Muchtar Adam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Drs.KH.

Muchtar Adam
Drs.KH.Muchtar Adam
Pimpinan Umum Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam Bandung Indonesia ke-1
Masa jabatan
18 Januari 1981 – Sampai sekarang
Didahului oleh Tidak ada
Informasi pribadi
Lahir 10 September 1939 (umur 75)
Bendera Belanda Selayar, Sulawesi Selatan, Hindia Belanda
Kebangsaan Indonesia
Suami/istri Siti Sukaesih
Anak Dra.Intan Rosmadewi, M.Pd.
Drs.Firmansyah Mujahid
Anna Rosdiana, S.Ag.
Wahidah Rosyadah, A.Md.
Fajruddin Muchtar, Lc.
Fachruddin Muchtar
Fikri Arafat Ramdhani (Alm)
Alma mater IKIP Bandung
Profesi Da’i
Agama Islam

Drs.KH.Muchtar Adam (lahir di Selayar, 10 September 1939; umur 75 tahun) adalah seorang muballigh, ulama, cendekiawan, sekaligus pendiri dan pimpinan umum Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam di Desa Ciburial, Cimenyan, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Ia adalah pencetus gagasan Dakwah Harus Dipahami dan Dirasakan. (Da’wah Kedah Kahartos Karaos = bhs Sunda).

Nama dan Nasab[sunting | sunting sumber]

Nama Muchtar merupakan pemberian dari Dr.Muchtar Lutfi, seorang intelektual dan pejuang dari Sumatera Barat sebagai teman seperjuangan ayahnya yang sering bersama-sama keluar masuk penjara pada zaman Belanda, Jepang, dan NICA. Dr. Muchtar Lutfi memberikan nama depannya kepada putra sahabat karibnya, sedang Adam diambil dari nama ayahnya. Ayahnya bernama Tuan Adam , seorang muballigh dan pejuang kemerdekaan di Pulau Selayar. Pengetahuan dan pemahaman agama ayahnya diperoleh hanya melalui persahabatan dengan tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan, yang saat itu terkenal dengan Orang-orang Pergerakan. Bahkan, Tuan Adam bisa membaca dan menulis huruf latin ketika di penjara. Muchtar Adam lahir sebagai anak ketiga dari wanita bernama Syamintan yang merupakan istri pertama Tuan Adam. Istri kedua Tuan Adam adalah janda pejuang kemerdekaan teman seperjuangannya yang meninggal dunia. Kakek Muchtar Adam adalah seorang guru ngaji dan muballigh, walaupun tidak melalui pendidikan formal, karena saat itu di kampung cukup dengan belajar mengaji, dan jadi guru ngaji di Kampung Palemba Bontobangung, Pulau Selayar.

Masa Muda[sunting | sunting sumber]

Muchtar Adam dilahirkan di Benteng Selayar, sebuah ibu kota Under Avdeling Selayar (saat ini telah menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar), pesisir di Pulau Selayar yang kental dengan etos kerja pelaut yang heroik melawan kolonial. Rumah panggungnya yang berlantai papan kayu jalotong, dijadikan tempat berkumpul dan rapat-rapat para pejuang. Hidup dalam keluarga pejuang, Muchtar Adam kecil sering menyaksikan rumahnya digeledah tentara penjajah dan melihat dengan mata kepala sendiri dimana ayahnya (Tuan Adam) ditangkap lalu dimasukkan ke penjara. Sebagai satu-satunya anak lelaki dalam keluarga, ia harus membantu ibunya mulai dari berjualan kaki lima sampai berladang untuk menopang kehidupan keluarga ketika Tuan Adam di penjara. Setelah menyelesaikan pendidikan SRN di kota Benteng Selayar, ia melanjutkan ke SMI Muhammadiyah di kota yang sama. Ketika belajar di SRN, ia mengikuti kepanduan Hizbul Wathan tingkat Athfal yang memberikan bekal dasar-dasar keterampilan sosial dan kecakapan hidup. Di Athfal beliau mulai sebagai anggota sampai menjadi Kepala Regu. Setelah memasuki pendidikan di S.M.I. Muhammadiyah, ia masih terus bergabung dengan Gerakan Kepanduan H.W. sampai memimpin Pasukan.( 150 orang ). Di Gerakan Kepanduan inilah, ia memperoleh banyak keterampilan dalam segala bidang termasuk didikan akhlak menjadi menu utama seperti: kejujuran, kedisiplinan dan menolong orang lain. Ia tercatat sebagai siswa angkatan kedua yang harus mengikuti kurikulum 100% pelajaran umum setingkat SMP dan 100% pelajaran agama Islam yang semua dalam bahasa Arab dengan lama belajar selama empat tahun. Sebagai siswa SMI, ia aktif di Ikatan Pemuda Pelajar Islam Indonesia Selayar ( IPPIS) dengan jabatan sebagai Ketua Bidang Tabligh dan di Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Selayar dengan jabatan sebagai Ketua Seksi Penerangan di Cabang Selayar. Ketika belajar di SMI Muhammadiyah inilah, ia mengubah sikap dan cara pandangnya dalam menapaki kehidupan karena dibina dan dibimbing langsung oleh KH.Abdul Kadir Kasim alumni Madrasah Tawalib di Padang Panjang, Sumatera Barat. Setelah lulus SMI Muhammadiyah di Benteng Selayar, ia diantar ke Yogyakarta oleh KH.Abdul Kadir Kasim belajar di Madrasah Menengah Tinggi (MMT) yang terletak di depan Mesjid Agung Kauman Yogyakarta dengan beasiswa dari Baitul Maal Kabupaten Selayar. M.M.T. adalah pendidikan lanjutan atas sama dengan S.M.A.A (bahasa) dan pelajaran Islam semuanya menggunakan kitab-kitab bahasa Arab. Di lingkungan MMT, ia dibina dan dibimbing oleh KH. Basyir, Kyai Wardan, dan Kyai Mahfudz serta Guru-guru yang lain. Setelah lulus MMT, ia melanjutkan ke Akademi Tabligh Muhammadiyah. Kendati kuliah hanya tingkat pertama saja, namun kuliah yang diberikan oleh Prof. Ahmad Salabi, Prof . Farid Ma’ruf, dan Prof. Kahar Mudzakir, Buya Hamka, K.A.Badawi, Jarnawi Hadikusumo,Jurban Wahid ( Ekonomi Islam) dan lain-lain sangat mempengaruhi Muchtar Adam dalam mengimplementasikan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Setiap libur semester, ia pergi ke Pesantren Jamsaren di Solo untuk belajar aneka Ilmu-ilmu tentang ke Islaman, seperi Fiqhi, Ushul Fiqhi, Filsafat Islam dari K.H.Ma’muri, Kristologi dari bapak Arkanuddin. Ia memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (F.K.S.S.) Jurusan Sastra Arab IKIP Bandung. Muchtar Adam menikah dengan Siti Sukaesih gadis asal Bandung yang ditemui ketika masih sama-sama belajar di Yogyakarta. Siti Sukaesih sebagai alumni P.G.A.A. Muhammadiyah Kauman Yogyakarta.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • SRN di Benteng Selayar lulus tahun 1953.
  • SMI Muhammadiyah di Benteng Selayar, lulus 1957.
  • Tiap Malam Jumat mengikuti Kulliyatul Muballighin di Suronatan 1958.
  • MMT ( Madrasah Menengah Tinggi ) Kauman di Yogyakarta, lulus 1960.
  • Akademi Tabligh Muhammadiyah di Yogyakarta 1961.
  • IKIP Negeri, di Bandung, sarjana Muda 1970, dan Sarjana Lengkap 1983.

Pemikiran Muchtar Adam[sunting | sunting sumber]

Pemikiran Muchtar Adam lebih cenderung pada upaya menghormati hak-hak manusia untuk hidup. Ia berpendapat bahwa hak hidup merupakan prinsip utama yang harus ditegakkan, selanjutnya baru hak mendapatkan pendidikan bagi seluruh manusia tanpa kecuali. Esensi pendidikan adalah sebuah proses yang hendaknya mampu menyucikan peserta didik untuk menemukan dan mempertahankan kesuciannya baik lahir maupun batin. Dengan pendidikan, manusia bisa belajar apa saja dan kepada siapa saja. Belajar yang salah bukan merupakan suatu tindak munafik, tidak murtad, sehingga tidak perlu ditakuti. Sebab salah satu karunia Allah yang mulia adalah akal. Allah telah menyimpan akal dalam jiwa (nafs) manusia. Akal merupakan jalan penghubung kepada Allah berupa wasilah antara jiwa manusia dengan Allah Swt. Inti ajaran Islam ialah ma’rifatullâh, yaitu mengenal, mengimani, mentauhidkan serta mencintai dan mentaati Allah Swt. Hubungan tersebut adalah sumber bagi kehidupan jiwa manusia yang dapat melahirkan akhlak mulia. Hakikat manusia ditentukan oleh eksistensinya dalam hidup berupa suatu karya kesalehan sosial berlandaskan ma’rifatullâh, sebagai implementasi shilaturrahim, sehingga muncul di tengah-tengah masyarakat sebagai rahmatan li al-‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Karena didikan ma’rifatullah, bekerja adalah satu kemulian untuk memperoleh hak memiliki dari hasil usaha yang halal. Sebab inti ajaran Islam adalah ma’rifatullâh, inti ma’rifatullah adalah akhlak, dan inti akhlak ialah silaturahim dan inti silaturrahim adalah menggembirakan orang lain. Jadi pendidikan Islam harus berintikan kepada ma’rifatullah agar anak didik menjadi anak soleh, pewaris para nabi, dan meraih status khalifah fil ard. Dalam bukunya “Tazkiyah: Mensucikan Jiwa, Meredam Hawa Nafsu” yang terbit Dzulqo’dah 1429 H (November 2008 M), Muchtar Adam memandang hidup ini melalui upaya tazkiyah, setiap orang dapat mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Suci. Tazkiyah merupakan upaya yang sangat efektif untuk mengembalikan manusia kepada hakikatnya sebagai hamba Allah, karena manusia telah diberikan wadah kesucian (fitrah). Orang-orang yang seperti inilah kemudian yang disapa oleh Sang Maha Penguasa Semesta dengan panggilan yang luar biasa indah: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. 89: 27-30).

Kontribusi Gagasan[sunting | sunting sumber]

Bagi Muchtar Adam, dakwah dilaksanakan sebagai satu gerakan dengan materi dakwah terencana berbasis kebutuhan umat. Sehingga dakwah berlanjut menjadi “al tarbiyah wa al ta’lim” ( pendidikan dan pengajaran) yang bertitik tolak dari QS.22: 54. “Dan orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari Tuhannya –lalu mereka beriman— dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” Untuk mengimplementasikan ayat tersebut yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dalam berdakwah, didirikanlah Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam di Desa Ciburial, Bandung, pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1401 H (18 Januari 1981 M) dengan tujuan melaksanakan pengkajian al-Quran, penelitian masalah dakwah, pendidikan kader dakwah, penyebaran informasi wawasan al-Quran, pengembangan warga pedesaan dalam bidang aqidah, ilmu, sosial, dan ekonomi guna ikut serta mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt. Di pesantren ini, santrinya banyak dari kaum miskin, kaum tertindas dan kaum terpinggirkan oleh politik dan kepentingan pejabat yang berkuasa. Santri yang datang dari kalangan tersebut dibebaskan dari biaya hidup dan biaya pendidikan. Ia mengkritik sekolah yang hanya menampung anak-anak IQ tinggi dari kalangan kelas menengah keatas, tanpa peduli terhadap anak-anak IQ rendah dari kaum dhu’afa dan kaum mustadh’afin. Di pesantren ini, Islam diperkenalkan kepada santri melalui lintas mazhab dengan harapan saling memahami, menghargai dan berujung kepada silaturahim. Ketika santrinya berada di tengah umat bisa menjelaskan dan mendamaikan perselisihan masalah faham fikih, sehingga umat Islam dalam melaksanakan amal ibadah tidak perlu mempermasalahkan perbedaan mazhab karena semua ada dasarnya. Pemikiran inilah yang kemudian ditulis oleh Muchtar Adam dalam bukunya “Perbandingan Mazhab dalam Islam dan Permasalahannya”. Menurut Prof. Dr. Mohammad Askin, S.H., salah satu karya monumental Muchtar Adam dalam bidang pendidikan terhadap bangsa Indonesia adalah andilnya dalam pembahasan RUU SISDIKNAS yang kini sudah menjadi UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS). Ia sebagai anggota Komisi VI DPR RI turut aktif dan berjuang mengawal RUU SISDIKNAS dari nol sampai ditetapkan menjadi UU. Umat Islam Indonesia yang merupakan penduduk mayoritas, untuk pertama kalinya setelah Indonesia Merdeka selama 58 tahun, pesantren dan majelis taklim baru diterima sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 setelah gerakan reformasi berhasil menumbangkan rezim Orde Baru yang diktator dan korup.

Karier dan Pekerjaan[sunting | sunting sumber]

  • Guru SMI (Sekolah Menengah Islam) Muhammadiyah di Benteng Selayar, (1961-1963).
  • Guru MMA (Madrasah Menengah Atas) Muhammadiyah di Benteng Selayar, (1962-1963).
  • Tukang tembok dan penjual terasi di Bandung, (1963-1965).
  • Guru SD Muhammadiyah di Cisitu, Kota Bandung, (1964-1970).
  • Guru Agama SDN Merdeka, Kota Bandung, (1966-1967).
  • Guru SMP Muslimin di Jln.Ambon, Kota Bandung, (1964-1970).
  • Staf Seksi Penerangan Agama Kantor Departemen Agama Kodya Bandung, (1968-1971).
  • Tim Dakwah III dan IV Tahanan PKI Bapreru P.Buru, (1971-1973).
  • Kasi Penerangan Agama Islam Kantor Departemen Agama Kodya Bandung, (1976-1981).
  • Pimpinan Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam Bandung, (1981 sampai sekarang).
  • Dosen Luar Biasa Agama Islam Fakultas Publisistik Universitas Pajajaran Bandung, (1974-1985).
  • Dosen Luar Biasa Agama Islam Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pajajaran Bandung.
  • Dosen Luar Biasa Agama Islam Fakultas Psikologi Universitas Pajajaran Bandung
  • Dosen Luar Biasa Agama Islam Fakultas Teknik Sipil Universitas Ahmad Yani Cimahi-Bandung, (1985-1990).
  • Anggota DPR/MPR Republik Indonesia, (1999-2004).

Organisasi dan Kegiatan Sosial[sunting | sunting sumber]

  • Di Kepanduan Hisbul Wathan (Kepanduan HW) :
    • Ketua Regu Tingkat Athfal, (1953)
    • Kepala Pasukan Tingkat Pengenal, (1954-1957)
  • Di Pelajar Islam Indonesia (PII) :
    • Ketua Bidang Penerangan PII Cabang Selayar, (1955-1957).
    • Anggota PII Cabang Yogyakata, (1958-1960).
    • Dewan Penasihat Keluarga Besar PII (KB-PII) Jawa Barat.
  • Di Muhammadiyah :
    • Pimpinan Muhammadiyah Cabang Bandung Utara, Kota Bandung, (1964-1970).
    • Pimpinan Muhammadiyah Cabang Coblong, Kota Bandung, (1974-1979).
    • Wakil Ketua Majlis Tabligh Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat, (1970).
  • Di Yayasan Babussalam :
    • Pimpinan Pesantren Al-Quran Babussalam (1981 – sampai sekarang).
    • Ketua Dewan Pengurus Harian Yayasan Babussalam (1981-2007).
    • Ketua Pembina Yayasan Babussalam Bandung (2007- sampai sekarang).
    • Pembimbing Utama Spiritual KBIH Babussalam (1990- sampai sekarang).
  • Di Majelis Mujahidin (MM) :
    • Anggota Ahlul Halli wa al-‘Aqdi Majelis Mujahidin tahun 2005-2006. Kemudian mengundurkan diri dari keanggotaan dan kepengurusan MM tahun 2006 karena terjadi priksi yang keras dikalangan pengurus MM dalam menentukan strategi penegakan syariat Islam.
  • Kegiatan Dakwah :
    • Pembina Lembaga Pemasyarakatan Banceui di Bandung, (1968-1981).
    • Pembina Tahanan PKI Lembaga Pemasyarakatan Kebun Waru di Bandung, (1967-1971).
    • Pembinan Tahanan PKI / Komando Jihad Lembaga Pemasyarakatan Kebun Waru di Bandung, (1974-1979).
    • Membina Tapol PKI di Pulau Buru, Dakwah di Masyarakat P.Buru, dan Suku Terasing Alifuru di Tefaat Buru Maluku, (1971-1973).
    • Mengikuti Muktamar Islam se-Dunia VII untuk Kesatuan Dunia Islam, Teheran,Iran, 24-26 Agustus 1994.

Karya Tulis[sunting | sunting sumber]

Ditulis Sendiri[sunting | sunting sumber]

  1. Metode Praktis Membaca dan Menulis Al-Qur’an (Sistem 9 Jam), Bandung, LPTQ Bandung, 1980.
  2. Tafsir Isti’adzah, Banda Aceh, Gua Hira, 1985.
  3. Klasifikasi Ayat-ayat Al-Quran, Bandung, Babussalam, 1986.
  4. Al-Adzkar: Bimbingan Doa dan Dzikir menurut Al-Quran dan Sunnah, Bandung, Babussalam, 1992.
  5. Tafsir Ayat-ayat Haji: Telaah Intensif dari Pelbagai Mazhab, Bandung, Mizan, 1993.
  6. Tafsir Salat Safar Lintas Mazhab,Babussalam, Bandung, 1995.
  7. Tafsir Ayat-ayat Jenazah: Tinjauan dari 5 Mazhab tentang Salat Jenazah, Bandung, Pesantren Al-Quran Babussalam, 1994.
  8. Do’a Ibadah Haji: Berdasarkan Al-Quran dan Al-Sunnah, Bandung, Pesantren Al-Quran Babussalam, 1994.
  9. Adab-Adab Safar, Bandung, Penerbit Babussalam, 1995.
  10. Jalan Menuju Wahdah Islamiyah Penuh Onak dan Duri: Catatan Perjalanan Ke Iran Mengikuti Muktamar Islam se-Dunia VII untuk Kesatuan Dunia Islam, Bandung, t.p.,1994.
  11. Tafsir Ayat al-Tajhiz, Bandung, Babussalam, 1996.
  12. Khuruj: Mengunjungi Tempat Bersejarah Umat Islam di Mesir, Sudan, Suriah dan Iran, Bandung, Babussalam, 1997.
  13. Al-Hushun al-Mani’ah: Benteng Kekuatan Doa, Bandung, Penerbit Babussalam Press, 2005.
  14. Al Ahraz Ahlul Bait Dan doa Penangkal Sihir, Bandung, Babussalam, 1997.
  15. Al-Masih al-Dajjal, Bandung, Babussalam, 2002.
  16. Perbandingan Mazhab Dalam Islam Dan Permasalahannya, Bandung, Babussalam, 2003.
  17. Ijtihad: Antara Teks dan Konteks, Bandung, Babussalam, 2004.
  18. Al-Ta’qibat: Doa-doa Harian dan Doa-doa Ba’da Shalat, Bandung, Babussalam, 2005.
  19. Tafsir Ayat-ayat Qunut: Menggapai Hakikat Penghambaan, Bandung, Makrifat, 2006.
  20. Membuka Tujuh Pintu Surga Menutup Tujuh Pintu Neraka, Bandung, Makrifat, 2006.
  21. Istighatsah: Menyingkap Ruang-ruang Spiritual, Bandung, Makrifat, 2006.
  22. Kehancuran Bangsa: Menguak Sebab-sebab Kehancuran Satu Bangsa, Bandung, Makrifat, 2007.
  23. Ma’rifaturrasul: Kenali Dan Cintai Nabi-Mu Pasti Tidak Akan Sesat Dan Menyesatkan, Bandung, Makrifat, 2007.
  24. ‘Ulum al-Quran: Studi Perkembangan Ilmu-ilmu Al-Quran, Bandung, Makrifat, 2008.
  25. Tazkiyah: Mensucikan jiwa, Meredam Hawa Nafsu, Bandung, Makrifat, 2008.
  26. Samudra Cahaya: Mengungkap Hizb al-Bahar Imam Abu al-Hasan al-Syadzily, Bandung, Makrifat Media Utama, 2008.
  27. Ma’rifat al-Rusul: Jejak Cahaya Para Rasul, Bandung, Makrifat, 2009.
  28. Ma’rifatul Malaikat: Bersahabat dengan Malaikat, Bandung, Makrifat, 2008.
  29. Zionis Dalam al-Quran: Peran Syas bin Qais Menghancurkan Islam, Bandung, Makrifat, 2010.
  30. Ramalan Prabu Jayabaya Dan Prediksi Nabi Tentang Kehancuran, Bandung, Makrifat, 2010.
  31. Doa-Doa Kesehatan, Bandung, Makrifat Media Utama, 2010 M.
  32. Mu’jizat Pengobatan Dalam al-Quran dan Hadits, Bandung, Makrifat, 2011.
  33. Khutbah-Khutbah Penggugah Semangat: Kumpulah Khutbah ‘Idain, Bandung, Makrifat, 2011.
  34. Tafsir Mustahik Zakat Lintas Mazhab, Bandung, Makrifat Media Utama, 2011 M.
  35. Dinamika Perbandingan Madzhab, Bandung, Makrifat Media Utama, 2011.
  36. Oleh-oleh Haji Tidak sama dengan Oleh-oleh Mekah/Madinah, Bandung, Makrifat Media Utama, t.th.
  37. Sejarah Kurban, Bandung, Makrifat Media Utama, 1434 H / 2012 M.
  38. Memantapkan Syahadatain (Dua Kalimah Syahadat), Bandung, Makrifat Media Utama, 1435 H / 2013 M.

Naskah buku dalam proses cetak:

  1. Ma’rifat al-Rusul jilid II –Shalih ‘a.s.-Ibrahim ‘a.s.-Luth ‘a.s.-Ismail ‘a.s-Ishaq ‘a.s.- Lahirnya Bangsa-Bangsa /Bahasa Dunia .
  2. Tartib al-Tatslitsiyah – Rahasia Angka Tiga dalam Islam .
  3. Haji Dalam al-Quran Berdasarkan Riwayat Ahlu al-Sunnah dan Ahlu al-Bait ‘am.s.
  4. Prinsip-Prinsip Pokok Dalam Khuthbah Wada’ Rasulullah Saww.
  5. Ciri-Ciri Dekatnya Kiamat ( Yang sudah terjadi ).
  6. Khashâis Ummat al-Muhammadiyah.
  7. Tolaklah Bala dan Bencana dengan Shilah al-Rahim.
  8. Bohong di Dunia ( Tafsir 332 ayat / 69 surah Masalah Bohong)
  9. Tafsir Lengkap Basmala.
  10. Doa-Doa Dalam al-Quran.
  11. Tafsir Klasifikasi Ayat-Ayat al-Quran.
  12. Tafsir Syu’ab al-Imana ( Cabang-Cabang Keimanan).
  13. Ma’rifat al-Rasul jld II ( Rumah Tangga Rasulullah Saww.).
  14. Al-‘Ilâj bi al-Qurân –
  15. Sihir yang Halal –
  16. Ta’dzim al-Quran –
  17. Prinsip-Prinsip Pokok Khutbah Wada Rasulullah Saww –
  18. Atlas Mufassir –
  19. Ma’rifat al-Rusul – Ibrahim ‘a.s. Bapak Nabi-Nabi –
  20. Pola Tafsir 30 Ayat –
  21. Keistimewaan Muhammadiyah (Ummat Muhammad Saww)

Ditulis Bersama Penulis Lain[sunting | sunting sumber]

  1. Safari Rohani Ayatul Hirz, Bandung, Pesantren Al-Quran Babussalam, 1992, ditulis bersama KH. Abd. Kadir Qosim.
  2. Ma’rifatullah: Membangun Kecerdasan Spiritual, Intelektual, Emosional, Sosial, dan Akhlak Karimah, Bandung, Makrifat, 2004, ditulis bersama Fadlullah Muh. Said.
  3. Marhaban Ya Ramadhan: Persiapan Bathiniah Menjemput Ramadhan mulai Rajab dan Sya’ban, Bandung, Makrifat, 2006, ditulis bersama H.Ujang Tatang W., Lc., dan Fajruddin M.
  4. Mengais Hikmah: Cermin-cermin Spiritual Memberdayakan, Bandung, Makrifat, 2008, ditulis bersama Fitri ER.
  5. Membina Generasi Qurani, Penerbit Makrifat, Bandung, 2009, ditulis bersama Anna Rosdiana, S.Ag.
  6. Ilmu Gharib al-Quran: Bacaan-Bacaan Langkah dalam al-Quran, Bandung, Makrifat, 2011, ditulis bersama Agus Suryaman, S.S.

Sumbangan Tulisan[sunting | sunting sumber]

  1. Ijtihad: Antara Teks Dan Konteks, dalam buku Ijtihad Dalam Sorotan, Haidar Bagir dan Syafiq Basri (Editor), Bandung, Penerbit Mizan, 1988.
  2. Muraqabah: Merasakan Kehadiran Allah, dalam buku Zikir Sufi: Menghapiri Ilahi Lewat Tasawuf, Qamaruddin SF (Editor), Jakarta, Serambi Ilmu Semesta, 2000.
  3. Rahasia Adab Makan: Wujud Nyata Ma’rifatullah, dalam buku Hidup Penuh Berkah Melalui Ibadah yang Paling Mudah, Cecep Ramli Bihar Anwar (Editor), kerjasama Penerbit IIMaN dan Penerbit Hikmah, Jakarta, 2001.
  4. Meraih Salat Khusyu, dalam buku Salat dalam Perspektif Sufi, Sukardi K.D. (Editor), PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001.
  5. Sekali Lagi Al-Quran, dalam buku Belajar Mudah ‘Ulum Al-Quran: Studi Khazanah Ilmu Al-Quran, Sukardi K.D. (Editor), Lentera, Jakarta, 2002.
  6. Wawasan Al-Quran Tentang Gempa Bumi & Tsunami di Aceh, dalam buku Tsunami Aceh, Teuku Abdullah Sanny (Editor), Multi Solusindo Press, Yogyakarta, 2008.

Makalah Seminar[sunting | sunting sumber]

  1. Imam Ali Dan Hak Asasi Manusia Dalam Nahjul Balaghah: Tinjauan Tafsir Al-Quran, Seminar Internasional “Imam Ali dan Hak Asasi manusia dalam Nahjul Balaghah”, Citywalk 5th floor, Jakarta 20 juni 2009.
  2. Gempa dan tsunami Dalam Perspektif Imtaq Dan Iptek: Napak Tilas Kehancuran Bangsa-bangsa dalam Al-Quran, Seminar ICMI “Gempa dan Tsunami dalam Perspektif IMTAQ dan IPTEK”, di Gedung BPPT Ruang Utama lt.III, Jakarta 21 Oktober 2009.

Buku Tentang Muchtar Adam[sunting | sunting sumber]

  1. Muchtar Adam Meretas Jalan Menuju Ma’rifatullah, Neny Roslianti dan Titin Agusti, Makrifat, Bandung, 2007.
  2. Hidup harus Diperjuangkan dan Disyukuri, dalam buku Karya Emas: profil Tokoh & Pengusaha Indonesia, Pusat Profil Dan Biografi Indonesia, Jakarta.
  3. Konsistensi Reformasi, Fraksi reformasi DPR RI Periode 1999-2004, Jakarta.
  4. Wajah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Pemilihan Umum 1999, F. Harianto Santoso (Editor), Kompas, Jakarta, 2000.
  5. Buku Kenangan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Periode 1999-2004, Sekretariat Jendral Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Jakarta, 2004.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • Muchtar Adam Meretas Jalan Menuju Ma’rifatullah, Neny Roslianti dan Titin Agustin, Bandung:Makrifat, 2007.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]