Hagai 2

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Hagai 2 (disingkat Hag 2) adalah bagian terakhir dari Kitab Hagai dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Memuat Firman Allah yang disampaikan dengan perantaraan nabi Hagai.[1][2]

Teks[sunting | sunting sumber]

  • Naskah sumber utama: Masoretik, Septuaginta dan Naskah Laut Mati (terutama Wadi Murabba’at Minor Prophets (MurXII); 4Q77b (4QXIIb); and 4Q80e (4QXIIe))
  • Pasal ini terdiri dari 24 ayat.
  • Berisi ajakan untuk membangun kembali Bait Suci.

Waktu[sunting | sunting sumber]

  • Peristiwa yang dicatat di pasal ini terjadi pada tanggal 21 bulan ke-7 sampai tanggal 24 bulan ke-9 dalam tahun ke-2 pemerintahan Darius, raja Persia.[3] (~520 SM)

Struktur[sunting | sunting sumber]

Ayat 1[sunting | sunting sumber]

Pada hari yang kedua puluh empat dalam bulan yang keenam pada tahun yang kedua zaman raja Darius[4]

Ayat 2[sunting | sunting sumber]

Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal dua puluh satu bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya:[5]

Ayat 4[sunting | sunting sumber]

"Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?"[6]

Ketika Bait Suci pasca-pembangunan selesai dibangun, beberapa orang tawar hati dan kecewa karena beranggapan Bait Suci yang sekarang ini "tidak ada artinya" dibandingkan dengan kemegahan Bait Suci pertama yang dibangun Salomo. Demikian Allah membesarkan hati umat itu dengan tiga janji:

  • (1) Allah sendiri akan bersama-sama mereka untuk menggenapi semua janji dalam perjanjian-Nya (Hag 1:3; 2:5),
  • (2) Roh Allah akan berdiam di antara umat itu (Hag 2:6), dan
  • (3) kemegahan kemudian dari rumah Allah akan lebih besar daripada yang semula karena peragaan kekuatan kuasa-Nya yang lebih besar (ayat Hag 2:10; bd. pelayanan Yesus dan para rasul sebagaimana tercatat dalam Injil-Injil dan Kisah Para Rasul). Bukan keindahan bangunan gereja yang akhirnya akan menghasilkan buah bagi kerajaan Allah. Hal yang perlu sekali dalam jemaat ialah kehadiran Allah yang dinyatakan melalui Roh Kudus, karunia-karunia, pelayanan-pelayanan dan kuasa-Nya. Orang percaya harus bertanya pada diri sendiri: Sudahkah Roh Kudus dinyatakan secara luar biasa di dalam kumpulan-kumpulan kita, ataukah hanya sedikit atau sama sekali tidak ada bukti kehadiran dan kuasa-Nya di antara mereka?[7]

Ayat 19[sunting | sunting sumber]

"Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya--mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah"[8]

Bulan ke-9 dalam Kalender Ibrani adalah bulan Kislew yang jatuh pada bulan Desember dalam Kalender Gregorian.

Ayat 20[sunting | sunting sumber]

"Apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!"[9]

Ayat 24[sunting | sunting sumber]

"Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan mengambil engkau, hai Zerubabel bin Sealtiel, hamba-Ku --demikianlah firman TUHAN--dan akan menjadikan engkau seperti cincin meterai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman TUHAN semesta alam." [10]

Ketika tiba saatnya untuk Allah menggoncangkan langit dan bumi, Dia akan menjadikan Zerubabel bagaikan cincin meterai. Cincin ini merupakan tanda resmi kekuasaan tertinggi dan ikrar perkenan terhadap umat Allah. Hagai mungkin menubuatkan bahwa Yesus Kristus, sebagai keturunan Zerubabel (lihat Matius 1:12-13), "pada waktu itu" akan menjadi penguasa tertinggi yang akan memerintah secara mutlak dan universal.[7]

Penomoran ayat[sunting | sunting sumber]

Dalam Alkitab Indonesia, pasal ini terdiri dari 24 ayat, dimana ayat 1 adalah ayat ke-15 pasal 1 dalam Alkitab bahasa Inggris. Dalam Alkitab bahasa Inggris pasal ini terdiri dari 23 ayat, dimana ayat 1 bahasa Inggris sama dengan ayat 2 bahasa Indonesia dan seterusnya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 9794158151, 9789794158159
  2. ^ J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 9794153850, 9789794153857
  3. ^ Hagai 2:2, 11, 21
  4. ^ Dalam Alkitab bahasa Inggris: Hagai 1:15
  5. ^ Dalam Alkitab bahasa Inggris: Hagai 2:1
  6. ^ Dalam Alkitab bahasa Inggris: Hagai 2:3
  7. ^ a b The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  8. ^ Dalam Alkitab bahasa Inggris: Hagai 2:18
  9. ^ Dalam Alkitab bahasa Inggris: Hagai 2:19
  10. ^ Dalam Alkitab bahasa Inggris: Hagai 2:23

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]