Cerita Panji

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Raden Panji Asmarabangun tengah mencari isterinya yang hilang, Dewi Sekartaji.

Cerita Panji ialah sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kadiri. Isinya adalah mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana). Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina).

Beberapa cerita rakyat seperti Keong Mas, Ande-ande Lumut, dan Golek Kencana juga merupakan turunan dari cerita ini. Karena terdapat banyak cerita yang saling berbeda namun saling berhubungan, cerita-cerita dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut "Lingkup Panji" (Panji cycle).

Lakon Panji[sunting | sunting sumber]

Cerita-cerita dalam Lingkup Panji banyak digunakan dalam berbagai pertunjukan tradisional. Di Jawa, Cerita Panji digunakan dalam pertunjukan Wayang Gedog. Di Bali, yang dikenal di sana sebagai "Malat", pertunjukan Arja juga memakai lakon ini. Kisah ini juga menjadi bagian tradisi dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan meskipun kini mulai kurang dikenal oleh masyarakat. Di Thailand terdapat seni pertunjukan klasik yang disebut "Inao" (Bahasa Thai:อิเหนา) yang berasal dari nama "Inu"/"Ino". Begitu pula Kamboja yang mengenal lakon ini sebagai "Eynao".

Nama Pelakon (Tokoh) dalam Cerita Panji[sunting | sunting sumber]

  1. Raden Inu (atau Ino atau Hino) Kertapati / Panji Asmara Bangun / Kuda (atau Cekel) Wanengpati
  2. Dewi Sekar Taji / Galuh Candra Kirana
  3. Panji Semirang / Kuda Narawangsa (Dewi Sekartaji dalam penyamaran)
  4. Klana Sewandana / Klana Tunjung Seta
  5. Ragil Kuning / Dewi Onengan
  6. Gunung Sari
  7. Panji Sinom Pradapa
  8. Panji Brajanata
  9. Panji Kartala
  10. Panji Handaga
  11. Panji Kalang
  12. Klana Jayapuspita
  13. Lembu Amiluhur
  14. Lembu Amijaya
  15. Wirun
  16. Kilisuci
  17. Resi Gatayu
  18. Bremanakanda
  19. Srengginimpuna
  20. Jayalengkara
  21. Panji Kuda Laleyan
  22. Sri Makurung
  23. Kebo Kenanga
  24. Jaka Sumilir
  25. Jatipitutur
  26. Pituturjati
  27. Ujungkelang
  28. Tumenggung Pakencanan
  29. Kudanawarsa
  30. Jaksa Negara
  31. Jaya Kacemba
  32. Jaya Badra
  33. Jaya Singa
  34. Danureja
  35. Sindureja
  36. Klana Maesa Jlamprang
  37. Klana Setubanda
  38. Sarag
  39. Sinjanglaga
  40. Retna Cindaga
  41. Surya Wisesa

Cerita Panji dalam Relief Candi[sunting | sunting sumber]

Lukisan Bali menggambarkan Pangeran Panji bertemu tiga orang perempuan di hutan.

Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Seringkali orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala (lebih mirip dengan blangkon gaya Solo/Surakarta). Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Pada beberapa relief atau arca ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang, atau ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau (sebagaimana yang dipahatkan pada Kepurbakalaan (Kep.) XXII/C.Gajah Mungkur Penanggungan) (Bernet Kempers 1959:325-6).

Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawarna, dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian Pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.

Lalu bagaimana penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji? W.F.Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panel relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978).

Penggambaran relif Panji Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan (1968:408). Pada panil digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk di hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti telces. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin (Poerbatjaraka 1968:408).

Penyebaran Cerita Panji[sunting | sunting sumber]

Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur klasik, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Ada yang telah membicarakannya dari segi kesusasteraannya (Cohen Stuart 1853), dari segi kisah yang mandiri (Roorda 1869), atau diperbandingkan dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal (Poerbatjaraka 1968), serta dari berbagai segi yang lainnya lagi'.

Menurut C.C.Berg (1928) masa penyebaran cerita Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam Bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg (1930) selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur, namun terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali'.

R.M.Ng. Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India). Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam zaman keemasan Majapahit (atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut) dan ditulis dalam Bahasa Jawa Tengahan (1968:408--9). Penyebarannya ke luar Jawa terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan.

Hubungan dengan Sejarah[sunting | sunting sumber]

Cerita di dalam lakon panji berhubungan dengan tokoh-tokoh nyata dalam sejarah Jawa (terutama Jawa Timur). Tokoh Panji Asmarabangun dihubungkan dengan Sri Kamesywara, raja yang memerintah Kediri sekitar tahun 1180 hingga 1190-an. Permaisuri raja ini memiliki nama Sri Kirana adalah puteri dari Jenggala, dan dihubungkan dengan tokoh Candra Kirana. Selain itu ada pula tokoh seperti Dewi Kilisuci yang konon adalah orang yang sama dengan Sanggramawijaya Tunggadewi, puteri mahkota Airlangga yang menolak untuk naik tahta.

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • CBaried, Siti Baroroh Dkk. 1987 Panji: Citra Pahlawan Nusantara. Jakarta: Depdibud.
  • Bernet Kempers, A.J. 1959 Ancient Indonesia Art, Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
  • Dumarqay, J. 1986 The Temples of Java. Singapore: Oxford University Press.
  • Galestin, Th.P. 1936 Houtbouw op Ost-Javaansche tempel-reliefs. Distertasi, Leiden.
  • Krom, N.J. 1923 Inleiding tot De Hindoe-Javaansche Kunst III. 's Gravenhage: Martinus Nijhoff.
  • Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1968 Tjerita Pandji dalam Perbandingan. Diterjemahkan oleh Zuber Usman, Djakarta: Gunung Agung.
  • Quaritch Wales, H.G. 1953 The Mountain of God: A Study in Early Religion and Kingship. London:
  • Romondt, V.R. van, Peninggalan-peninggalan Purbakala di Gunung Penanggungan. 1951 Djakarta: Dinas Purbakala Republik Insonesia.
  • oepomo, S. "Lord of The Mountains in The Fourteenth Century Kakawin", BKI. No. 128 hal 281--95. 1972
  • Stutterheim,W.F. ",Enkele Interessante t Reliefs van Oost-Java", Djawa, halaman 139--dst, 1935