Pembicaraan Templat:Masjid di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari


Nama Templat[sunting | sunting sumber]

Jika benar sesuai dengan judulnya, harusnya isi templat ini banyak sekali. borgx(kirim pesan) 01:13, 8 Juli 2008 (UTC)

Ya gak usah semua dimasukkan. Yang penting-penting, historis, dan besar saja.Stephensuleeman 01:22, 8 Juli 2008 (UTC)
Saya belum dapat untuk data seperti mas Stephensuleeman bilang! Yang dimaksud kategori besar itu "masjid" yang bagaimana? Terus "penting" itu masjid juga yg gimana? Klo historis jelas punya latar belakang sejarah. Ingat lho "historis", di indonesia banyak sekali masjid yang jadi saksi sejarah, ga kudu megah, masjid bocel juga banyak yang masuk kategori historis. So, sama aja sih untuk templat ini. Memang harus rajin diupdate. Untuk masalah banyak, apakah itu jadi kendala? NoiX180 12:40, 8 Juli 2008 (UTC)
Saya setuju. Masjid di Krukut itu bukan masjid besar, tapi historis. Masjid besar, misalnya Al Markaz al Islami yang di Makassar, atau Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru.Stephensuleeman 14:16, 8 Juli 2008 (UTC)

Yang masuk templat cuma masjid agung provinsi aja. -- Si Gam Acèh (bicara) 04:20, 8 April 2010 (UTC)

Kenapa hanya masjid agung provinsi? Masjid agung provinsi juga maksudnya bagaimana? Masjid Dian Al-Mahri termasuk masjid agung provinsi bukan? Setahu saya, masjid agung itu selalu berdekatan dengan alun-alun (tanah lapang) & kauman (tempat tinggal umat Islam), jadi masjid agung tidak mesti satu tiap provinsi. Di Jawa Tengah misalnya, hampir tiap kabupaten ada kauman & alun-alun & masjid agungnya, misal di Magelang, Kebumen, Semarang, dll. Di DIY, masjid agung ada di Kota Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulon Progo. Selain itu ada masjid Kotagede, itu masjid tertua di Jogja tapi bukan masjid agung. Kalau templatnya mau dikhususkan untuk masjid agung, nama templatnya mohon disesuaikan juga supaya konsisten judul dan isinya. Salam NoiX180 (bicara) 13:36, 10 April 2010 (UTC)

Masjid agung propinsi itu masjid agung yang ada di ibukota propinsi. Kalau mau dimasukkan semua masjid kayaknya terlalu banyak. Tiap daerah tingkat II kan punya masjid agungnya masing-masing. Belum lagi masjid-masjid yang bersejarah. Bisa penuh templatnya dengan ratusan mesjid. Mungkin nama templatnya bisa disesuaikan. -- Si Gam Acèh (bicara) 10:05, 15 April 2010 (UTC)

Gambar[sunting | sunting sumber]

Mas Jagaw, kok gambarnya dihilangin? NoiX180 12:42, 8 Juli 2008 (UTC)

Templat Masjid[sunting | sunting sumber]

Ya, saya setuju dengan penempatan masjid-masjid khusus masjid bersejarah (historistis) dan masjid besar-baca:agung, raya-menjadi markah tanah dalam suatu daerah). Saya sudah menyeleksi (sebagian) yang mana masjid yang masuk kategori masjid bersejarah dan agung/raya. Ezagren (bicara) 11:11, 24 Februari 2010 (UTC)

Pembagian menurut kawasan[sunting | sunting sumber]

Tolong templatnya dibagi menurut kawasan Sumatera, Kalimantan, Jawa dst. -- Si Gam Acèh (bicara) 04:20, 8 April 2010 (UTC)

Apakah seperti ini? Ezagren peduli pesut 04:44, 8 April 2010 (UTC)
Ya. Bagus sekali. Terima kasih. -- Si Gam Acèh (bicara) 11:32, 10 April 2010 (UTC)

Bung Ezagren, templat masjidnya sudah bagus. Kalau boleh ajukan saran, tulisan "masjid"-nya tidak usah ditampilkan, misal "Masjid Raya Baiturrahman" cukup ditampilkan "Raya Baiturrahman". Lumayan buat mengirit space. Ini sekadar pendapat pribadi lho... Trims. Reindra (bicara) 11:39, 9 April 2010 (UTC)

Iya, sih mengirit space. Tapi di templatnya malah pemborosan space dan jika "Masjid"nya dihilangkan, rasanya kurang sreg karena sejak dibuatnya templat ini, sudah ada kata "masjid"nya. Tapi usulan Anda akan dipertimbangkan. Ezagren peduli pesut 15:31, 9 April 2010 (UTC)
Malah aneh kalau ga ada kata Masjid-nya. -- Si Gam Acèh (bicara) 11:32, 10 April 2010 (UTC)

Oke, sip, usulan dicabut. Salam. Reindra (bicara) 01:28, 16 April 2010 (UTC)

Nama Mesjid[sunting | sunting sumber]

Minta pendapatnya, dong! Bagusnya nama setelah kata "Masjid" itu Al-... (menggunakan tanda hubung "-") atau Al ... (menggunakan spasi). Misalnya kata "Masjid Agung Al Karomah" menjadi "Masjid Agung Al-Karomah". Ezagren peduli pesut 17:35, 10 April 2010 (UTC)

Pake tanda hubung dong. Kan al itu bukan kata yang tersendiri, tetapi imbuhan. -- Si Gam Acèh (bicara) 10:05, 15 April 2010 (UTC)

Masjid Kubah Emas[sunting | sunting sumber]

Masjid Dian Al-Mahri 'kan baru 'kemarin' dibuat, dan nggak ada sejarahnya. Dia cuma ngetop saja. Sebaiknya dikeluarkan saja dari templat ini. Wie146 (bicara) 05:53, 7 Agustus 2010 (UTC)

Sebaiknya jangan karena di judul templat tertulis "Masjid Besar dan Bersejarah di Indonesia". Jadi, kategorinya ada tiga, yakni "besar dan bersejarah", "besar", dan "bersejarah". Ezagren गपशप 07:10, 7 Agustus 2010 (UTC)
Mm, begitu, ya. Kurasa nanti templatnya bisa jadi besar sekali, tuh. Tapi okelah, gapapa, nanti dipikirkan kalau sudah mulai 'melembung'. Salam, Wie146 (bicara) 14:00, 7 Agustus 2010 (UTC)
Kalau begitu, tolong sunting templatnya menjadi "sembunyi". Kalau yang sekarang ini 'kan "tampil". Saya masih (juga) kurang mengerti teknis. Ezagren गपशप 14:33, 7 Agustus 2010 (UTC)

Tolok ukur[sunting | sunting sumber]

Sebaiknya ada tolok ukur yang jelas masjid dengan sejarah seperti apa? segede apa? sengetop apa? kota apa? Biar jelas masjid mana saja yang bisa masuk dalam templat ini. Heiwa.pngAriyanto Gartoon-Evolution.png 11:02, 29 September 2011 (UTC)

Masjid yang bersejarah belum tentu besar, masjid yang besar belum tentu sejarahnya panjang. Artikel masjid yang menurut saya tidak besar dan kurang bersejarah adalah Masjid Miftahul Jannah, Masjid Ar-Royyan dan Masjid Sholihin karena ketiadaan referensi.
Sebagai contoh, Masjid Al-Akbar, meski bukan masjid bersejarah, tapi ia adalah masjid besar. Masjid ini tenar dan sering disinggung dalam tayangan di TV maupun artikel di internet.
Masjid Muhammadiyah Kelayan, meski bukan masjid besar, namun menurut referensi dikatakan bahwa ia termasuk masjid bersejarah. Makanya saya berani memasukkannya ke dalam templat.
Kesimpulan saya, artikel masjid yang layak masuk templat ini adalah: 1) Artikel masjid yang besar, namun terkenal; 2) Artikel masjid yang bersejarah; 3) Artikel masjid dengan referensi yang mencantumkan syarat 1 atau 2

Ezagren (kirim pesan) 00:53, 1 Oktober 2011 (UTC)

Sependapat dengan bung Ezagren. Tapi 'kan semua masjid memiliki sejarah, dan tidak adil mengklaim suatu masjid tidak memilikinya, jadi "bersejarah" yang dimaksud baiknya diperjelas lagi (bukan hanya panjang); begitu pula dengan yang dikatakan masjid terkenal.  RahmatdenasMengecat  22 Juni 2012 00.16 (UTC)
Memang, semua masjid memiliki sejarah. Tapi, "sejarah" yang dimaksud adalah sejarah yang membuatnya terkenal sehingga ditulis dan diliput oleh media massa atau pun dimuat dalam buku, seperti masjid yang Anda hilangkan secara sepihak. Ezagren (kirim pesan) 7 Juli 2012 06.30 (UTC)
Nah, jangan dikembalikan dulu revisi saya itu, mari diskusikan. Sekadar saja, sebenarnya saya menghilangkannya sementara waktu karena beberapa alasan. Umumnya sih, karena sejarah yang dimuat dalam artikelnya kurang menyertakan rujukan yang memiliki kredibilitas (beberapa ada yang dari blog), tak berpengaruh besar (selain bagi penyebaran agama Islam), bukan masjid terbesar/tertua di kabupaten/kotanya, terlalu naratif (kurang Wikipediais), tak ada yang membuatnya istimewa (seperti selamat dari suatu bencana), dan tambahan, biarpun banyak sumber yang menyebutnya bersejarah, tapi sesuai dengan deskripsi templat ini, alangkah baiknya disebutkan apa-apa saja sejarah tersebut (bukan hanya sejarah pembangunannya saja, ingat!).  RahmatdenasNgobrol  7 Juli 2012 08.57 (UTC)
Saya kira, artikel ini dan ini dapat mewakili sekaligus mempermudah memahami apa yang saya maksud.  RahmatdenasNgobrol  7 Juli 2012 09.12 (UTC)
Maaf, numpang nimbrung, jika tidak segera diputuskan maka akan menjadi bias. Sekedar saran, setau saya setiap propinsi memiliki masjid resmi/besar/agungnya masing-masing biasanya dalam bentuk masjid raya (Misalnya Jawa Tengah: Masjid Agung Jawa Tengah), nah mungkin ini dapat menjadi tolok ukur yang lebih terukur dibandingkan hal lain.  έδδφ  Ngobrol? Klik aja :) 7 Juli 2012 13.51 (UTC)
Yang Anda maksud itu setara AP dan AP, ya? Jadi Anda mau hanya artikel sejenis AP saja yang masuk templat ini? Wikipedia tidak seberat itu memberikan beban (anehnya, Masjid Jami Pontianak yang tergolong masjid tertua di situ dihapus dari templat hanya karena terlalu naratif. Kalau naratif 'kan bisa diperbaiki. Lagipula, maaf-maaf saja, ya, kalau menurut Anda kualitas saya dalam membuat artikel itu jelek, karena itu 'kan artikel tahun 2010, ketika saya sedang giat-giatnya berkontribusi di sini). Saya tidak ingin templat ini hanya menampilkan terbesar/tertua di kabupaten/kotanya karena itu terlalu naif, terlalu dibuat sangat eksklusif. Ya, minimal semi-inklusif/semi-eksklusif. Jika Anda berkata tak berpengaruh besar, tentunya apa yang saya tulis itu berpengaruh besar bagi masyarakat (semua masjid berpengaruh pada kabupaten setempat) masjid sehingga media atau penulis buku pun tertarik untuk mengabadikannya dalam sebuah tulisan.
Deskripsi templat? Jika ingin menggugat apa yang Anda sebutkan itu kurang naratif, bukan terbesar/tertua, atau alasan lain, gugatlah dan komunikasikan kepada pembuatnya (selama ybs. masih aktif dan masih ada), bukan templatnya. Ezagren (kirim pesan) 7 Juli 2012 14.15 (UTC)

Maaf, apa yang bung Ezagren katakan sungguh jauh dari apa yang saya maksud (saya tak mengatakan hanya AP, apalagi menjelek-jelekan—Astagfirullah). Baiklah, seperti yang bung Ezagren katakan, saya tidak lagi membahas naratif-naratifan di sini. Nah, sekali lagi, yang saya maksud begini:

  1. Masjid terbesar/tertua di kabupaten/kota/provinsinya (dengan ini saja bakal ada 497x2 masjid)—misalya Masjid Al-Akbar, Masjid At-Taqwa Ketapang.
  2. Memiliki peristiwa-peristiwa bersejarah (bukan hanya sejarah pembangunannya saja)—misalnya seperti Masjid Raya Ganting#Garis waktu.
  3. Keistimewaan-keistimewaan tersendiri seperti selamat dari suatu bencana, nyaris terbakar, kubah emas.

Templat ini saya revisi lagi, karena artikelnya tidak "memuat" salah satu kategori di atas. Masjid Jami Pontianak (yang baru Anda tambahkan keterangan tertuanya) dan beberapa lainnya tetap saya masukkan, terima kasih telah mengoreksinya.  RahmatdenasMengecat  7 Juli 2012 23.46 (UTC)

Naif? 497x2 masjid saja di templat ini sudah sepanjang apa nantinya? Belum lagi ditambahkan "semi-inklusif/semi-eksklusif" yang Anda maksud. Salam,  RahmatdenasMengecat  8 Juli 2012 08.12 (UTC)
Saya rasa tidak akan sampai 497 (jika termasuk kabupaten pemekaran). Hanya yang eksis dan bereferensi saja yang akan dibuat. Jadi, Anda tak ingin jika templat ini akan "berisi" sampai ratusan masjid besar dan bersejarah—kalau perlu +keramat :)— yang [mungkin] menghambat laju kecepatan internet Anda dalam berselancar. Ezagren (kirim pesan) 8 Juli 2012 18.20 (UTC)
Bagaimana kalau templatnya dipecah-pecah ke templat-templat per provinsi ({{Masjid di Aceh}}, {{Masjid di Jawa Tengah}}, dll.), karena adalah sama tidak mungnkinnya untuk menaruh semua mal di {{Mal di Indonesia}} atau semua pasar di {{Pasar di Indonesia}}. Sedangkan templat ini bisa diisi dengan a.l. daftar masjid per provinsi (atau kab/kota). Salam. ‑Bennylin bicara 09.06, 9 Juli 2012 (WIB)

Anda dapat mengundang pengguna lain untuk berkomentar dalam diskusi, salin lalu tempelkan kode berikut ini pada halaman pengguna yang ingin diundang: {{Gnt:Pengguna:Ariyanto/undis|Pembicaraan Templat:Masjid di Indonesia}}

Mendukung Mendukung pendapat bung benny. ~~ Heiwa.png Ariyanto Gartoon-Evolution.png 9 Juli 2012 02.27 (UTC)

Saya juga mendukung kalau templat ini dipecah per provinsi. Ikut komentar juga yang di atas, saya rasa untuk masjid setingkat Masjid Agung Sunda Kelapa saya rasa cukup layak, kalau memang tidak layak masuk di sini, saya rasa artikelnya berarti juga tidak layak; meskipun saya tidak tahu terlalu banyak tentang satu-per-satu subjek yang dimasalahkan ataupun yang saya ambil sebagai contoh. Mungkin bisa juga dicari rujukan-rujukan untuk daftar seperti ini. Salam. Albertus Aditya (bicara) 9 Juli 2012 05.24 (UTC)
Mockup: ‑Bennylin runding 13.32, 9 Juli 2012 (WIB)

Mendukung Mendukung Nah, begini lebih baik.  RahmatdenasMengecat  9 Juli 2012 09.41 (UTC)

Saya Keberatan Keberatan jika dipecah-pecah menurut provinsi. Templat yang diajukan bung Bennylin merah semua. Jangan disamakan mal dan pasar dengan masjid. Saya tidak mendukung pernyataan sdr.Albert pada kalimat pertama, tapi mendukung di kalimat selanjutnya (yang mana berarti Masjid Keramat Pelajau pun juga tidak layak). Ada pun templat yang diberikan Rahmatdenas tidak cukup baik. Berarti daftar itu harus diisi dengan seluruh masjid yang mencapai ratusan ribu, jangan cuma belasan saja. Lihat, Albert saja bisa merasa kalau Masjid Agung Sunda Kelapa itu cukup layak, apalagi saya, tapi sudah dihapus dari daftar oleh Rahmatdenas. Untuk Rahmatdenas [lagi], Anda berpikir Masjid Muhammadiyah Kelayan tidak layak masuk daftar setelah membaca artikelnya. Maaf, ya, referensi yang saya punya untuk artikel itu, "Masjid-Masjid bersejarah di Indonesia oleh Abdul Baqir Zein" tahun 1999 bukunya sudah cukup rusak sehingga banyak halaman yang hilang, termasuk bagian sejarah dari Masjid Muhammadiyah Kelayan itu (sebenarnya saya ingin membuat Masjid Jami Datu Abulung sebagai masjid tertua di Kab.Banjar, tapi ya, itu, bagian buku yang menjelaskan masjid itu tak ada lagi). Ezagren (kirim pesan) 9 Juli 2012 10.55 (UTC)
Hanya ingin kembali menjelaskan, di templat ini 'kan dimuat kata-kata "bersejarah", jadi beberapa masjid (yang setelah saya baca artikelnya) tidak memuat "apa-apa saja yang bersejarah"-nya (selain pembangunan), ya itulah yang saya keluarkan sementara. Lagipula, niat saya baik, yaitu memberi kejelasan agar isi templat ini tidak membludak di waktu yang akan datang. Nah kalau masalah buku, tak usah diperbincangkan di sini, alternatif lain ya menuju ke perpustakaan atau singgahlah sebentar ke toko buku, jangan hanya mengandalkan referensi daring saja . Saya yakin bung Ezagren memahami seutuhnya.  RahmatdenasMengecat  9 Juli 2012 13.43 (UTC)
Artikel masjid yang saya buat itu bersejarah, yang menurut saya tidak bersejarah takkan saya buat. Beberapa di antaranya saya sempat kunjungi sehingga saya meyakininya sebagai masjid bersejarah. Kalau pun harus mengungkapkan sejarahnya, yang ada adalah disebut riset asli karena diperoleh dari penuturan kaum masjid setempat (salah satunya ada di masjid yang Anda hapus dari daftar), sehingga saya simpan saja sebagai tulisan pribadi. Kalau pun membludak, toh dipecah di masa yang akan datang saja. Niatnya mau ke perpustakaan hari ini, tapi hujan deras melanda sehingga ditunda menjadi besok saja. Yang ada hanya referensi daring saja (untuk Masjid Keramat Pelajau), sedangkan buku, tak punya meski ada yang membahasnya. Apa perlu, ya, saya ke pelosok nantinya (seperti ke Masjid Ba'angkat, yang katanya pernah terangkat karena apa, entahlah, kurang tahu pasti)? Kalau ke pelosok menelusuri masjid, sih, siap-sukarela saja (utamanya di Kalseltengtim, kalau mau di Sumbar pun bisa, karena arsitekturnya menggoda, tapi sayang jauh). Kalau soal bludak tidaknya, saya pun bisa saja dari dulu sudah akan membludaknya karena saya ada berlangganan sebuah majalah yang ada rubrik "Masjid"-nya dan membuat puluhan artikel masjid yang bersumber dari rubrik itu. Tapi, karena penjelasan di rubrik itu detail, sehingga kalau dijadikan stub juga sayang, dan juga memakan waktu dalam pengetikan ulang, sehingga saya urungkan dahulu (plus, kalau referensinya cuma itu saja, rasanya artikel masjid yang saya buat ada rasa "gimanaaa.. gitu"). Menurut saya, templat ini sudah jelas, sehingga saya dulu mengeluarkan Masjid Miftahul Jannah, Masjid Ar-Royyan dan Masjid Sholihin dalam daftar. Templat ini sudah jelas, untuk kategori besar dan bersejarah. Masjid Ba'angkat, Masjid Babul Chair, Masjid Djami Keraton Landak, Masjid Jami Sungai Banar, Masjid Kasimuddin, Masjid Muhammadiyah Kelayan, Masjid Nurul Huda Sungai Jawi, Masjid Keramat Pelajau, dan Masjid Tegalsari adalah masjid bersejarah (dan salah satunya besar), hanya saja penyampaiannya tidak sesuai dengan selera Anda. Alhasil, Anda menghapusnya dari daftar. Ezagren (kirim pesan) 9 Juli 2012 15.49 (UTC)
Dari alasan Anda ini, sebenarnya Anda telah termasuk pelaku riset asli (seperti "saya sempat kunjungi sehingga saya meyakininya sebagai masjid bersejarah"). Nah bagaimana jika semua alasan Anda digunakan oleh pengguna lain yang bersikeras masjid di tempat tinggalnya masuk di templat ini?  RahmatdenasMengecat  10 Juli 2012 09.46 (UTC)
Tapi riset asli tak saya masukkan ke dalam artikel masjid yang dimaksud, hanya berdasarkan sumber saja. Ke semua masjid yang Anda hapus jauh dari tempat tinggal saya, tapi saya yakin itu bersejarah berdasarkan sumber, intuisi, dan observasi, plus didukung oleh sumber-sumber primer dan sekunder. Jika ada yang bersikeras seperti saya (hah, bersikeras?), Insya Allah alasan saya sudah berhak cipta sehingga kalau ingin mengutip mesti membayar royalti saya bisa atasi dengan cara saya sendiri dan penelusuran dengan cara saya sendiri (yakni mengapa dia meyakini masjid yang ia sebut bersejarah). Oh, ya, Masjid Jami Pringapus tak apa jika Anda hilangkan dari daftar, karena tak punya rujukan (meski pun pernah muncul di televisi). Ezagren (kirim pesan) 10 Juli 2012 11.17 (UTC)

Saya kira tidak akan ada tolok ukur yang pasti jika masih mengandalkan kata bersejarah, karena tolok ukur bersejarah masih simpang siur dan berbeda-beda. Kalau seandainya saat ini diputuskan dan disepakati mana yang bersejarah dan mana yang bukan, maka di masa yg akan datang juga (pasti) akan diperselisihkan lagi. Saya setuju pembagian masajid ini berdasarkan provinsi. ~~ Heiwa.png Ariyanto Gartoon-Evolution.png 11 Juli 2012 01.29 (UTC)

Saya sependapat dengan usulan dari pak benny. Imanuel NS Uen (Pesan di sini) 11 Juli 2012 02.27 (UTC)
Jika ingin dibagi berdasarkan provinsi, silakan saja. Hanya saja, sedikit khawatir akan ada klaim yang lebih ekstrem, padahal hanya masjid besar biasa tanpa sejarah bersumber. Jangan-jangan, Masjid Ar-Royyan bakalan masuk di {{Masjid di Jawa Barat}}. Ezagren (kirim pesan) 11 Juli 2012 11.14 (UTC)

Pembagian menurut propinsi[sunting | sunting sumber]

Karena jumlah mesjidnya sudah banyak, saya mengusulkan dibagi tiap propinsi. -- Si Gam (bicara) 12 Juni 2013 05.34 (UTC)