Kabin bertekanan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kabin bertekanan digunakan dalam penerbangan dengan memompa udara bertekanan ke kabin pesawat terbang untuk menjaga kondisi lingkungan yang mana dan nyaman bagi Kru pesawat dan penumpang saat terbang di ketinggian.

Kebutuhan untuk kabin bertekanan[sunting | sunting sumber]

kabin Tekanan adalah hal penting pada ketinggian diatas 10.000 kaki (3,000 m) diatas permukaan laut untuk melindungi kru pesawat dan penumpang dari risiko beberapa masalah psikologis yang diakibatkan oleh tekanan udara yg rendah pada ketinggian tersebut, hal ini juga untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Masalah psikologis utama adalah sebagai berikut :

udara bertekanan juga dibutuhkan untuk ruang kargo utk mencegah barang yang sensitif terhadap tekanan sehingga bsia membuat barang tersebut bocor , melar , meledak atau hancur karena perbedaan tekanan.

Keringgian Kabin[sunting | sunting sumber]

Tekanan dalam kabin secara teknis disebut sebagai setara efektif ketinggian kabin (equivalent effective cabin altitude) atau biasa disebut cabin altitude saja adalah tekanan udara yang biasa diusahakan dalam sebuah pesawat yang terbang. Pesawat yang sedang terbang dengan ketinggian 40.000 kaki, tekanan di dalam kabin tidak akan disamakan dengan tekanan saat didarat dengan alasan untuk menjaga bdan pesawat dari batas tekanan yang diijinkan dan untuk memudahkan penyesuaian bila pesawat akan mendarat pada ketinggian diatas permukaan laut, biasanya tekanan dalam kabin dijaga untuk setara dengan tekanan di ketinggian 8000 kaki.

Ketinggian kabin yg umum , seperti pada Boeing 767, dijaga pada ketinggian 6.900 kaki (2,100 m) ketika terbang pada ketinggian 39.000 kaki (12,000 m).[1]. Kecenderungan untuk pesawat pesawat baru adalah membuat tekanan kabin lebih rendah, Airbus A380 bertekanan setara 5.000 kaki (1,500 m) ketika terbang pada ketinggian 43.000 kaki (13,000 m),[2][3] , sedangkan tekanan kabin terendah saat ini adalah Bombardier Global Express yang bertekanan setara 4.500 kaki (1,400 m) ketika terbang pada ketinggian 41.000 kaki (12,000 m).[4][5][6]. Menjaga tekanan kabin dibawah 8.000 kaki (2,400 m) secara umum akan menghindari hypoksia, mabuk udara, demam pengurangan tekanan, dan barotrauma.

Cara kerja penekanan kabin[sunting | sunting sumber]

Tekanan dicapai dengan mendesain kabin kedap udara dan memompakan udara kedalamnya dengan kompresor sehingga tekanan udara dalam kabin akan bertambah, untuk mengatur tekanan di dalam kabin maka diperlukan alat sistem pengontrol lingungan atau Environmental control system (ECS) yang melibatkan Keran pelepas tekanan dan berbagai sensor yang diatur secara elektronis.

Keluaran dan keran pelepas tekanan pada Boeing 737-800

Pengurangan tekanan yang tidak terencana[sunting | sunting sumber]

Pengaktifan topeng oksigen penumpang

Kehilangan tekanan dalam kabin secara tidak sengaja adalah hal yang jarang terjadi, tapi bila terjadi bisa mengakibatkan Kecelakaan fatal.

Setiap kegagalan pada tekanan kabin saat terbang diatas 10.000 kaki (3,000 m) diharuskan penurunan ketinggian secara darurat ke ketinggian 8.000 kaki (2,400 m) atau ketinggian terdekat yang diperbolehkan untuk tetap pada ketinggian yang aman (MSA), dan pengaktifan topeng oksigen untuk setiap kursi. Sistem oksigen mempunyai oksigen yang cukup untuk semua orang dipesawat dan memberi cukup waktu bagi pilot untuk turun ke ketinggian dibawah 8.000 kaki (2,400 m). Tanpa oksigen darurat Hypoksia akan mengakibatkan kehilangan kesadaran dan kehilangan kendali pesawat. Pada saat tekanan udara turun, suhu dalam kabin kemungkinan juga akan turun mengikuti suhu di luar pesawat dan menghadapkan orang di dalam pesawat dengan risiko bahaya hypothermia atau membeku.

Sejarah kabin bertekanan[sunting | sunting sumber]

Pesawat yang mengawali kabin bertekanan adalah :

  • USD-9A, sebuah Airco DH.9A yang dimodifikasi (1921 - pesawat pertama yang terbang dengan tambahan modul kokpit bertekanan)
  • Junkers Ju 49 (1931 - pesawat percobaan jerman utk menguji konsep dari kabin bertekanan)
  • Lockheed XC-35 (1937 - pesawat bertekanan amerika utk menguji konsep dari kabin bertekanan)
  • Boeing 307 (1938 - pesawat penumpang piston pertama bertekanan)
  • Lockheed Constellation (1943 - pesawat penumpang pertama yang operasional)
  • Avro Tudor (1946 - pesawat penumpang pertama Inggris yang bertekanan )
  • de Havilland Comet (Inggris, Comet 1 1949 - pesawat penumpang jet pertama, Comet 4 1958 - memecahkan masalah Comet 1)
  • Tupolev Tu-144 dan Concorde (Uni Sovyet 1968 dan Anglo-French 1969 - pertama yang operasi di ketinggian sangat tinggi / very high altitude)

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Commercial Airliner Environmental Control System: Engineering Aspects of Cabin Air Quality". Diarsipkan dari aslinya tanggal 2001-12-06. 
  2. ^ "Inside the A380". ArabianBusiness.com. Diakses 28 October 2007. 
  3. ^ "Global Aircraft - Airbus A380". Diakses 19 June 2009. 
  4. ^ "Bombardier's Stretching Range on Global Express Global Express XRS". Aero-News Network. October 7, 2003. 
  5. ^ "Bombardier Global Express XRS Factsheet". Bombardier. 2011. 
  6. ^ "Aircraft Environmental Control Systems". Carleton University. 2003. 

Referensi umum[sunting | sunting sumber]

  • Seymour L. Chapin (August 1966). "Garrett and Pressurized Flight: A Business Built on Thin Air". Pacific Historical Review 35: 329–43. 
  • Seymour L. Chapin (July 1971). "Patent Interferences and the History of Technology: A High-flying Example". Technology and Culture 12 (3): 414–46. doi:10.2307/3102997. JSTOR 3102997. 
  • Cornelisse, Diana G. Splended Vision, Unswerving Purpose; Developing Air Power for the United States Air Force During the First Century of Powered Flight. Wright-Patterson Air Force Base, Ohio: U.S. Air Force Publications, 2002. ISBN 0-16-067599-5. pp. 128–129.
  • Portions from the United States Naval Flight Surgeon's Manual
  • CNN: 121 Dead in Greek Air Crash
  • "Explosive Decompression" segment of MythBusters episode 10, January 11, 2004