Ketul

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Ketul
Ketul, Bidens pilosa var. minorDarmaga, Bogor
Ketul, Bidens pilosa var. minor
Darmaga, Bogor
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Eudicots
(tidak termasuk) Asterids
Ordo: Asterales
Famili: Asteraceae
Genus: Bidens
Spesies: B. pilosa
Nama binomial
Bidens pilosa
L.[1]
Sinonim
  • Bidens sundaica Bl., 1826
  • B. leucorrhiza (Lour.) DC., 1836

Ketul (Bidens pilosa) adalah sejenis tumbuhan anggota suku Asteraceae. Terna ini umumnya ditemukan liar sebagai gulma di tepi jalan, di kebun-kebun pekarangan, di perkebunan-perkebunan, atau pada lahan-lahan terlantar. Nama-nama lainnya adalah acerang, ajeran, hareuga (Sd.); ketul, petul, ketulan, ketul kebo, ketul sapi, jaringan, caringan (Jw.); lanci thuwa, lancing thuwa, cing-lancingan (Md.); serta Spanish Needle, Blackjacks, Beggar ticks (Ingg.).[2]

Pemerian[sunting | sunting sumber]

Bunga dan daun

Terna tegak, kerap bercabang-cabang, sedikit aromatis, tinggi hingga 1 m. Batang bersegi-4, gundul atau sedikit berambut, sering berwarna kemerahan. Daun-daun berhadapan, utuh atau berbagi menyirip dalam 2-3, jarang 5, bertangkai panjang hingga 6,5 cm. Helai daun bundar telur memanjang dengan ujung runcing, 1–12 × 0,5–5,5 cm, tepi bergigi bergerigi, gundul atau sedikit berambut.[3]

Bunga dalam bongkol-bongkol yang berkumpul terminal atau pada ketiak daun. Bongkol 5–7 mm tingginya, berdiameter 7-8 mm, berkelamin ganda, berisi 20–40 bunga yang berjejalan, bertangkai panjang hingga 9 cm. Bunga tepi berjumlah 5–7, dengan mahkota bertabung pendek dan lidah jorong atau eliptis lebar, 5–8 mm panjangnya, kuning atau putih krem. Mahkota bunga cakram bentuk tabung, bertaju 5, kuning. Buah keras (achene) ramping memanjang, 0,5–1,3 cm, coklat kehitaman bila masak, dengan 2–3 kaitan serupa jarum bergerigi-berduri di ujungnya; amat berguna untuk melekat pada rambut atau tubuh binatang yang akan memencarkannya (epizookori).[3]

Penyebaran dan ekologi[sunting | sunting sumber]

Bunga dan buah yang muda

Ketul berasal dari Afrika selatan, akan tetapi telah menyebar luas di Jawa sejak sebelum 1835. Kini diketahui tersebar di seluruh daerah tropis dan menjadi tumbuhan pengganggu di banyak negara.[3]

Terna ini adalah gulma yang sangat umum dijumpai di Nusantara. Menyukai tanah yang lembap dan sinar matahari penuh, ketul didapati hingga ketinggian 2.300 m. Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun, dan dalam waktu seminggu (apabila kondisinya sesuai) 35–60% biji (buah) yang terjatuh di tanah akan berkecambah. Daya kecambahnya pun tetap tinggi; setelah 3–5 tahun tersimpan, sekitar 80% biji masih mampu berkecambah.[3]

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Terutama daun-daunnya digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional. Rebusan atau perasan daun dimanfaatkan untuk mengatasi batuk, angina (sakit dada), sakit kepala, demam, diabetes, sembelit, mencret, kecacingan, sakit perut, sakit gigi, keracunan, pegal-pegal, serta dicampurkan dalam air mandi untuk menyembuhkan gatal-gatal dan nyeri rematik.[4]

Di Jawa Barat, daun-daun dan pucuk ketul yang muda dikunyah sebagai obat sakit gigi. Pucuk yang dilayukan di atas api digunakan untuk mempercepat pematangan bisul. Di banyak tempat, terutama di Jawa, daun-daun muda dimanfaatkan sebagai lalap atau bahan campuran pecal.[2]

Di Tiongkok, ketul juga merupakan herba obat yang disebut xian feng cao (咸豐草).

Ketul kadang-kadang juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak.[4]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Linne, Carl von, & Lars Salvius. 1753. Caroli Linnaei ... Species plantarum :exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, ... Tomus II:832. Holmiae :Impensis Laurentii Salvii, 1753.
  2. ^ a b Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3:1839. Terj. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta
  3. ^ a b c d Soerjani, M., AJGH Kostermans dan G. Tjitrosoepomo (Eds.). 1987. Weeds of Rice in Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta. p. 64–65 (illust.)
  4. ^ a b Alonzo, D.S. & J.W. Hildebrand. 1999. Bidens L. in Padua, L.S., N. Bunyapraphatsara, & R.H.M.J. Lemmens (Eds.) Plant Resources of South-East Asia 12(1) - Medicinal and poisonous plants 1: 150-55. Prosea Foundation, Bogor.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]