Kartasura, Sukoharjo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kartosuro)
Langsung ke: navigasi, cari
Kartasura
—  Kecamatan  —
Lokasi Kartasura Sukoharjo.png

Peta lokasi Kecamatan Kartasura
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Sukoharjo
Pemerintahan
 • Camat Sriyono, S.Sos
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - per km²
Desa/kelurahan Ngadirejo, Ngabeyan, Singopuran, Gonilan, Kartasura, Pabelan, Kertonatan, Makamhaji, Ngemplak, Pucangan, Gumpang, Wirogunan

Kartasura adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kartasura dapat dikatakan merupakan kota satelit bagi Surakarta atau Solo, sebagaimana halnya dengan Solobaru yang juga merupakan sebuah area yang dikembangkan di kabupaten Sukoharjo. Di kota ini terdapat persimpangan jalan negara Surabaya-Solo-Yogyakarta dan Solo-Semarang.

Sejarah Singkat[sunting | sunting sumber]

Sisa benteng kraton Kartasura

Tahun 1600(J) Adipati Trunojoyo dibantu Kraeng Galengsong memberontak pemerintah Mataram yang beribukota di Plered. Sunan Amangkurat I melarikan diri bersama keluarganya. Setelah pasukan Trunojoyo memenangkan pertempuran, mereka segera meninggalkan Plered dan membangun kekuatan baru di Kabupaten Kediri. Adipati Trunojoyo memproklamasikan diri sebagai raja yang berkuasa atas seluruh tanah Jawa.

Sementara itu Sunan Amangkurat I beserta keluarga dan para pengikutnya sudah berada di desa Ajibarang Kabupaten Banyumas. Dalam kondisi yang serba sulit, Sunan Amangkurat I jatuh sakit hingga akhirnya beliau wafat. Sesuai permintaannya sebelum meninggal, jenazah Sunan Amangkurat I dimakamkan di desa Tegalarum Kabupaten Tegal.

Pangeran Adipati Anom (putra Sunan Amangkurat I) menyatakan diri sebagai raja baru menggantikan ayahandanya, beliau bergelar Susuhunan Amangkurat II. Seluruh kekuatan yang masih setia segera dikumpulkan dan dipusatkan di kota Tegal, mereka bersepakat merebut kembali kekuasaan tanah Jawa yang sekarang berada dalam genggaman Adipati Trunojoyo. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Sunan Amangkurat II minta bantuan kekuatan tempur kepada kompeni Belanda di Batavia (Jakarta).

Tahun 1601(J) Sunan Amamangkurat II mengerahkan pasukan tempur yang sangat besar untuk menyerang Adipati Trunojoyo di Kabupaten Kediri. Pasukan Kediri kewalahan menghapi prajurit Mataram yang dibantu serdadu kompeni dengan persenjaataan moderen. Setelah melalui pertempuran dahsyat, Adipati Trunojoyo tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. Kekuasaan Mataram berhasil ditegakkan kembali oleh Sunan Amangkurat II.

Usai menumpas pemberontakan Trunojoyo, Sunan Amangkurat II menarik pasukannya menuju Kabupaten Semarang, kemudian beliau memberi perintah kepada Pangeran Nrangkusumo agar membuka hutan Wanakerta dan dibangun menjadi kawasan permukiman. Dalam kurun waktu dua tahun hutan Wanakerta sudah berubah menjadi sebuah kota yang besar.

Pada hari Rebo Pon, tanggal 27 Ruwah, tahun Alip 1603(J), bertepatan dengan tanggal 11 September 1680(M), Sunan Amangkurat II secara resmi menempati ibukota kerajaan yang baru. Sejak saat itu nama Wanakerta diganti dengan nama Kartasura Adiningrat. Dengan demikian sekarang ini (tahun 2010) Kartasura sudah berusia 330 tahun.

Administratif[sunting | sunting sumber]

Meski merupakan suatu kota kecamatan di wilayah Kabupaten Sukoharjo, kecamatan ini secara ekonomi menjadi salah satu pengembangan kota Surakarta ke arah barat karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan kota itu. Sedangkan untuk menuju ibukota kabupatennya sendiri, warga Kartasura harus menembus wilayah Surakarta.

Dengan kondisi lokasinya itu, pernah ada wacana tentang penggabungan Kartasura dengan kotamadya Surakarta, tetapi keinginan itu selalu ditolak pemeritah kabupaten setempat. Bahkan pernah ada keinginan warga Kartasura untuk membentuk wilayah kotamadya atau administrasi kota sendiri (kota administratif). Jika Kartasura membentuk kota sendiri maka luasnya kurang lebih sama dengan kota Salatiga dan jumlah penduduknya sekitar 120.000 jiwa.

Fasilitas Pendidikan, Kegiatan Ekonomi, dan Industri[sunting | sunting sumber]

Di Kartasura terdapat kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kampus V Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS), Pondok Pesantren Assalam dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Terdapat beberapa tempat perbelanjaan swalayan, yaitu Goro-Assalam dan Carrefour, Toserba Mitra, Laris, dan aneka toserba lainnya, yang sebagian besar terletak berdekatan dengan Pasar Kartasura. Di sebelah barat wilayah ini terdapat pabrik tekstil besar yaitu Tyfountex[1], yang ditujukan untuk menyuplai pasar ekspor.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Di Kartasura, terdapat sarana transportasi tradisional becak, minibus angkutan kota (angkuta), bus kota yang memiliki jalur Kartasura-Terminal Tirtonadi Solo, Kartasura-Sukoharjo, Kartasura-Solo Palur, bus antarkota, dan juga taksi dari beberapa perusahaan penyedia layanan taksi lokal Wahyu Taksi. Sedangkan delman biasa didapati di sekitar Pasar Kartasura, menjadi transportasi favorit bagi para petani maupun pedagang untuk mengangkut beragam komoditasnya dari dan ke pasar.

Kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Pucangan
  2. Wirogunan
  3. Kertonatan
  4. Kartasura
  5. Ngemplak
  6. Ngabeyan
  7. Ngadirejo
  8. Singopuran
  9. Pabelan
  10. Makamhaji
  11. Gonilan
  12. Gumpang