tahun 1912 dilantik di klenteng Muntilan sebagai letnan Cina (het leiutenant voor Chineezen) oleh kontrolir Muntilan. Rumah The Tjien Ing yang sekarang berada di Jalan dr. Sutomo, merupakan tempat tinggal sementara Pastur Van Lith ketika tiba di Muntilan pada tahun 1893. Ia baru pindah ke kompleks Perikanan Muntilan sekarang pada tahun 1894.

Ketika Perang Dunia II, Muntilan menjadi tempat sebuah kamp tahanan perang oleh tentara Jepang yang menggunakan kompleks sekolah Katolik di sana. Mereka yang menghuni kamp internir ini terutama terdiri atas banyak keluarga Belanda.

Sekolah[sunting | sunting sumber]

  • Play Group Bentara Wacana Muntilan
  • PAUD Bina Anak Maddog Greget Muntilan
  • TK Bentara Wacana Muntilan
  • SD Muhammadiyah 1 Muntilan
  • SD Muhammadiyah Gunungpring Muntilan
  • SD Bentara Wacana Muntilan
  • SD Marsudirini Mater Dei
  • SD Marsudirini St. Yoseph
  • SD Pangudiluhur St.Ignatius
  • SD Kanisius Mandala
  • SD Negeri Muntilans
  • SD Negeri Muntilan 3
  • SD Negeri Tamanagung 3
  • SMP Kanisius Muntilan
  • SMP Negeri 1 Muntilan
  • SMP Negeri 2 Muntilan
  • SMP Negeri 3 Muntilan
  • SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
  • SMP Muhammadiyah Muntilan
  • SMP Bentara Wacana Muntilan
  • MTs Pon-Pes Al Iman Muntilan
  • SMA Negeri 1 Muntilan
  • SMA Muhammadiyah 1 Muntilan
  • SMA Muhammadiyah 2 Muntilan
  • SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan
  • SMA Bentara Wacana Muntilan
  • SMA Pendowo Muntilan
  • SMK Pangudi Luhur Muntilan
  • SMK Sanjaya Muntilan
  • SMK Muhammadiyah 2 Muntilan
  • MA Pon-Pes Al Iman MUntilan

Tempat Menarik[sunting | sunting sumber]

Wisata religi yang sangat dikenal oleh masyarakat di antaranya adalah makam Kyai Raden Santri Gunungpring di Desa Gunungpring, yang dikunjungi oleh sekitar 500 pengunjung setiap harinya dari berbagai daerah di Jawa. Juga makam Romo Sandyoyo, Kerkop Muntilan, yang dikenal dan dikunjungi oleh umat Katholik di Indonesia

Para Yesuit telah lama hadir di Muntilan. Terdapat sebuah seminari dan nekropolis yang banyak berisi peninggalan para anggota lamanya. Kardinal Julius Darmaatmadja, kardinal Gereja Katolik Roma dan Uskup Agung Jakarta saat ini, lahir di Muntilan. Selain itu di kota ini terdapat lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan Katolik sejak zaman Belanda. Yang paling menonjol adalah Sekolah Guru (Kweekschool)(sekarang SMA Van Lith Pangudi Luhur). Di samping itu juga ada beberapa sekolah dasar bagi anak-anak pribumi. Selain beberapa tokoh rohaniawan Katolik, lembaga pendidikan itu juga meluluskan sejumlah tokoh nasional seperti mendiang Frans Seda (mantan Menteri Keuangan), Simbolon (Kolonel), dan Sartono Kartodirdjo (sejarawan).

Di wilayah kecamatan ini juga terdapat candi peninggalan agama Buddha, yaitu Candi Ngawen. Candi ini yang cukup menarik karena berjajar lima bangunan dalam satu kompleks, dengan pahatan singa pada masing-masing sudut kaki candi.

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Adikarto
  2. Congkrang
  3. Gondosuli
  4. Gunungpring
  5. Keji
  6. Menayu
  7. Muntilan
  8. Ngawen
  9. Pucungrejo
  10. Sedayu
  11. Sokorini
  12. Sriwedari
  13. Tamanagung
  14. Tanjung