Suronggotho

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Ilustrasi Suronggoto dan Dewi Wiji

Suronggotho[1] merupakan legenda seorang dari masa kasunanan yang berkembang di sekitar Bangsri dan Mlonggo. Ia diceritakan sebagai orang yang memiliki kesaktian dan ambisinya untuk mempersunting wanita yang disukai berani mengorbankan apa saja. Ceritanya kemudian dihubungkan dengan pemberian nama desa tertentu dan dengan binatang yang dinamai Yuyu Gotho serta dikaitkan dengan Ula Lempe.

Bertemu Dewi Wiji[sunting | sunting sumber]

Dahulu kala ketika Agama Islam mulai disiarkan oleh para wali sanga, dan dilanjutkan oleh para santrinya, tersebarlah Islam sampai ke wilayah Utara Pulau Jawa, termasuk di wilayah kita Jepara. Sunan Muria punya banyak santri yang mumpuni dan handal. Tidak hanya mumpuni dalam hal-hal keagamaan saja, bahkan sampai olah kanuragan dan kekebalan tubuhpun mereka punya. Termasuk Ki Gede Bangsri, Ki Banjar, Ki Jenggot dan juga Ki Sura Gotho yang berasal dari wilayah Jepara sebelah Utara. Mereka hidup rukun saling mengunjungi,tolong menolong dan bekerja sama dalam berdakwah agama. Seperti yang lain Sura Gotho juga bersilaturrahmi ke rumah saudaranya Ki Gede Bangsri. Namun hari itu sial karena Ki gedhe Bangsri sedang tidak ada di rumah, agaknya sedang bepergian dengan isterinya. Yang ada di rumah hanyalah anak putrinya yang sudah beranjak dewasa dan juga sangat cantik bernama Dewi Wiji.

Sebagai anak yang dididik taat beragama, Dewi Wiji menaruh hormat kepada Ki Sura Gotho, sebagai tamu ayahnya. Disuguh minuman makanan seadanya dengan penuh sopan santun, dan muka yang ramah. Namun perlakuan seperti itu ditanggapi lain oleh Ki Sura Gotho. Dia terkesima melihat kecantikan dan kelembutan tingkah laku Dewi Wiji. Mata dan hatinya sudah mulai dirasuki nafsu setan. Dia tidak mengira kalau Ki Gede Bangsri punya anak secantik Dewi Wiji. Sifat dan perangai Sura Gotho memang banyak yang berlawanan dengan santri-santri Sunan Muria yang lain. Dia sering melanggar aturan aturan yang berlaku di pesantren. Sifat dan kebiasaan itu masih terbawa sampai dia keluar dari pesantren Muria. Dan kali ini dia dihadapkan dengan kecantikan Dewi Wiji yang sangat menggoda hati lelakinya. Maka dengan tanpa basa - basi dia meminta kesediaan Dewi Wiji untuk dipersunting menjadi isterinya.

Betapa takut dan risau hati Dewi Wiji setelah mendengar permintaan Ki Sura Gotho, yang dianggap sebagai pamannya sendiri itu. Pasti dia tolak dengan kalimat yang halus. Namun Ki Sura Gotho tetap memaksa kesediaan Dewi Wiji untuk mengabulkan permintaan itu.Semakin dia tolak semakin keras Ki Sura Gotho memaksakan kehendaknya. Bujuk rayu dan iming-iming berupa harta dan perhiasan tidak bisa meluluhkan hati Dewi Wiji. Untuk meredakan suasana yang gawat itu Dewi Wiji minta izin pura-pura ke dapur untuk mengambilkan minuman. Namun sebenarnya dengan sembunyi-sembunyi dia menyelinap kabur dari rumah, lari kearah Timur melalui pekarangan dan semak belukar. Kala itu memang rumah penduduk masih jarang, sehingga agak jauh ia berlari baru menemukan sebuah rumah. Rumah itu milik tukang celup pakaian. Kebanyakan orang menyebut tukang wedel. Karena tidak ada tempat perlindungan lain maka Dewi Wiji minta izin untuk bersembunyi di situ untuk beberapa saat dari kejaran Ki Sura Gotho.

Bukan Ki Sura Gotho kalau mudah ditipu seperti itu.Dia sudah melihat gelagat dari raut muka Dewi Wiji yang akan melarikan diri. Dengan tenang dia amati ke mana arah larinya Dewi Wiji. Dia berpikir semakin jauh dari rumahnya maka kehendaknya semakin mudah terlaksana. Karena dia yakin pasti bisa menangkapnya, seberapa jauh larinya seorang perempuan. Setelah sampai di rumah tukang wedel, Sura Gotho mendobrak pintunya. Sekali saja ambrol dan keluarlah si tuan rumah dengan marah-marah. Sebagai seorang yang dimintai perlindungan maka tukang wedel tidak mengaku kalau menyembunyikan Dewi Wiji di rumahnya. Perang mulutpun terjadi dan akhirnya berkelanjutan perang yang sesungguhnya. Perang yang tidak seimbang. Tukang Wedel gugur membela kebenaran. Sampai sekarang desa itu disebut Desa Wedelan.

Ketika Ki Suro Gotho sedang berselisih dengan Tukang Wedel, yang menurut Dewi Wiji, Tukang Wedel tidak mampu memberikan perlindungan maka dia melarikan diri ke arah timur. Sampailah dia di rumah Ki Banjar, dan Dewi Wiji meminta perlindungan kepada Ki Banjar. Sementara Ki Suro Gotho masih terus mengejar Dewi Miji. Dan Ki Suro Gotho pun sampai ke rumah Ki Banjar. Karena Ki Banjar ingin melindungi anak dari kakak seperguruannya maka terjadilah perkelahian hebat antara Ki Banjar dan Ki Suro Gotho. Ki Banjar pun mengalami kekalah, sehingga daerah sekitar tinggal Ki Banjar diberinama Desa Banjaran.

Ketika perselisihan terjadi,Dewi Wiji sudah tidak ada harapan lagi untuk selamat. Tetapi manusia beragama tidak boleh putus asa. Dewi Wiji terus berlari dan terus berlari. Melalui sawah menyeberang sungai,hutan rimba dan semak yang berduri. Akhirnya bertemu dengan perempuan setengah baya penjual kembang kanthil. Dia menceritakan pelariannya dari kejaran Ki Sura Gotho. Maka secepatnya Dewi wiji disembunyikan di sebuah tempat yang aman. Sementara Dewi Wiji merasa tenang. Namun apa dikata, Penjual kembang adalah seorang perempuan biasa. Sekuat dan seteguh apapun kekuatan seorang wanita pasti tidak kuat siksaan dan penganiayaan Ki Sura Gotho. Akhirnya terpaksa menunjukkan tempat persembunyian Dewi Wiji. Dasar Ki Sura Gotho yang sudah mata gelap membabi buta, penjual kembang yang sudah mau menunjukkan tempat persembunyian Dewi wiji pun dibunuh dengan sadisnya. Penjual Kembang gugur sebagai pembela kebenaran. Sampai sekarang desa tempat terjadinya peristiwa itu disebut desa Kembang yang sekarang menjadi sebuah Kecamatan.

Dewi Wiji memang wanita yang gigih memegang pendirian, dia wanita yang tidah mudah putus asa. Ketika Ki Sura Gotho mencium jejak persembunyiannya dia sudah melarikan diri. Setelah melalui beberapa rintangan dan hambatan sampailah dia di rumah seseorang yang dituju yaitu Ki Ageng Jenggot. Tokoh ini masih kerabat dan juga saudara seperguruan dengan ayahnya, Ki Gede Bangsri. Artinya juga saudara seperguruan dengan Ki Sura Gotho. Kepada orang inilah Dewi Wiji yakin dan percaya pasti bisa mengalahkan dan menyadarkan Ki Sura Gotho dari kemungkarannya. Dewi Wiji bisa bernapas lega, dia dipersilakan istirahat di pesanggrahan belakang biarlah nanti ki Ageng Jnggot yang menghadapi segala permasalahan. Tidak lama dari kedatangan Dewi Wiji, Sura Gotho pun datang. Ki Ageng Jenggot tidak berbasa-basi lagi. Dia katakan terus terang bahwa Dewi Wiji keponakannya ada di sini. Dia meminta Ki Sura Gotho untuk mengurungkan niatnya. Karena hal itu tabu dan tidak pantas dilakukan. Masih banyak pesan dan nasihat Ki Ageng Jenggot kepada Ki Sura Gotho. Layaknya seorang kakak menasehati adiknya.

Namun bagaimana tanggapan Ki Sura Gotho? Hati dan pikirannya sudah tertutup rapat dengan segala nasihat. Tanpa punya rasa segan dan malu kepada saudara tuanya dia tetap nekad ingin memperisteri Dewi Wiji. Boleh atau tidak Dewi Wiji akan diminta. Maka terjadilah perdebatan sengit dan selanjutnya bisa ditebak yaitu adu kekuatan. Dengan senyum pahit terpaksa Ki Ageng Jenggot melayani tantangan Sura Gotho. Setelah berlangsung beberapa jurus Sura Gotho terdesak dan dapat dirobohkan oleh Ki Ageng Jenggot. Memang ilmu kanuragan yang dipunyai, setingkat di atas kemampuan Ki Sura Gotho. Sura Gotho menyerah. Menyerahnya Sura Gotho ternyata hanya tipu daya seorang pecundang yang penuh dengan kelicikan. Ketika dilepas dari cengkeraman tangan Ki Ageng Jenggot dia mengambil sebuah benda dari balik ikat pinggangnya. Setelah ditunjukkan terkejutlah Ki Ageng Jenggot. Ternyata yang ditunjukkan adalah benda sejenis gada kuningan. Itu adalah pusaka andalan kasunanan Muria yang disebut Guling Muria. Ampuhnya luar biasa. Dan tanpa membuang kesempatan dipukulkanlah senjata itu tepat di tengah kepala Ki Ageng Jenggot. Seketika itu juga Ki Ageng Jenggot gugur membela kebenaran. Sampai sekarang desa tempat kejadian tersebut terkenal dengan nama desa Jenggotan.

Dengan gugurnya Ki Ageng Jenggot, maka sudah tidak ada rintangan lagi. Dengan paksa Dewi Wiji digelandang dibawa lari oleh Ki Sura Gotho ke tempat tinggalnya Mandalika. Tidak diceritakan selama dalam perjalanan. Berita tentang diculiknya Dewi Wiji telah terdengar oleh Ki Gedhe Bangsri, yang ternyata sedang sowan di kasunanan Muria. Kanjeng Sunan Muria yang waktu itu sedang menerima tamu istimewa dari negeri Tiongkok merasa prihatin atas musibah itu. Ternyata hilangnya Pusaka Kasunanan yang disebut Guling Muria dicuri oleh Ki Sura Gotho si angkara murka.

Siapa tamu istimewa dari Tiongkok itu? Dia adalah Sam Pho Kong yang terkenal dalam sejarah. Dia mau berguru tentang Islam kepada Sunan Muria. Untuk imbalannya Sam Pho Kong bisa memberikan jalan keluar untuk mengatasi Sura Gotho. Sura Gotho harus mati karena sangat membahayakan bagi ketenteraman orang lain dengan pusaka ampuh di tangannya. Kepada Ki Gede Bangsri diberikanlah sebotol kecil serbuk racun yang sangat mujarab. Entah bagaimana caranya serbuk racun itu bisa terminum oleh Ki Sura Gotho. Maka tidak menunggu waktu Ki Gede Bangsri secepatnya minta pamit.

Menjadi Yuyu Gotho[sunting | sunting sumber]

Setelah Dewi Wiji ada dibawah cengkeramannya Sura Gotho tidak segera pulang ke Mandalika. Dia merayakan kemenangannya dengan bersenang-senang bersama kawan-kawanya di pantai Metawar. Karena teriknya panas maka Ki Sura Gotho kehausan. Dia membeli dawet. Kebetulan di sekitar pantai ada penjual dawet. Konon setelah puas meminum dawet terasa panas sekujur tubuhnya. Ternyata racun Sam Pho Kong telah berhasil diselundupkan melalui telik sandi yang ditugaskan membawanya. Karena tidak tahan menahan panasnya racun yang merasuk ke tubuhnya Sura Gotho berguling-guling kian kemari lalu menceburkan diri ke dalam laut. Dan terjadilah keajaiban. Tubuh Ki Sura Gotho seketika berubah menjadi Yuyu Gotho yaitu kepiting raksasa yang berbulu lebat. Ia bersumpah kalau Dewi Wiji tidak dikorbankan maka rakyat Bangsri akan dihancurkan.

Menjadi Ular Lempe[sunting | sunting sumber]

Ki Ageng Bangsri minta pertimbangan kepada Sunan Muria. Setelah itu Sunan Muria menyarankan putri Ki Ageng Bangsri, Dewi Wiji dikorbankan. Mendengar ancaman mengerikan itu Dewi Wiji yang sudah hancur luluh hatinya merelakan tubuhnya sebagai tumbal keangkaramurkaan Ki Sura Gotho. Dia ikhlas berkorban demi keselamatan rakyat Bangsri yang tidak berdosa. Tanpa ragu-ragu Dewi Wiji menceburkan diri ke dalam laut. Keajaibanpun terjadi. Seketika itu tubuh Dewi Wiji berubah menjadi Ula Lempe.

Penawar Racun[sunting | sunting sumber]

Sampai sekarang terdapat cerita rakyat jika ada orang digigit ula lempe obatnya yuyu gotho ditumbuk lembut dioleskan, sebaliknya jika digigit yuyu gotho maka obatnya darah ula lempe. Ula lempe dilaut ukurannya kecil banyak terdapat di sekitar pulau Mandalika. Ular tersebut kecil sebesar kelingking bisa menggigit. Yuyu Gotho yang ada dilaut tetapi berbulu dan warnanya hitam dan yuyu tersebut beracun. Yuyu ini beracun dan dijadikan bubuk kopi yang dapat digunakan untuk meracun orang. Racun yuyu ini sangat ganas. Jika bubuk kopi diletakkan dibawah gelas saja dapat meracuni air di dalam gelasnya.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]