Wirjono Prodjodikoro
Wirjono Prodjodikoro | |
|---|---|
![]() Potret Wirjono sebagai Ketua Mahkamah Agung | |
| Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia ke-2 | |
| Masa jabatan 13 Oktober 1952 – 3 Oktober 1966 | |
| Ditunjuk oleh | Soekarno |
| Hakim Mahkamah Agung Republik Indonesia | |
| Masa jabatan 15 Maret 1950 – 13 Oktober 1952 | |
| Ditunjuk oleh | Soekarno |
| Menteri Kehakiman | |
| Masa jabatan 13 November 1963 – 9 Desember 1963 | |
| Presiden | Soekarno |
| Masa jabatan 18 Maret 1966 – 25 Juli 1966 | |
| Presiden | Soekarno |
| Menteri Koordinator Kompartimen Hukum dan Dalam Negeri ke-1 | |
| Masa jabatan 13 November 1963 – 21 Februari 1966 | |
| Presiden | Soekarno |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 15 Juni 1903 Surakarta, Hindia Belanda |
| Meninggal | April 1985 (umur 82) Jakarta, Indonesia |
| Pekerjaan | hakim |

Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, S.H. menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia pada periode 1952–1966. Pengangkatannya dilakukan oleh Presiden setelah melalui proses pencalonan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Pada masa ini, hubungan antara Mahkamah Agung dan eksekutif menunjukkan pola subordinatif yang cukup menonjol. Salah satu indikatornya adalah masuknya lembaga peradilan tertinggi tersebut ke dalam struktur Kabinet Dwikora I yang berlangsung dari Agustus 1964 hingga Februari 1966. Dalam kabinet tersebut, Wirjono menduduki posisi sebagai Menteri Koordinator untuk Kompartimen Hukum dan Dalam Negeri.
Selama masa kepemimpinan Wirjono, lahir Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Regulasi ini semakin mempertegas posisi Mahkamah Agung dalam kerangka subordinasi terhadap kekuasaan eksekutif. Pasal 19 undang-undang tersebut memuat ketentuan bahwa, demi kepentingan revolusi, kehormatan negara dan bangsa, atau kepentingan masyarakat yang sangat mendesak, Presiden Republik Indonesia dapat melakukan campur tangan dalam perkara pengadilan.
Kendatipun berada dalam tekanan yang kuat dari cabang kekuasaan eksekutif dan legislatif, Ketua Mahkamah Agung pada era Orde Lama dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi integritas, khususnya dalam hal pemberantasan korupsi. Reputasi ini tercatat masih bertahan hingga dekade 1970-an.[1]
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Sebastiaan Pompe, The Indonesian Supreme Court: A Study of Institusional Collapse
| Jabatan peradilan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Kusumah Atmadja |
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia 1952–1966 |
Diteruskan oleh: Soerjadi |
| Jabatan politik | ||
| Didahului oleh: Astrawinata |
Menteri Kehakiman Indonesia 1966 |
Diteruskan oleh: Oemar Seno Adji |
| Didahului oleh: Tidak ada |
Menteri Koordinator Hukum dan Dalam Negeri Indonesia 1963–1966 |
Diteruskan oleh: Sartono |




