Kapasitas mesin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Satu siklus penuh dari mesin 4 tak 4 silinder. Volume/kapasitas mesin ditandai dengan warna merah.

Kapasitas mesin adalah volume dari semua piston di dalam silinder mesin pembakaran dalam, yang diukur dari satu pergerakan maksimum dari atas ke bawah. Biasanya dinyatakan dengan menggunakan satuan sentimeter kubik (cc), liter (l), atau inchi kubik (CID) di pasar Amerika Utara. Kapasitas mesin tidak termasuk dengan total volume dari ruang pembakaran.

Definisi[sunting | sunting sumber]

Kapasitas mesin dapat diketahui dari diameter dan langkah dari sebuah silinder mesin.

 \mbox{Isi silinder} = {\pi\over 4} \times \mbox{diameter}^2 \times \mbox{langkah} \times \mbox{jumlah silinder}

Contoh: Mesin Chevrolet 427 memiliki diameter 4,312 inchi, dan langkah 3.65 inchi, maka mesin 8 silinder ini memiliki kapasitas mesin:

3.1416/4 * 4.3122 * 3.65 * 8 = 426.4 CID (inchi kubik).

Jika diameternya 10 cm dan langkahnya 5 cm dengan 4 silinder, maka kapasitas mesinnya:

3.1416/4 * 102 * 5 * 4 = 1570 cm3 ≈ 1.6L (liter).

Regulasi pemerintah[sunting | sunting sumber]

Pengenaan pajak pada kendaraan biasanya didasarkan pada kapasitas mesin mobil tersebut daripada keluaran tenaga mesinnya. Kapasitas mesin ini adalah dasar dari sebuah desain mesin, sedangkan keluaran tenaga bisa bergantung pada beberapa faktor lainnya. Hal ini berakibat pada banyaknya pabrikan otomotif yang berkonsentrasi untuk meningkatkan tenaga mesin dengan berbagai teknologi seperti variable valve timing dan turbocharger.

Ada 4 macam metode utama yang mengatur emisi permobilan: Eropa, Inggris, Jepang, dan Amerika Serikat. Metode yang dipakai di beberapa negara Eropa adalah mengenakan pajak pada kendaraan di atas 1.0L (1000 cc) dan di level 1.6L (1600 cc). Di Inggris, sistem pengenaan pajaknya adalah emisi gas buang mulai tanggal 1 Maret 2001 (sebelumnya mereka memakai kapasitas mesin sebagai metode, mobil dengan mesin dibawah 1549 cc pajaknya lebih murah).[1]

Di Jepang metodenya mirip dengan Eropa (berdasarkan kapasitas mesinnya) ditambah dengan pajak bobot kendaraan.

Di Belanda[2] dan Swedia, pengenaan pajak dilihat dari bobot kendaraan. Tapi, Swedia mengubah peraturannya tahun 2008 menjadi pengenaan pajak didasarkan pada emisi karbon dioksida.

Kapasitas mesin juga digunakan untuk membedakan berbagai macam kategori motor. Di Perancis dan beberapa negara Eropa lainnya, motor di bawah 50 cm3 (disebut moped) dapat dikendarai dengan kualifikasi minimum. Hal ini menyebabkan banyak kapasitas mesin motor kecil ini berkisar 49.9 cm3.

Mesin Wankel biasanya mendapatkan pengenaan pajak lebih tinggi daripada mesin biasa meskipun kapasitas mesinnya kecil. Hal ini disebabkan karena meskipun kecil, tapi tenaga dan emisi yang dihasilkan cukup tinggi. Misalnya, mesin 13B 1.3L keluaran tenaganya bisa dibandingkan dengan Mesin V6 3.0L, dan mesin 20B 2.0L keluaran tenaganya sebanding dengan Mesin V8 4.0L.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ The Cost of Vehicle Tax for Cars, Motorcycles, Light Goods Vehicles and Trade Licences." Direct.gov.uk
  2. ^ Road tax also based on region and fuel type (petrol / CNG, LPG, Diesel, or other (electric/hybrid/H2))