Santoso

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Abu Wardah Santoso
Santoso (Abu Wardah).jpg
Nama asalالشيخ أبو وردة
Lahir(1976-08-21)21 Agustus 1976
Tentena, Sulawesi Tengah, Indonesia
Meninggal18 Juli 2016(2016-07-18) (umur 39)
Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Nama lainAbu Wardah, Abu Wardah as-Syarqi, Abu Yahya
OrganisasiMujahidin Indonesia Timur
Negara Islam Irak dan Syam
Dikenal atasTerorisme, Pengeboman
GelarPemimpin Mujahidin Indonesia Timur
PendahuluPosisi dibuat
Lawan politikKepolisian Negara Republik Indonesia
Tentara Nasional Indonesia

Santoso, juga dikenal dengan nama Abu Wardah atau Syekh Abu Wardah (Arab: الشيخ أبو وردة‎; lahir di Tentena, Indonesia, 21 Agustus 1976 – meninggal di Tambarana, Indonesia, 18 Juli 2016 pada umur 39 tahun), adalah seorang militan Islam Indonesia dan pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Ia adalah teroris yang paling dicari di Indonesia.[1] Ia telah bersumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Syam (NIIS/ISIS). Santoso sempat bersembunyi di hutan belantara Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Pada tanggal 18 Juli 2016, ia tewas dalam kontak tembak dengan petugas Satgas Operasi Tinombala.

Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Santoso lahir pada tanggal 21 Agustus 1976 di Tentena, Sulawesi Tengah, Indonesia. Tentena berjarak sekitar 7 jam dengan bus dari ibu kota Sulawesi Tengah, Palu. Kota kecil yang banyak dihuni oleh penduduk Kristen ini, terletak di pesisir utara Danau Poso. Tentena memiliki sejarah konflik masa lalu dengan desa Islam di sekelilingnya.[butuh rujukan]

Santoso memiliki dua orang istri. Istri pertamanya bernama Suriani, alias Umi Wardah. Ia tinggal di Kalora, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah. Istri keduanya berasal dari Kota Bima. Ia adalah janda dari seorang anggota Mujahidin yang tewas dalam kontak tembak dengan TNI Angkatan Darat.[2]

Keterlibatan dalam terorisme[sunting | sunting sumber]

Ia berpartisipasi dalam pelatihan militer ilegal pada 2001. Ia terlibat dalam jihad selama konflik antar agama antara kelompok Kristen dan Muslim di Poso dari 1998 hingga 2001. Ia diketahui terinspirasi dari Abu Bakar Ba'asyir. Beberapa laporan mengatakan bahwa ia belajar Islam dari Pondok Pesantren Al Mu'min di Kecamatan Ngruki, Surakarta, Jawa Tengah.

Berdasarkan wawancara dengan Andi Baso Tahir, teman lama Santoso di desa Tokorondo, pada tahun 2006 Santoso sempat dipenjara karena mencuri muatan mobil boks di kota Poso. Ia kemudian dipenjara selama setahun. Setelah bebas dari penjara, Santoso berhenti mengikuti kegiatan militer untuk beberapa waktu dan menjadi pedagang, dengan menjual parang, peralatan masak dan pakaian.

Teman yang sama pernah mengizinkan ia tinggal di rumahnya di desa Masani, di pesisir Poso, pada 2012, yang membuat Santoso menjadi seorang pembaca Al Qur'an.[2]

Mujahidin Indonesia Timur[sunting | sunting sumber]

Tidak lama kemudian Santoso pergi ke Tamanjeka, dan bertemu dengan Bado, alias Urwah. Keduanya terlibat dalam pembunuhan dua bintara polisi di Tamanjeka pada November 2012. Tubuh dari Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman ditemukan di sebuah lubang lumpur dengan kondisi tenggorokan mereka dipenggal. 300 personel Polri dan TNI dari Gunung Biru di Tamanjeka ditarik mundur setelah gagal menemukan Santoso.[3]

Pada 10 Juli 2013, telah dilaporkan bahwa Santoso muncul dalam sebuah video berdurasi enam menit yang di unggah ke YouTube. Ia mendeskripsikan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Pasukan Khusus anti-teror Kepolisian Indonesia, sebagai "musuh sebenarnya, dan Setan yang sesungguhnya". "Saudaraku di Poso, Saya telah merasakan betapa kejamnya Densus 88 terhadap orang-orang lemah," dan "Hari ini, Allah yang Mahakuasa telah menentukan bahwa jihad akan terus dilanjutkan hingga hari penghakiman", katanya di video tersebut.[4][5]

Negara Islam Irak dan Syam[sunting | sunting sumber]

Santoso bersumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Syam pada Juli 2014. Berdasarkan laporan dari BBC, Bahrum Naim dikatakan adalah penghubung antara Mujahidin Indonesia Timur dan ISIS.[6]

Upaya penangkapan[sunting | sunting sumber]

Sanksi Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Pada 22 Maret 2016, menyusul sumpah setia yang dilakukannya kepada ISIS, Santoso dikenakan sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat. Sanksi ini secara garis besar adalah membekukan semua aset yang dimiliki atau yang berhubungan dengan Santoso.[7]

Pemburuan[sunting | sunting sumber]

The Jakarta Post melaporkan pada 25 Maret 2016 bahwa, "setidaknya terdapat 2,500 personal Polri dan TNI yang telah diturunkan sejak Januari, untuk menangkap Santoso dan sekitar 34 orang pengikutnya".[2]

Pada 23 Juni 2016, Muhamad Nasir, mantan pemimpin Mantiqi III, meminta Santoso untuk menyerahkan diri. "Sudah cukup Santoso, turunlah, lebih baik kamu menyerahkan diri, lihatlah keadaan keluargamu. Tidak ada lagi yang harus kau lakukan", katanya.[8]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Januari 2016, terdapat spekulasi bahwa Santoso kemungkinan telah tewas terbunuh setelah sebuah foto jenazah yang mirip dirinya beredar luas. Juru bicara Polri, Suharsono mengatakan bahwa jenazah tersebut bukan Santoso.[9]

Pada tanggal 18 Juli 2016, Santoso tewas dalam kontak tembak dengan petugas Satgas Operasi Tinombala Polri dan TNI, bersama dengan seorang pengikutnya yang juga tewas dalam kontak tersebut, Mukhtar.[10][11][12]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "'Ini sosok Santoso, Teroris Paling Dicari di Indonesia". Merdeka.com. Diakses tanggal 2015-05-10. 
  2. ^ a b c "'Teroris yang paling dicari, Santoso'". The Jakarta Post. Diakses tanggal 2016-07-20. 
  3. ^ "Pasukan Keamanan Indonesia Mempersiapkan Penyerbuan di Poso Pegunungan Tamanjeka". Berita Satu. Diakses tanggal 2016-07-20. 
  4. ^ "Indonesia's 'most wanted' militant urges jihad". Fox News. Diakses tanggal 10 May 2015. 
  5. ^ "'Jihad hingga Akhir' Seruan Militan Indonesia Abu Wardah". NewsComAu. Diakses tanggal 10 May 2015. 
  6. ^ "Jakarta attacks: Profile of suspect Bahrun Naim". BBC UK. Diakses tanggal 2016-07-20. 
  7. ^ "Specially Designated Nationals List Update". 22 March 2016. Diakses tanggal 17 July 2016. 
  8. ^ "Former JI Leader Urges Santoso to Turn Himself In". Tempo. Diakses tanggal 2016-07-20. 
  9. ^ "Indonesia's Most Wanted Terrorist Santoso May Have Been Killed by Police". Strait Times. Diakses tanggal 2016-07-20. 
  10. ^ "Indonesian Forces Kill Militants Suspect that Most Wanted Man Santoso is Among Them". Strait Times. Diakses tanggal 2016-07-20. 
  11. ^ "Government Still Confirming the Dead Body is Santoso". The Jakarta Post. Diakses tanggal 2016-07-2-20. 
  12. ^ "Santoso, Teroris yang paling diinginkan, Diduga Tewas". Business Standard. Diakses tanggal 2016-07-20. 

Sumber[sunting | sunting sumber]