Kolonisasi daerah Timur oleh bangsa Jerman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sejarah Jerman
Coat of arms featuring a large black eagle with wings spread and beak open. The eagle is black, with red talons and beak, and is over a gold background.
Artikel ini adalah bagian dari serial
Sejarah Awal
Bangsa Jermanik
Periode migrasi
Kerajaan Franka
Abad Pertengahan
Franka Timur
Kerajaan Jerman
Kekaisaran Romawi Suci
Ostsiedlung
Modern Awal
Kleinstaaterei
Kerajaan Prusia
Penyatuan Jerman
Konfederasi Rhein
Konfederasi Jerman & Zollverein
Revolusi Jerman 1848
Konfederasi Jerman Utara
Negara Jerman (Deutsches Reich)
Kekaisaran Jerman
Sejarah Jerman selama Perang Dunia I
Revolusi Jerman 1918
Republik Weimar
Saar, Danzig, Memel, Austria, Sudeten
Jerman Nazi
Sejak 1945
Pendudukan + Ostgebiete
Perbatasan Oder-Neisse
Jerman Barat, Saar & Jerman Timur
Penyatuan kembali Jerman
Topik
Sejarah militer Jerman
Perubahan wilayah Jerman
Garis waktu sejarah Jerman

Portal Jerman
 v • d • e 
Penduduk yang menuturkan Jerman di Eropa sebelum tahun 1938 sebagai hasil dari fenomena "Kolonisasi daerah Timur". Catatan: penutur bahasa Belanda sebagai sebuah dialek Jerman hilir ikut dihitung.

Kolonisasi daerah Timur oleh bangsa Jerman (bahasa Jerman: Ostsiedlung), adalah fenomena perantauan dan penetapan bangsa Jerman di daerah di Eropa Timur yang sebenarnya dihuni oleh bangsa Slavia, Baltik, Rumania, dan Hongaria yang mulai pada abad ke-12. Dalam diskusi ilmiah Jerman, frasa ini terutama merujuk kepada kembalinya penguasaan Sachsen terhadap daerah-daerah Sorbia dan Wendia, terutama di Brandenburg oleh "Albert sang Beruang" (bahasa Jerman: Albrecht der Bär).

Kolonisasi ulang oleh sukubangsa Jerman daerah-daerah di sebelah timur sungai Elbe dan Saale (yang kala itu dihuni oleh sukubangsa Slavia, suku Polabia) dan Styria serta Carinthia (yang dihuni oleh sukubangsa Slovenia) bermula dengan migrasi Jerman pada Abad Pertengahan. Selain itu migrasi penduduk Kanton Valais di Swiss menuju daerah yang sebelumnya dihuni oleh bangsa Romawi pada beberapa aspek juga mirip dengan Kolonisasi daerah Timur.

Kolonisasi ulang ini bermula pada abad ke-11 dan mencapai puncaknya pada awal abad ke-13. Gerakan-gerakan yang berbeda-beda ini kadangkala bersifat militaristis dan kadang-kadang bersifat damai, tergantung keadaan. Pada pertengahan abad ke-14, proses kolonisasi ini agak terhambat karena adanya wabah pes. Selain itu daerah-daerah yang paling baik telah terhuni. Namun biar bagaimanapun, para pemimpin setempat bangsa Slavia, di Pomerania dan Silesia pada Abad Pertengahan akhir, tetap mengundang bangsa Jerman untuk menetap di daerah-daerah mereka.

Pada abad ke-19, pengakuan fenomena kompleks ini dan diiringi dengan munculnya nasionalisme di Jerman, menuju je konsep Pan-Jermanisme dan Drang nach Osten yang pada gilirannya secara sebagian menambahkan munculnya konsep Lebensraum. Hasil daripada gagasan-gagasan nasionalis ini ialah bahwa orang-orang yang dianggap sebagai anggota bangsa Slavia oleh kaum Nazi menderita diskriminasi dan genosida. Pada dan setelah Perang Dunia II, orang-orang Jerman di sebelah timur garis Oder-Neisse diusir, dan memberikan hasil perbatasan bahasa Jerman menjadi lebih kecil dewasa ini daripada pada abad ke-10. Jadi pembersihan etnik oleh kaum Stalinis Slavia setelah Perang Dunia II, secara sebagian memutar kembali kolonisasi daerah-daerah Slavia dan Baltik yang dilakukan oleh sukubangsa Jerman pada masa Ostsiedlung. Namun sebagian besar daerah yang kala itu dikolonisasi oleh bangsa Jerman masih merupakan bagian dari Jerman.