Batang Kapas, Pesisir Selatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Batang Kapas
—  Kecamatan  —
Negara  Indonesia
Provinsi Sumatera Barat
Kabupaten Pesisir Selatan
Pemerintahan
 • Camat Beriskhan
Luas 395,07 km²
Jumlah penduduk 30.038
Kepadatan 64 jiwa/km²
Nagari/kelurahan 5 nagari
Kantor Camat Batang Kapas

Batang Kapas adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia, dan beribu Kecamatan Pasar Kuok.

Batang Kapas merupakan salah satu dari 12 Kecamatan yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan yang terletak hampir dipertengahan, berbatas dengan Kecamatan IV Jurai Painan di sebelah utara dan dengan Kecamatan Sutera di sebelah selatan, dengan kondisi alam yang tidak jauh beda dengan Pesisir Selatan umumnya. Dengan luas wilayah 359,07 km2 mempunyai jumlah penduduk 30.038 jiwa terdiri dari 14.911 laki-laki dan 15.127 perempuan dengan kepadatan 64 jiwa/km2. Terdiri dari 3 wilayah Kerapatan Adat Nagari yaitu IV Koto Hilie, nagari IV Koto Mudiak dan nagari Taluk tapi punya 5 kenagarian sebagai wilayah administrasi pemerintahan, karena Nagari IV Koto Hilie Kec. Batang Kapas telah mengalami pemekaran dengan 2 pemerintahan nagari baru yaitu kenagarian Koto Nan Duo IV Koto Hilie dan kenagarian Koto Nan Tigo IV Koto Hilie. Dalam waktu dekat bakal ada lagi pemekaran pemerintahan nagari.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Kecamatan IV Jurai, Painan
Selatan Kecamatan Sutera
Barat Samudera Indonesia
Timur Kabupaten Solok Selatan


Lokasi Jenis & koordinat[sunting | sunting sumber]

Batang Kapas, dengan lintang -1,48 (1 ° 28 '60 S) dan bujur 100,6 (100 ° 35' 60 E), adalah (aliran) hidrografi terletak di Indonesia yang merupakan bagian dari Asia.


Nagari-Nagari di Batang Kapas[sunting | sunting sumber]

Awalnya ada 3 nagari di Kecamatan Batang Kapas kemudian dimekarkan menjadi 5 nagari yaitu: - Taluak - IV Koto Mudiak - Koto Tuo IV Koto Hilie - Koto Nan Duo IV Koto Hilie - Koto Nan Tigo IV Koto Hilie

masing-masing Kenagarian sebagai berikut :

  1. Nagari IV Koto Hilie Kec. Batang Kapas terdiri dari 6 (enam) Kampung
    1. Kampung Pasar Kuok
    2. Kampung Koto Tuo
    3. Kampung Limau Sundai
    4. Kampung Bukit Tambun Tulang
    5. Kampung Jalamu
    6. Kampung Teluk Betung
  2. Nagari Koto Nan Duo IV Koto Hilie Kec. Batang Kapas terdiri dari 4 (empat) Kampung :
    1. Kampung Anakan
    2. Kampung Sapan
    3. Kampung Teluk Kasai
    4. Kampung Sei. Bungin
  3. Nagari Koto Nan Tigo IV Koto Hilie Kec. Batang Kapas terdiri 3(tiga) dari Kampung :
    1. Kampung Kalumpang
    2. Kampung Limau Manis
    3. Kampung Sei. Pampan
  4. Nagari Taluk Kec. Batang Kapas terdiri dari 6 (enam) Kampung :
    1. Kampung Pasar Taluk
    2. Kampung Taluk Limpaso
    3. Kampung Ujung Batu
    4. Kampung Koto Keduduk
    5. Kampung Tanjung Kandis
    6. Kampung Koto Panjang
  5. Nagari IV Koto Mudik Kec. Batang Kapas terdiri dari 4 (empat) Kampung :
    1. Kampung Lubuk Nyiur
    2. Kampung Teratak Tempatih
    3. Kampung Sungai Nyalo
    4. Kampung Tuik

Objek Wisata Batang Kapas[sunting | sunting sumber]

  1. Pantai Nyiur Melambai
  2. Teluk Tempurung
  3. Koto Gunuang
  4. Lubuk Kuali Teluk Betung
  5. Balon Palo Banda Jalamu
  6. Balimau Paga Kampuang Anakan (Setiap Awal Ramadhan)
  7. Pantai Taluak Kasai
  8. Taluak Sungai Bungin
  9. Pulau Keong/ Batu Nago Labuang Baruak
Tuhan menciptakan alam ini sangat indah dan menakjubkan. Khusus di Batang Kapas, Pesisir Selatan tepatnya di depan Bukit Pulai ada pulau yang bentuknya sangat unik. Keunikan terlihat ketika berdiri di Pantai Sungai Nipah.Layangkan pandangan agak keselatan, tepat di depan ujung Bukit Pulai siapapun akan melihat keajaiban alam. Keajaiban itu adalah sebuah pulau mirip keong (molusca) sedang berjalan. Mungkin jaraknya dari pinggir Pasir Sungai Nipah sekitar 3 hingga 4 Km saja.
Tak banyak pengguna jalan atau mereka yang singgah di bibir pantai Sungai Nipah menyadari bahwa di depannya ada pulau yang sangat menarik untuk di lihat. Bahkan masyarakat Pesisir Selatan sendiri juga banyak tidak tahu.Masyarakat di sekitar daerah ini justeru menamakan pulau tersebut dengan Pulau Batu Nago. Bukan Pulau Keong atau sejenisnya. Pulau ini terdiri dari batu karang. Dari kejauhan terlihat mirip sekali dengan keong yang sedang melata.
Cangkang keong berada di bagian barat dan kepalanya tampak terjulur menghadap timur, dan nyaris mencium sebuah karang yang semakin dekat ke ujung Bukit Pulai. Di bagian kepalanya juga tampak seperti dilengkapi dengan aksesoris menyerupai antena keong.
Bagi masyarakat nelayan, pulau ini tidak memiliki arti besar selain seonggok karang besar, dan pada bagian ujung baratnya ditumbuhi pepohonan kelapa dan tumbuhan pantai nan rimbun lainnya. Namun akan lain halnya bagi mereka yang suka dengan sesuatu yang unik, pulau ini justeru menjadi sesuatu hal yang menarik.Oleh Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, pulau mirip keong berjalan ini memang belum dikelola untuk tujuan kepariwisataan. Hanya saja keberadaan pulau itu telah menambah daya tarik dan daya dukung kawasan yang ada di sekitar Sungai Nipah.
Bahkan, sejumlah pengembang wisata telah berhasil menjadikan beberapa tempat di kawasan ini sebagai pusat wisata keluarga, misalnya panorama Bukit Ransam, Pasir Sungai Nipah. Paling tidak ada tiga titik yang telah dikembangkan untuk tujuan wisata keluarga disini. Ketiga kawasan wisata ini selain mengandalkan keelokan pasir dan air laut yang bersih juga mengan­dalkan pemandangan Pulau Keong tersebut.Bila anda berkesempatan ke lewat di kawasan ini, yang jaraknya sekitar 6 Km dari Kota Painan, maka akan merasa takjub melihat ciptaan Yang Maha Kuasa tersebut. Silahkan mencoba


Potensi Alam[sunting | sunting sumber]

Kerkenaan dengan potensi alam, sebagian wilayah kecamatan Batang Kapas sebelah timur adalah hutan sehingga masyarakat dapat bekebun di bukit dan mengelola hutan kayu jati, kebun kopi, karet, cengkeh, coklat dan gambir. Sebagian penduduk lain memanfaatkan potensi kelautan sebelah barat sebagai nelayan seperti di Teluk Betung, Teluk Kasai Sungai Bungin, dan Muaro Bukit Tambun Tulang. Selain itu sebagian masayarakat Batang Kapas memanfaatkan lahan persawahan dalam sektor pertanian tanaman pangan.

Sarana Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sarana pendidikan yang dimiliki saat ini:

  1. 10 unit TK
  2. 34 Sekolah Dasar (SD)
  3. 7 SLTP yakni 5 SMP dan 2 MTsN
  4. 2 SLTA

Jika dilihat dari potensi anak-anak didik di Batangkpas sangat layak untuk berdirinya SMK. Selain itu keberadaan SMK ini juga akan bisa menampung siswa dari kecamatan yang berdekatan dengan kecamatan ini (tetangga). Disamping itu Madrasah Aliyah (MA) juga dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat setempat


Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejak awal abad 18 masyarakat Batangkapas sudah eksis di Pesisir Selatan, terbuktinya dengan sudah adanya terombo atau silsilah (ranji) yang disusun oleh kelompok-kelompok suku (kaum) dalam masyarakat, misalnya Suku Sikumbang kaum Datuk Tan Piaman yang dimulai dari tahun 1792.

Pada tahun 1662, diadakan sebuah perjanjian rahasia di sebuah pulau kecil di laut Batangkapas (Taluak Kasai atau Taluak Tampuruang). Hadir tokoh masyarakat Bandar Sepuluh yang dikenal sebagai kekuasaan Sidi Rajo yang digelari Belanda dengan Rajo Rampok . Tapi kemudian perjanjian rahasia itu bocor dan tersebar sampai ke Tiku (Pariaman) ketika Panglima Belanda datang ke sana. Sebagai tindak lanjut hasil perjanjian itu, dibicarakan kembali di Painan, dihadiri wakil Salido, Painan, Indrapura, Tiku dan Padang. Sialnya perjanjian itu bocor lagi. Isinya diketahui Panglima Aceh di Pariaman, sehingga pantai pesisir dikawal ketat oleh Aceh. Bahkan Aceh membuat strategi ingin memutus jalur dagang pelabuhan penting Indrapura, Tiku dan Pulau Cingkuk, dan mengalihkan ke Pelabuhan di Aceh.

Sungguh pun perjanjian Batangkapas yang kemudian dikukuhkan di Painan yang kemudian dikenal dengan kontrak Painan, hasilnya tetap dibawa ke Batavia (Jakarta), oleh wakil pesisir selatan dan utara bersama pimpinan VOC Groenewegen, tanggal 26 Maret 1663 (Sumber : Agus Yusuf, 1986). Isi perjanjian itu secara essensial bahwa perdagangan lada dan emas hak monopoli VOC (sebuah kepura-puraan yang memicu kemarahan Aceh). Tetapi kepura-puraan itu dikhawatiri jadi preseden buruk, tidak banyak dipahami sebagai taktik dan strategi memancing kemarahan Aceh. Sehingga terjadinya pro dan kontra terhadap perjanjian yang kontroversial itu. Bahkan ada yang menuduh Painan (Pesisir Selatan) benar-benar memihak dan menjual bangsa kepada Belanda. Yang kontra (penentang) perjanjian beraksi mendekati Panglima Aceh dan yang menyetujui perjanjian seperti memihak Belanda.

Sandiwara Batangkapas[sunting | sunting sumber]

Kemudian pada zaman Hindia Belanda sudah terkenal sandiwara Batangkapas yang bertujuan untuk mengelabui penjajah Belanda.

Sa’at Aceh mundur itu, rakyat yang terkonsentrasi di Bayang segera berbalik arah menentang Belanda terang-terangan. Sidi Naro yang digelari Belanda Rajo Rampok (kemudian mendapat kuasa di Batangkapas, makamnya masih terdapat di tengah pasar dari Pasar Kuok ibu negeri Batangkapas. Tidak banyak informasi Sidi Naro berkuasa setelah raja Batang Kapas Raja Lele Garam, yang seangkatan dengan masa pemerintahan Muhammad Syah di Indrapura), ikut mengempur Belanda dan berpihak kepada Bayang. Mendengar Bayang siap-siap menggempur Salido yang diperkuat Sidi Naro, penduduk ketakutan dan mengungsi ke pulau-pulau sekitar termasuk kepulau Cingkuk dekat benteng Belanda. Benar saja tanggal 7 Juni 1663, Bayang yang mempunyai sense of bolonging serta kuat memiliki solidaritas primordialis yang berbobot wawasan kebangsaan dan dibakar oleh semangat jihad Islam, mencintai tanah air bagian dari iman, yang digerakan dari pusat pendidikan surau Tuanku Bayang, tidak lagi mengasih ampun Belanda. Bayang menyerang Salido tempat kedudukan Groenewengen pimpinan VOC itu. Perang Bayang pertama meletus, pasca perjanjian Painan.

Di pihak lain seperti di Batangkapas yang tadinya berpura-pura berteman dengan Belanda (disebut Sandiwara Batangkapas) dengan indikasi adanya perjanjian dengan Belanda sebagai cikal bakal Perjanjian Painan, serta merta orang Batangkapas berontak ikut membantu Raja Adil dari Majunto dekat Indrapura, menyerang kerajaan Indrapura yang dipimpin Muhammad Syah. Raja Adil yang tadinya tidak tahu lalu menentang perjanjian Batangkapas, meningkatkan aksinya menyerang Muhammad Syah yang memihak Belanda. Kekuatan Raja Adil selain di bantu Raja Batangkapas Raja Lela Garam, diperkuat pula barisan Raja Kambang. Tetapi seperti perang Bayang 1663, Raja Adil, meskipun semua daerah yang baru saja takluk di bawah Indrapura berpihak kepadanya, namun Raja Adil akhirnya tidak berkutik. Karena tadinya Sultan Muhammad Syah di Indrapura seperti duduk di atas bara meminta bantuan VOC di pulau Cingkuk. (N.St Iskandar 1981:133).


Pranala Luar[sunting | sunting sumber]