Masjid Agung Nurul Islam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Koordinat: 0°41′10″LS 100°46′40″BT / 0,68605°LS 100,77775°BT / -0.686050; 100.77775

Masjid Agung Nurul Islam
Masjid-agung-sawahlunto.jpg

Masjid Agung Nurul Islam

Letak Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Pembukaan tanah 1894
Spesifikasi
Panjang 60 meter
Lebar 60 meter
Kubah 5
Menara 1
Tinggi menara 85 meter[rujukan?]

Masjid Agung Nurul Islam atau juga dikenal sebagai Masjid Agung Sawahlunto adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak di Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Lokasinya berjarak sekitar 150 meter dari Museum Kereta Api Sawahlunto.[1]

Masjid yang dibangun pada masa penjajahan Belanda ini pada awalya merupakan bangunan pusat pembangkit listrik bertenaga uap. Bangunan itu dibangun pada tahun 1894 dan berubah fungsi menjadi masjid sejak tahun 1952, sementara cerobong asapnya kemudian dijadikan sebagai menara dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.[2]

Bangunan utama masjid ini berukuran 60 × 60 meter dan memiliki satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil.[3] Di bawah bangunan masjid terdapat lubang perlindungan yang sempat dipakai untuk tempat merakit senjata, granat tangan, dan mortir.[4]

Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pertumbuhan infrastruktur di Kota Sawahlunto yang dipicu oleh aktivitas pertambangan batu bara mengalami perkembangan pesat pada akhir abad ke-19. Sejalan dengan itu, untuk dapat menggerakkan berbagai mesin listrik pemerintah Hindia-Belanda membangun pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dengan memanfaatkan aliran Batang Lunto di Kubang Sirakuak pada tahun 1894.[5][6] Namun mengingat debit air sungai yang berada di pinggir PLTU tersebut kian berkurang, pemerintah Hindia-Belanda kemudian membangun PLTU pengganti di Salak, Talawi pada tahun 1924 yang memanfaatkan aliran Batang Ombilin.[7]

Bangunan PLTU di Kubang Sirakuak yang sudah tidak berfungsi lagi sempat dijadikan sebagai tempat perlindungan dan perakitan senjata oleh para pejuang kemerdekaan di Sawahlunto selama revolusi Indonesia sebelum akhirnya berubah menjadi masjid sejak tahun 1952, sementara bangunan cerobong asap setinggi lebih dari 75 meter kemudian dijadikan sebagai menara masjid dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.[6]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki
Daftar pustaka

Galeri[sunting | sunting sumber]