Distokia pada sapi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Berbagai kesalahan posisi fetus yang dapat menyebabkan distokia

Distokia pada sapi adalah suatu keadaan dimana sapi mengalami kesulitan melahirkan. Kejadian distokia pada sapi diperkirakan sebesar 3,3%; kejadian ini lebih banyak pada ternak sapi perah dibandingkan pada sapi potong [1]

Faktor Penyebab[sunting | sunting sumber]

Kasus distokia umumnya terjadi pada induk yang baru pertama kali beranak, induk yang masa kebuntingannya jauh melebihi waktu normal, induk yang terlalu cepat dikawinkan, hewan yang kurang bergerak, kelahiran kembar dan penyakit pada rahim [1]. Distokia dapat disebabkan oleh faktor induk dan faktor anak (fetus) [1][2]. Aspek induk yang dapat mengakibatkan distokia diantaranya kegagalan untuk mengeluarkan fetus akibat gangguan pada rahim yaitu rahim sobek, luka atau terputar, gangguan pada abdomen (rongga perut) yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk merejan, tersumbatnya jalan kelahiran, dan ukuran panggul yang tidak memadai [1]. Aspek fetus yang dapat mengakibatkan distokia diantaranya defisiensi hormon (ACTH/cortisol), ukuran fetus yang terlalu besar, kelainan posisi fetus dalam rahim serta kematian fetus dalam rahim. Ukuran fetus yang terlalu besar dipengaruhi oleh berbagai faktor yang yaitu keturunan, faktor pejantan yang terlalu besar sedangkan induk kecil, lama kebuntingan, jenis kelamin fetus yaitu fetus jantan cenderung lebih besar, kebuntingan kembar [1]. Faktor nutrisi induk juga berperan, yakni pemberian pakan terlalu banyak dapat meningkatkan berat badan fetus dan timbunan lemak dalam rongga panggul yang dapat menurunkan efektifitas perejanan [2].

Terdapat tiga tahapan melahirkan sesuai yaitu pelebaran serviks(leher rahim) selama 2-6 jam, pengeluaran fetus 0.5-1 jam dan pengeluaran plasenta (selaput fetus) 4-5 jam [3]. Apabila proses kelahiran melebihi waktu 8 jam dari saat pertama kali seekor induk merejan untuk melahirkan dapat dikatakan sapi mengalami distokia [4].

Diagnosa[sunting | sunting sumber]

Diagnosa distokia harus mengetahui riwayat induk dan memperhatikan kondisi induk dan fetus [4]. Untuk menunjang diagnosa maka perlu dilakukan pemeriksaan melalui vagina untuk memastikan posisi fetus, ukuran dan derajat ruang panggul, derajat pembukaan serviks (leher rahim) [4]. Kelainan posisi fetus harus diperiksa dengan hati-hati serta perlu dilakukan tes refleks pada fetus untuk mengetahui hidup atau tidak [4]. Pada kejadian distokia, sapi merejan beberapa lama tetapi proses kelahiran tidak ada kemajuan. [5]

Terapi[sunting | sunting sumber]

Penanganan distokia yang dapat dilakukan yaitu [6].

  • Mutasi, mengembalikan presentasi, posisi dan postur fetus agar normal dengan cara didorong (ekspulsi), diputar (rotasi) dan ditarik (retraksi)
  • Penarikan paksa, apabila rahim lemah dan fetus tidak ikut bereaksi terhadap perejanan.
  • Pemotongan fetus (fetotomi), apabila presentasi, posisi dan postur fetus yang abnormal tidak bisa diatasi dengan mutasi/penarikan paksa dan keselamatan induk yang diutamakan.
  • Operasi Sesar (Sectio Caesaria), merupakan alternatif terakhir apabila semua cara tidak berhasil. Operasi ini dilakukan dengan pembedahan perut (laparotomi) dengan alat dan kondisi yang steril.

Mutasi dapat dilakukan melalui repulsi (pendorongan fetus keluar dari pelvis induk atau jalan kelahiran memasuki rongga perut dan rahim sehingga tersedia cukup ruangan untuk pembetulan posisi atau postur fetus dan ektremitasnya), rotasi (pemutaran tubuh pada sumbu panjangnya untuk membawa fetus pada posisi dorsosakral), versi (rotasi fetus pada poros transversalnya yaitu situs anterior atau posterior) dan pembentulan atau perentangan ekstremitas. [1].

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Manan, D (2002). Ilmu Kebidanan pada Ternak (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Proyek Peningkatan Penelitian Perguruan Tinggi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional. 
  2. ^ a b Jackson PGG (2004). Handbook of Veterinary Obstetric. Elsevier Saunders Company. 
  3. ^ Hafez, B; Hafez ESE (2000). Reproduction in Farm Animal (dalam bahasa English) (ed. 7). Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. 
  4. ^ a b c d Meredith MJ (2000). Animal Breeding and Infertility (dalam bahasa English). Australia: Blackwell Science Ltd. 
  5. ^ Operasi Caesar pada Sapi Perah
  6. ^ Ratnawati D, Pratiwi WC, Affandhy L (2007). Petunjuk Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi Pada Sapi Potong (PDF) (dalam bahasa Indonesia). Pasuruan: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Diakses 2010-04-10.