Bendung Katulampa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
{{{box_caption}}}
{{{box_caption}}}
Bendung Katulampa saat kemarau Agustus 2013 (kiri) dan penghujan Januari 2014 (kanan).
Kegiatan masyarakat membersihkan Bendung Katulampa di kala surut

Bendung Katulampa adalah bangunan yang terdapat di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat. Bangunan ini di bangun pada tahun 1911 dengan tujuan sebagai peringatan dini atas air yang sedang mengalir ke Jakarta serta sarana irigasi lahan seluas 5.000 hektare yang terdapat pada sisi kanan dan kiri bendung.[1]. Pada saat musim hujan, bendung ini bisa dilewati air dengan rekor debit 630 ribu liter air per detik atau ketinggian 250 centimeter yang pernah terjadi pada tahun 1996, 2002, 2007, dan 2010. [2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sungai Katulampa sekitar tahun 1920-1930

Bendung Katulampa mulai dioperasikan pada tahun 1911, akan tetapi, pembangunannya sudah dimulai sejak 1889, sejak banjir besar melanda Jakarta pada 1872. Banjir saat itu dikabarkan membuat daerah elit Harmoni ikut terendam air luapan Ciliwung. Dari Katulampa, sebagian air Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke Kali Baru Timur, saluran irigasi yang dibangun pada waktu yang sama. Dari Bogor bagian timur, sungai buatan itu mengalir ke Jakarta, di sepanjang sisi Jalan raya Bogor, melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Air Kali Baru Timur dulu dipakai untuk mengairi sawah yang banyak terdapat di daerah antara Bogor dan Jakarta.

Sampai tahun 1990, areal persawahan di Bogor dan Jakarta masih banyak, yakni 2.414 hektare. Namun kini sawah hampir habis. Hanya Bogor dan Cibinong yang masih memiliki 72 hektare sawah, sementara Jakarta sama sekali habis. Sehingga fungsi irigasi Bendung Katulampa bisa dikatakan sudah berakhir akibat punahnya areal persawahan di Bogor dan Jakarta. [3]

Fungsi informasi dini banjir[sunting | sunting sumber]

Berbeda dengan pemahaman kebanyakan orang, Katulampa sebenarnya hanya sebuah sistem informasi dini terhadap bahaya banjir Sungai Ciliwung yang akan memasuki Jakarta. Data mengenai ketinggian air di bendung Katulampa ini memperkirakan bahwa sekitar 3 - 4 jam kemudian air akan sampai di daerah Depok. Selanjutnya di Bendung Depok ketinggian air dipantau dan dilaporkan ke Jakarta sehingga masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar aliran Sungai Ciliwung sudah dapat mengantisipasi sedini mungkin datangnya air banjir yang akan melewati daerah mereka.

Semua catatan ini lalu dilaporkan lewat telepon ke berbagai pihak yang berkepentingan. Mereka antara lain Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, pos pemantau ketinggian air Ciliwung di Depok, dan petugas Pintu Air Manggarai, dan Pemerintah Kota Bogor.

Kesalahpahaman mengenai fungsi[sunting | sunting sumber]

Katulampa tidak memiliki kemampuan menahan dan membuka-tutup pintu air yang rentan disalahpahami dan menimbulkan kepanikan.[4] Saat banjir Jakarta 2013, beberapa kabar burung beredar mengenai pembukaan pintu air Katulampa karena kelebihan kapasitas yang langsung dibantah dengan keras oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. [5]

Kerusakan Fasilitas Pemantau[sunting | sunting sumber]

Awalnya telah dibangun sistem pemantauan kondisi Bendung Katulampa melalui pesan singkat di telepon genggam, sehingga masyarakat bisa memperoleh informasi mengenai Katulampa dengan cepat. Namun sistem ini mengalami kerusakan selama Banjir Jakarta 2013. Hal ini diperparah lagi dengan rusaknya fasilitas CCTV sehingga harus dilakukan pengamatan pandangan mata langsung untuk bisa mengetahui ketinggian air. [6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Referensi Lainnya[sunting | sunting sumber]

  • Ekspedisi Ciliwung, Laporan Jurnalistik Kompas, Mata Air, Air Mata, Penerbit Buku Kompas, Juni 2009.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]