Lunang Silaut, Pesisir Selatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lunang Silaut
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Sumatera Barat
Kabupaten Pesisir Selatan
Pemerintahan
 • Camat -
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - jiwa/km²
Nagari/kelurahan -

Lunang Silaut adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Di timur berbatasan dengan Kabupaten Kerinci, Jambi dan di barat dengan Samudera Hindia. Di utara dengan Kecamatan Basa IV Balai dan di selatan dengan Provinsi Bengkulu.

Nagari-nagari di Lunang Silaut[sunting | sunting sumber]

Ada 5 nagari di Kecamatan Lunang Silaut : Lunang Utara, Lunang, Lunang Selatan, Lunang Barat dan Silaut

Sedangkan berikut adalah : 1. Tanjung Makmur 2. Taman Makmur 3. Mekar Sari 4. Suka Maju 5. Silaut 6. Sindang 7. Tanjuang Baringin 8. Talang Sari 9. Tanjung Sari 10. Lunang 11. Bukit Tapuih 12. Kumbuang

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Di Lunang ini terdapat keluarga Mande Rubiah yang dipercaya merupakan keturunan Bundo Kanduang, seorang raja perempuan Minangkabau (abad 16) yang menyelamatkan diri dari musuhnya Raja Tiang Bungkuk pada kisah Cindur Mato yang menyerang Pagaruyung dari Timur. Ia menyelamatkan diri bersama anaknya Dang Tuanku Remendung Syah Alam dan menantunya Puti Bungsu putri Raja Mudo, Rajo di renah Sekalawi (sekarang kab.Lebong) ke daerah ini. Hingga kini masih didapati makam keluarga Kerajaan Pagaruyung di nagari Lunang dan juga sebuah rumah gadang yang tak lain adalah istana Bundo Kanduang.

Di Lunang ini mayoritas didiami oleh pecahan Suku Malayu yang secara historis merupakan keturunan dari pendatang dari Sungai Pagu dan daerah lain di sekitar Lunang. Selain itu juga terdapat Suku Caniago di nagari ini. adapun nama-nama suku di Nagari Lunang adalah : Malayu, Malayu Gadang Rantau Kataka, Malayu Gadang Kumbuang, Malayu Durian/Rajo, Malayu Kecik, Malayu Tangah, Caniago Patih dan Caniago mangkuto.

Mande Rubiah yang ditemui di Lunang sekarang bernama kecil Rakinah. suami beliau bernama Suhardi sutan Indera (suku Malayu Gadang Rantau Kataka) dan 7 orang anak (6 Putera dan 1 Puteri) ; Mar Alamsyah Sutan Daulat, SSTP, Zulrahmansyah,D.Rajo Mudo,SS, Noval Nofriansyah, Marwansyah, Zaitulsyah, Heksa Rasudarsyah, Naura Puti kabbarasti. Sedangkan keturunan dari Dang Tuanku Remendung yang jejaknya tak terekam oleh pagaruyung atas permintaan bundo kanduang sendiri dengan mengatakan bahwa ia dan keturunannya sudah mengirap ke langit untuk mengelabui raja Tiang bungkuk yang mengejarnya sampai ke pagaruyung (kisah Cindur Mato)..setelah meninggalkan pagaruyung dang menghilang, bundo kanduang kembali ke lunang tempat asal nenek moyangnya, adityawarman. Sementara Cindur Mato putra juru kunci Istana (dan masih keponakannya) diperintahkan untuk naik tahta menggantikan Dang Tuanku Remendung sebagai putra mahkota alam minangkabau. Bundo kanduang mengirap agar tak terjadi pertumpahan darah yang lebih besar karena pertikaiannya dengan raja Tiang Bungkuk yang menewaskan anaknya Rangkayo Imbang Jayo (dalam kisah Cindur Mato. Lunang dan Renah Sekalawi berjarak kira-kira 40 km, Dang Tuanku Remendung, melahirkan dua orang anak: a. Sutan Sarduni gelar Rio mawang b. Putri Sariduni

Saat dewasa pangeran Sutan Sarduni pergi mencari asal usul keluarganya ke renah sekalawi, dan ia menemukan kakeknya masih hidup dan menjadi raja jang pat petuloi ke I di Sekalawi. Akhirnya kakeknya Rajo Mudo gelar Megat Sutan Saktai Rajo Jonggor turun tahta digantikan oleh cucunya Sutan Sarduni gelar Rio Mawang sebagai Raja Jang Tiang Pat ke II, oleh karena Bundo Kanduang ingin menghapus jejak keturunannya dari kejaran Raja Tiang Bungkuk, seluruh keturunan Dang Tuanku Sutan Remdungpun menggunakan dua bahasa, melayu minang, dan bahasa yang berkembang direnah Sekalawi yang penduduknya berasal dari pendatang Serawak Kalimantan, Cina, dan Majapahit. Jadi keturunan Dang Tuanku Sutan Remendung masih berada di Renah Sekalawi (kab.Lebong sekarang) bisa dilihat dari tembo-tembo yang turun temurun yang terdapat di suku VIII (Azhari Moeis, desa semelako dan suku IX.muara aman.)


Di zaman kekuasaan Inderapura, nagari Lunang berada dibawah penguasaan Inderapura.

Potensi Lunang[sunting | sunting sumber]

Lunang berpotensi menjadi daerah tujuan wisata sejarah dan budaya di Sumatera Barat dengan dijadikannya rumah gadang Mande Rubiah sebagai museum oleh Pemerintah Daerah Pesisir Selatan. Juga dilakukan pemugaran terhadap situs-situs sejarah di Lunang.

Selain itu dari segi ekonomi, Lunang berpotensi karena lahan perkebunan kelapa sawit di daerah transmigran Lunang Silaut.

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]